
^^^13-Juli-2012^^^
^^^Myhouse^^^
👑Aku memasuki rumah yang minimalis tetapi terkesan megah.
Aku pulang lebih awal dari kemarin karena hari ini jum'at yang memang seluruh sekolah memerintahkan muridnya pulang lebih cepat dari hari hari yang lain, kecuali pesantren (bukan ponpes) yang diliburkan. Keadaan Ruangan tampak sunyi tak ada keributan yang terjadi tetapi dalam hitungan beberapa menit.
Terdengar suara gaduh barang barang yang jatuh dan diikuti dengan..
"Aduhh... Rian jangan nendang-nendang dong!!" suara teriakan anak lelaki yang memekakan telinga membuatku menghentikkan diri di anak tangga pertama. Tak berselang lama teriakan itu kembali terdengar.
"Aush..aaushh sakit... Mama!!! Mama!! Rian narik rambut abang Ma!!!" Adu nya dengan meneriakan kata mama.
Segera ku lempar tasku ke sofa dan Ku percepat langkahku menaiki tangga takut terjadi sesuatu pada mereka di atas sana. Suara gaduh dalam ruangan terdengar sangat jelas semakin membuat jantungku berdetak begitu cepat.
Aku sudah berada di depan ruangan yang tertutup. Segera kutarik ganggang pintu dan masuk kedalam dengan tergesa gesa.
Kamarku sangat berantakan ibarat pasar bukan lagi kapal pecah. Di lantai terdapat nasi yang sudah hancur atau lebih tepatnya bubur yang lengket berserakan di mana mana. Mangkok yang terbalik, sendok yang berada di atas tumpukkan buku belajarku, bantal yang berserakan di mana mana.
Aku menarik nafas sejenak sebelum memulai perkelahian. Alangkah baiknya menyiapkan mental dan tenaga untuk membuat pertengkaran jauh lebih seru dan menegangkan.
"Siapa yang berantakin kamar kakak?" Teriakku dan mendekati mereka, yang mana anak lelaki berusia delapan tahun terduduk di atas lantai dengan baju yang lengket karena bubur. Sedangkan di kasur seorang anak balita berumur dua tahun duduk sambil menatapku dengan mata yang berkaca kaca. Aku jadi tidak tega ingin memarahinya.
"Bukan aku kak tapi Rian," tunjuknya kearah balita yang masih menatapku dengan sorot ketakutan. Aku jadi tidak percaya jika dia yang melakukannya.
"Bohong," ujarku dan mencubit pipi adik ku yang umurnya agak lebih muda empat tahun dariku. Sedangkan adik ku yang masih sangat kecil tertawa saat melihat ku menyiksa pipi gembul kakaknya.
"Kak sakiiitt..," teriaknya dan berusaha melepaskan cubitanku di pipinya.
Akupun menurunkan tanganku dan berjalan ke arah balita yang masih tertawa dengan posisi duduk, tangan yang memegang telapak kaki. Ku angkat tubuhnya dan mendudukan di pangkuanku.
Adikku yang satunya hanya memberenggut. Perlakuanku kepada mereka memang berbeda. Karena aku lebih suka mencubit pipi gembul nya sedangkan adikku yang satunya, aku tidak tega untuk mencubitnya jadi ku cium saja hehehe.
"Kakak pilih kasih," ucapnya dan pergi meninggalkan kamarku. Ngambekkan.
Tidak terlalu ku pedulikan. Mata ku hanya fokus kearah anak kecil yang terus menatapku dengan bola mata coklatnya.
"Bang Maheer kayaknya lagi ngambek deh. Kamu sih berantakin kamar kakak," ku cium pipinya yang berwarna putih, seputih salju.
Bibirnya yang sedari tadi tersenyum kini terturun ke bawa. Mengisyaratkan bahwa ia akan menangis dan berteriak.
"Ehh cup cup. Kakak cuman bercanda. Ngak boleh baper ok," Bujukku sambil mencium pipinya beberapa kali dan beruntungnya ia menarik seulas senyuman seakan mengerti apa yang aku ucapkan.
__ADS_1
Ku mainkan jarinya yang memegang telapak tanganku. Begitu mungil dan kulitnya berwarna putih sama seperti wajahnya. Di sandingkan dengan tangan ku yang berwarna sawo matang sangatlah kontras.
Rian mulai menguap dan bersandar di dadaku. Ia sudah tertidur. Kakinya yang tadi duduk bersila kini lurus ke depan. Ku perbaiki tidurnya dan meletakkan kepalanya di atas bantal.
Aku mengganti baju di dalam walk in closet terlebih dahulu. Selepas itu ku bersihkan kamarku. Seharusnya sekarang aku makan siang tetapi melihat keadaan sekitar membuatku harus menundanya. Aku mengambil tissue di meja belajarku untuk mengelap bubur yang berserakan. Ku hapus jejak bubur di atas sampul bukuku karena sendok itu terdapat sedikit bubur. Aku mengambil semua bantal yang terjatuh di lantai dan menaikannya di kasur samping Rian.
Mangkok yang terbalik segera ku ambil dan membawanya turun ke wastafel. Ketika memasuki dapur kulihat Maheer duduk diatas pantry sambil membaca buku yang menghalangi wajahnya.
Tidak ku pedulikan. Aku ingin menyimpan mangkok di wastafel yang tepat berada di sampingnya. Maheer masih belum mengetahui kebaradaanku, sehingga memunculkan ide dalam otakku, ku simpan mangkok dengan kasar sehingga menimbulkan suara. Maheer nampak menatapku sekilas kemudian kembali membaca bukunya. Pura pura tidak memperdulikanku rupanya, okelah.
"Mama mana?" Tanyaku dan duduk di sebelahnya.
Maheer terlihat risih dan turun dari pantry. Aku merasa tersinggung dan memelototi punggungnya yang berjalan keluar dari dapur. Benar benar tidak sopan.
"Aku tidak pernah mengajari ia menjadi pendendam," gumamku.
"Heyy di mana Rian?" Tanya seseorang yang menyadarkan lamunanku. Ternyata mama, terlihat baju gamis serta hijab berwarna hitamnya kusut karena menenteng banyak kantong plastik.
"Ada tuh di atas Ma, lagi tidur di kamarku," jawabku lalu turun dari pantry untuk mencium tangan mamaku. Ketika sudah salim mama meletakkan kantong besar berwarna merah di atas pantry dan mengeluarkan satu persatu isinya.
"Mama dari mana aja sih?" Tanyaku.
"Anterin papa, tadi Maheer diajak Papa shalat jum'at di masjid tetapi ngak mau makanya mama suruh jagain Rian aja.....Maheernya sekarang udah males shalat, nah In syaa Allah papa bakal kasih pencerahan ke dia kalau udah pulang shalat, jadi jaga rahasia yah," jawab mama dan tersenyum kearahku. Aku hanya ber-O-ria kemudian tersenyum penuh kemenangan.
"Ngapain papa di anter ke masjid? Papa bisa sendirikan bawa mobilnya?" Tanyaku heran sambil membantu memasukkan sayur ke dalam kulkas.
Hening beberapa detik dan seketika aku tersadar dari lamunanku.
"Mama tau nggak... tadi Maheer berantakin kamarku terus semua ban...."
Baru saja aku ingin mengadukan semua ulahnya tetapi ku hentikan saat melihat Maheer masuk kembali ke dapur dan menyela ucapanku.
"Bukan Maheer Mama tapi......
"Riaannn saatnya makan~" teriak Maheer dengan tangan yang membawa mangkok berisikan bubur.
Sedangkan Rian hanya menggeleng serta mulut yang mengeluarkan air liur terus menetes. Maheer melangkah kearahnya dan duduk di kasur.
"Tadi kakak ambil bubur bikinan mama. Kata mama lima kali suap bisa bikin kenyang lohh, yok di coba," tangannya yang memegang sendok ia arahkan ke bibir mungil Rian yang masih setia terkatup.
Rian terus menerus menggeleng. Walaupun sudah di bujuk ia tetap keukeh tidak mau makan. Maheer tidak mau kalah ia memaksa memasukan sendok ke mulut Rian membuat Rian memberontak dan menendang perut Maheer sehingga mangkok yang berada ditangan Maheer mengenai bajunya dan terjatuh di lantai dengan posisi terbalik.
Maheer yang masih belum percaya hanya bisa melongo dan mengaduh kesakitan. Belum sampai disitu. Rian menarik rambutnya dengan kencang dan akhirnya mendorong Maheer sehingga terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Aku meringis mendengar cerita Maheer, ohh kasihan sekali.
"Gitu mama ceritanya, jadi bukan salah Maheer kan?" Tanya Maheer menatap mama dan aku.
Mama tersenyum dan menunduk, mensejajarkan tinggi badannya dengan Maheer sambil memegang pipinya.
"Abang ngak salah kok cuman kalau misalnya adek ngak mau makan harus dibujuk dengan cara lembut biar adeknya ngak tersiksa abang," nasihat mama. Mama memang begitu, tidak ingin memarahi anaknya dengan kasar atau keras, katanya bukannya berubah tetapi akan membuat mental mereka tersiksa dan menjadi depresi.
"Denger tuh," timpalku dan bersandar di pantry dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Kakak juga jangan terlalu keras sama abang," tegur mama. Aku seketika lesuh walaupun tetap mengangguk.
Bwa bwaa aimm iumm.
Celotehan anak kecil yang bercampur air liur membuat kami saling melotot kemudian mencari di mana arah suara itu. Ternyata Rian berada di tangga.
.
.
.
"Haa????!!!"
"Adekkkk"
"Jaaaanggaaannn!!!!"
Teriak kami bersamaan dan berlari kencang, seolah sedang lomba lari maraton, siapa yang cepat dia akan mendapatkan pialanya.
Hap
Ternyata mama yang berhasil menggendong dan mengecup kening Rian terlebih dahulu. Aku dan Maheer dikalahkan oleh mama yang sudah berkepala empat.
"Astaghfirullah adek" keluhnya sambil membawa Rian Ke ruang tamu.
Aku ikut saja kemana mama membawa Rian dengan wajah pucat. Tetapi kuhentikan langkahku saat melihat Maheer kembali berjalan memasuki dapur dengan santai.
"Ehh kamu!! Ngapain ke dapur? Bukannya nenangin Mama malah...."
Maheer menatapku sangar, aku pun menatapnya dengan tajam, setajam pisau yang baru saja diasah.
"Maheer haus," ucapnya dan meninggalkanku.
__ADS_1
Aku hanya menirukan caranya bicara seakan mengolok oloknya.
"Mwher auss nemyennyenye," tiruku dengan mulut yang cemberut dan pergi menuju ruang tamu.