
Untuk ke sekian kali, Tania harus menggigil ketakutan karena di seret paksa menuju ke sebuah ruangan yang sudah sangat ia hafal itu ruangan apa. Sekalipun matanya buta, namun indra penciuman dan Indra perabanya masihlah berfungsi dengan baik. Hanya dengan mencium aroma di dalam ruangan itu, Tania sudah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidupnya.
"Apa aku akan di bunuh lagi?" gumamnya dalam hati.
Ya, bukan suatu kejutan lagi bagi Tania jika ia akan dibunuh hari ini. Sang suami, yang bernama Gaston Adolf adalah seorang penyiksa yang luar biasa kejam. Sejak awal menikah sampai sekarang Tania belum pernah merasakan hangatnya dimanja dan diberi kasih sayang. Yang ia dapatkan justru hanya hinaan dan siksaan yang hampir setiap hari terus mendera tubuhnya tanpa henti.
"Jangan bertindak macam-macam! Hari ini, Pamanmu berkunjung!" Suara yang sudah sangat Tania hafal itu terdengar seiring dengan cengkraman yang terasa sangat sakit di dagunya. Gadis buta itu tak meringis. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit sehingga merasa tak perlu lagi mengekspresikannya.
"Dandani dia. Samarkan luka-luka di wajah dan lengannya!" titah Gaston Adolf kepada seseorang.
"Oke, Sayang!" jawab perempuan itu manja.
Tangan Tania terkepal erat. Sama seperti dia sudah khatam dengan suara Gaston. Tania pun tak kalah hafal dengan suara mendayu-dayu perempuan itu. Seorang wanita yang katanya merupakan asisten pribadi sang suami di kantor namun ternyata juga merupakan asisten pribadi suaminya di ranjang.
Fakta ini bukan sebulan-dua bulan baru Tania ketahui. Ia bahkan sudah tahu sejak awal mereka menikah. Bagaimana tidak? Jika malam pengantin yang seharusnya syahdu untuk Tania harus menjadi awal mula luka dalam pernikahan yang ia jalani karena perjodohan tersebut. Tania di paksa berada didalam kamar pengantin. Hanya diam di sudut ruangan dan dipaksa mendengar ******* perempuan lain yang malah mengambil posisinya untuk menghangatkan ranjang sang suami di malam pertama.
Sakitkah? Jelas. Malam itu, untuk pertama kali, Tania mensyukuri kondisi matanya yang buta. Setidaknya, hanya telinga yang ternoda dengan ******* laknat suami pilihan sang Paman bersama gundiknya.
"Sayang, apa perlu pakaiannya diganti? Lihatlah! Pakaiannya terlihat lusuh," ucap Julia, selingkuhan Gaston sambil menarik kerah long dress rumahan Tania.
"Biarkan saja! Mau pakai pakaian apapun, dia akan tetap terlihat sama. Mirip gelandangan yang tinggal di dekat tong sampah!" jawab Gaston yang diiringi gelak tawa Julia.
Apakah lucu menertawakan kondisi Tania? Mungkin iya bagi mereka. Namun, Tania hanya bisa membatin menahan segala bentuk penghinaan dan siksaan. Ia ingin melawan, namun bisa apa dirinya yang begitu lemah dan tak bisa melihat itu?
"Tuan Gaston, Tuan besar Gregson sudah datang!" lapor seorang pelayan kepada Gaston.
Tania mengangkat kepalanya begitu mendengar kabar tersebut. Tak bisa ia sembunyikan senyum yang merebak merekah di wajah manisnya.
"Baiklah! Kami akan segera ke bawah untuk menyambut beliau!"
Sang pelayan mengangguk lalu bergegas pergi melanjutkan tugasnya.
Sudah cukup lama Tania menanti kehadiran Hardin Gregson didalam ruangan yang ia tempati kini. Karena sudah sangat tak sabar untuk menemui sang Paman, Tania memutuskan berdiri dan beranjak hendak mencari sendiri keberadaan Pamannya. Masa bodoh dengan Gaston ataupun Julia! Dua makhluk iblis itu tak akan mungkin berani menyiksanya jika sang Paman ada disini.
"Kau yakin bahwa kali ini dia akan benar-benar mati?"
DEGH!
Tania mematung dengan posisi tangan yang tak jadi memutar handle pintu didepannya. Telinganya tak sengaja menangkap suara yang begitu sangat ia hafal sedang berbicara diluar sana. Bagaimana Tania bisa dengar? Karena sekali lagi, nyaris seluruh Indra yang lain, semakin bertambah tajam semenjak ia kelihatan Indra penglihatannya.
"Jangan khawatir, Paman! Hanya dengan sekali tenggak, maka dia akan segera pergi dari dunia ini!" timpal Gaston.
Jantung Tania sudah berdebar tak karuan. Konspirasi macam apa ini?
"Pastikan bahwa kali ini dia benar-benar akan mati! Aku tak mau kejadian saat kalian mendorongnya dari tangga terulang kembali. Bukannya mati, si buta itu malah menginap seminggu di rumah sakit dan membuatku lelah karena harus bolak-balik menemuinya setiap hari."
..."Paman? Tak ikhlaskan engkau selama ini membesarkan keponakanmu satu-satunya?"...
"Bukannya rencana Paman juga sering gagal?" Terdengar suara tawa Gaston menimpali ucapan Hardin. "Yang paling lucu adalah ketika Paman merekayasa kecelakaan mobil Tania tapi bukannya mati, ternyata hanya mengalami kebutaan."
Tiba-tiba saja, lutut Tania lemas. Gadis itu jatuh terduduk di lantai karena mendengar kenyataan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Jadi, beginikah wajah asli pria yang selama ini ia anggap sebagai penyelamat?
"Ayo, masuk! Tania akan curiga jika kita terlalu lama berada di luar," sergah Julia mengingatkan.
Mendengar hal tersebut, Tania lekas mengumpulkan tenaga untuk kembali duduk di tempat semula. Air mata ia hapus dengan segera. Berusaha terlihat baik-baik saja walau hati telah berserak tak karuan.
__ADS_1
"Tania! Sayangku!" lirih pria paruh baya.
Tania tersenyum samar menanggapi. "Paman?" panggilnya tak kalah lirih.
GREP!
Pelukan erat Tania rasakan. Pelukan yang semenjak kedua orangtuanya tiada, menjadi tempat ternyaman untuk ia berlindung dari dunia yang sangat kejam. Namun, beberapa menit yang lalu, Tania baru tahu bahwa tempat yang dulu paling ia anggap aman tersebut justru adalah neraka yang jauh lebih besar dari yang Gaston beri selama ini.
"Kau sehat? Apa Gaston memperlakukanmu dengan baik?" tanya Hardin dengan suara yang dipenuhi gurat kecemasan. Akting apik yang memang dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai aktor kawakan.
Kali ini pun, Tania baru sadar bahwa Hardin telah memerankan lakon sebagai Paman yang luar biasa baik dengan sangat sempurna. Tak hanya di layar kaca,bahkan didunia nyata.
"Tentu saja baik, Paman!" jawab Gaston.
"Benar begitu?" Hardin menyentuh kedua pipi Tania. "Tapi kenapa pipi keponakanku terlihat jauh lebih tirus, Gaston? Apa kau tidak memberinya makan dengan layak?" Suara Hardin terdengar meninggi. Hal tersebut membuat Tania berharap bahwa yang didengarnya tadi didepan pintu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
"Itu karena Paman jarang mengunjunginya. Tania bilang dia sangat merindukan Pamannya. Tapi, Paman Hardin sudah dua bulan ini malah tak pernah menengok," ujar Gaston.
"Itu karena aku sedang ada syuting di LA. Karena jadwal yang sangat padat, Paman tak bisa mengabari apalagi mengunjungimu, Sayang!" Hardin mengelus pipi Tania kembali.
"Ah, hampir lupa! Ada berkas yang harus kau tanda tangani terkait sesuatu yang sangat penting, Sayang!"
DEGH!
Lagi, jantung Tania berdetak tak karuan. Gadis itu mencengkram gaunnya kuat-kuat. Apa lagi ini? Terlalu sering sang Paman memintanya menandatangani sesuatu yang sama sekali Tania tak tahu isinya apa. Beruntung, Tania tak pernah memenuhi permintaan sang Paman. Entah, dengan nasibnya hari ini.
"Berkas apa, Paman?"
"Hanya untuk melengkapi berkas pembelian mobil baru yang rencananya akan Paman belikan atas namamu," dalih Hardin berbohong.
"Kalau kau tak mau pakai, kan Gaston yang bisa memakainya, Sayang!"
"Kalau begitu, beli atas nama Gaston saja!"
Tak terbayang bagaimana geramnya wajah Hardin kini. Kesabaran yang hanya setipis benang akhirnya putus karena tersulut api emosi oleh jawaban Tania.
PLAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Tania.
"Paman?" lirih Tania sembari memegang pipinya. Bening menetes dari sepasang mata yang tak mampu lagi melihat sejak tiga tahun yang lalu.
"Sialan kau, Tania! Sampai kapan kau akan terus jadi anak yang pembangkang, hah? Tak bisakah kau menuruti perkataanku sekali saja?" gertak Hardin dengan gigi bergemelatuk serta kedua tangan yang mencengkram erat bahu rapuh Tania.
"Pa-Paman kenapa begini?"
"Kenapa begini, kau bilang?"
PRANG!
Terdengar suara sesuatu yang dilempar ke dinding hingga menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Tania sampai berjingkat kaget dan terjungkal dari kursinya ke lantai.
"Tanda tangani, Tania!" Tiba-tiba Hardin memaksa Tania memegang sebuah pulpen dan memaksa gadis itu menandatangani sesuatu.
"Tidak akan!" geleng Tania.
__ADS_1
"Tanda tangan!"
"Tidak, Paman!"
PLAK!! Tamparan kembali mendarat di pipi Tania hingga gadis itu berpaling nyaris mencium lantai.
"Kalian jangan diam saja! Cepat bantu aku!"
Langkah kaki terdengar mendekat. Tania yang buta dan lemah harus melawan tiga orang yang sehat bugar dalam pertarungan tak seimbang. Pada akhirnya, gadis itu menandatangani berkas tersebut karena tak tahan tubuhnya di siksa oleh Gaston dan Julia.
"Dimana minuman itu? Lekas berikan padanya!" titah Hardin setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Julia dan Gaston kembali mendekati Tania. Gaston mengunci kedua tangan Tania dari arah belakang dengan satu tangan. Sementara, tangan yang satunya menahan kepala Tania agar tak berontak saat dicekoki minuman tersebut.
"Buka mulutmu, Tania!" titah Julia yang dibalas gelengan kepala oleh gadis buta itu.
"Cepatlah!" teriak Hardin tak sabar.
"Minum, Tania! Minum!" ucap Julia gemas sembari memaksa mulut Tania terbuka dengan cara menekan kedua pipinya secara bersamaan.
Glek, glek, glek!
Minuman tersebut berhasil masuk ke dalam mulut Tania. Sigap, Julia menyumpal mulut Tania dengan telapak tangan lalu meminta Gaston menutup hidung Tania agar gadis buta itu tak dapat bernapas dan akhirnya reflek menelan cairan beracun tersebut.
"Sukses!" ucap Julia puas.
"Uhuk!Uhuk!" Tania terbatuk. Matanya memerah. Ia berusaha memuntahkan minuman yang ditenggak paksa tadi namun tak berhasil.
"Bagian kami, aman bukan?" tanya Gaston kepada Hardin.
"Tentu! Kalian tenang saja!" jawab Hardin.
"Ayo pergi!" ajak Julia.
Ketiganya lalu keluar dari dalam ruangan tersebut dan menguncinya dari luar. Tania sudah berusaha membuka pintu itu dan berteriak minta tolong. Akan tetapi, tak seorangpun yang datang untuk membantu.
"Apa aku akan mati seperti ini?" tanyanya sambil meringkuk kesakitan di lantai yang dingin.
CKLEK!
Pintu kembali terbuka. Terdengar langkah kaki mendekati Tania yang sedang sekarat. Bukan Gaston, Julia ataupun Hardin. Tania bisa tahu karena aroma parfumnya jelas berbeda dari ketiga durjana itu.
"Ga-Galen?" tebak Tania.
"Apa akhirnya kau akan mati dengan cara seperti ini?" tanya pria itu datar.
Tania meraba-raba ke sekitar. Berusaha memegang tubuh pria yang sedang berbicara dengannya. GREP! Berhasil! Ia berhasil menarik kerah kemeja Galen yang berjongkok didekatnya.
"Tidak! Aku tidak akan mati dengan cara seperti ini! To-tolong! Tolong selamatkan aku!" pinta Tania mengiba.
"Apa yang akan ku dapatkan jika menolongmu?"
Tania terdiam sejenak. Bukan karena tak bisa menjawab. Hanya saja, efek racun kian melemahkan sarafnya.
"A-ambil se-semua ha-hartaku! Ambil semua yang ma-manusia-manusia serakah itu inginkan!" ucap Tania.
__ADS_1
Setelahnya, ia tak ingat apapun lagi. Tania jatuh pingsan.