
"Tania! Gaston!" panggil Hardin seraya berdiri menyambut keponakan dan menantu barunya.
"Paman," balas Tania dengan senyuman.
"Ayo, duduklah!" ucap Hardin sambil menarik satu kursi untuk Tania. Setelah itu, Gaston mengambil alih untuk menuntun sang istri duduk dikursi yang telah disediakan Hardin.
"Bagaimana malam kalian? Indah?"
Gaston tertawa kecil sementara Tania hanya menarik senyum simpul nyaris tak terlihat. Lengan Gaston melingkar di bahu Tania. Memberi sedikit remasan di bahu sang istri sebagai pertanda bahwa Tania harus berbohong.
"Tentu saja indah, Paman. Mengenai detailnya, tidak mungkin kami ceritakan! Iya, kan Sayang?"
Tania masih dengan ekspresi yang sama. Rasa tak nyaman di area bahu akibat ulah Gaston benar-benar sangat mengganggu.
"Kenapa Tania hanya diam saja? Apa ada hal buruk yang terjadi?" tanya Hardin.
"Tania baik-baik saja, Paman," sahut Gaston tersenyum.
"Siapa perempuan ini?" tanya Hardin pada Gaston. Lelaki tua yang masih nampak bugar dan awet muda itu pura-pura tak mengenali Julia.
"Dia Julia. Asisten pribadiku di kantor," jawab Gaston.
"Halo Tuan Gregson! Saya Julia, asisten Tuan Gaston Adolf," ujar Julia memperkenalkan diri mengikuti alur sandiwara dua pria yang semeja dengannya.
"Apa kabar, Nona Julia? Saya harap Anda bisa ikut menjaga keponakan saya dengan baik."
"Tentu saja, Tuan Gregson. Dengan senang hati," angguk Julia.
Cerita demi cerita pun mengalir dari mulut ketiga orang yang tampaknya satu frekuensi. Berbagai macam topik diangkat untuk menghangatkan suasana sarapan pagi ini. Tania hanya diam. Menyimak dan sesekali tersenyum menanggapi karena jujur, tak satupun dari obrolan ketiga orang itu yang ia mengerti.
"Paman, aku dan Julia pamit dulu! Kami ada meeting penting yang tak bisa dilewatkan pagi ini," pamit Gaston seraya berdiri dari duduknya.
"Baiklah! Hati-hati dijalan!" angguk Hardin.
"Setelah selesai, aku akan menjemputmu, Sayang!" Gaston melabuhkan kecupan di pucuk kepala Tania.
Selepas kepergian Gaston, Tania mulai menimbang untuk mengadu pada Hardin atau tidak. Walau bagaimanapun, meski ancaman Gaston baginya tak terlalu serius, namun tetap saja dia mengkhawatirkan keselamatan Hardin.
"Kenapa wajahmu kelihatan murung, Tania?" tegur Hardin yang sangat sadar bahwa sang keponakan sejak awal bertemu sampai sekarang nyaris tak pernah membuka suara.
"Ada yang ingin ku sampaikan pada Paman," lirih Tania setelah membulatkan tekad.
__ADS_1
"Katakan! Ada apa?" tanya Hardin. Beliau meletakkan sendok garpunya. Melipat kedua tangan diatas meja dengan tatapan menjurus ke arah Tania.
"Gaston...."
"Gaston kenapa?"
Tania menunduk. Bersamaan dengan itu, air mata menetes membasahi pipinya. Foundation yang dioleskan tebal oleh Julia pun perlahan luntur. Mungkin saja, yang diaplikasikan Julia pada wajah Tania adalah foundation murahan.
"Wajahmu? Astaga! Kenapa ini?" teriak Hardin histeris. Ia mendekati Tania. Memeriksa secara rinci luka memar di pipi sang keponakan.
"Paman.. Aku...,"
"Loh, ada apa ini?" Suara Gaston yang tiba-tiba kembali membuat Tania terkesiap.
"Ada apa kau bilang?" teriak Hardin. "Kenapa wajah keponakanku jadi memar begini, Gaston? Bisa kau jelaskan?"
"Paman," panggil Tania. Ia meraba-raba sekitar. Berusaha berdiri setelah berhasil menemukan tangan Hardin sebagai tumpuan untuk membantunya berdiri.
"I-itu tak seperti yang Paman lihat!" kilah Gaston.
"Lalu seperti apa? Jelaskan padaku! Apa kau menyiksanya?" tanya Hardin mendesak Gaston.
Gaston tertunduk. "I-itu... Maafkan aku, Paman. Aku memiliki sedikit kelainan. Aku suka melakukan kekerasan saat berhubungan badan dengan pasanganku!"
"Maaf, Paman Hardin! Maafkan aku! Ini yang terakhir!" pinta Gaston mengiba.
Pukulan hendak dilayangkan Hardin pada Gaston. Namun, pihak keamanan dengan cepat melerai dan meminta mereka untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
"Perbuatan ini tak akan ku maafkan!" teriak Hardin. "Ayo kita pulang, Tania!" ajaknya sembari menyeret Tania pergi.
45 menit perjalanan kembali ke rumah, benar-benar dilalui dalam hening oleh Tania dan Hardin. Sampai di rumah besar tersebut, Tania disambut ramah para pekerja dan dipanggilkan dokter untuk mengobati luka memarnya. Sementara itu, Hardin berpamitan untuk keluar lagi. Ia beralasan ingin meeting penting dengan seorang produser terkait peran barunya di sebuah film.
"Nona sudah baikan?"
"Ya. Terimakasih atas perhatian Bibi!" jawab Tania seraya memakan bubur buatan pelayan tadi.
Sesaat, dering telepon rumah berbunyi. Seorang pelayan berinisiatif mengangkat lalu dengan tergopoh-gopoh menghampiri Tania yang sedang makan siang dikamar usia di periksa dokter.
"Ada apa?" tanya Tania bingung.
"Tuan Hardin kecelakaan, Nona!"
__ADS_1
DEGH!
Sendok bubur Tania terjatuh dari tangannya. Gadis itu syok mendengar berita buruk itu. Kepalanya mendadak pusing saat ancaman Gaston berkelabat dalam ingatan.
"Paman," panggil Tania gusar. Ia terburu-buru menuju rumah sakit ditemani kepala pelayan setelah ia menerima kabar buruk tersebut.
"Kondisi Tuan Hardin baik-baik saja. Beliau hanya sedikit syok dan mengalami luka ringan di beberapa anggota tubuh."
Tubuh Tania lemas. Lega bercampur haru memenuhi rongga dada yang terasa sesak. Tak berselang lama, Gaston dan Julia juga datang ke rumah sakit. Kedua pasangan kekasih itu menghampiri Diana yang sedang menunggui Hardin yang katanya masih tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius.
"Mau apa kalian kemari?" tanya Tania dengan amarah.
"Bukankah sudah ku peringatkan, Tania? Inilah akibatnya jika kau terlalu keras kepala dan berani menentang perintahku!"
"Jadi, semua ini ulahmu?"
"Ya!" jawab Gaston enteng. "Ini hanya teguran kecil, istriku sayang! Jika kau berani mengadu lagi, maka jangan salahkan aku jika Pamanmu ini akan kehilangan kaki atau tangannya. Atau bahkan mungkin nyawanya?"
"Bren&sek kau!" Tania menyerang udara membabi buta. Pasalnya, Gaston bisa menghindar dengan santai karena kondisi Tania yang tak bisa melihat sama sekali.
"Uuuhhh... Kasihan sekali gadis malang kita!" ledek Julia.
Tania terduduk dengan perasan benci luar biasa. Ia benar-benar geram akan tindakan Gaston dan Julia yang berani-beraninya mencelakai orang yang paling di sayang Tania saat ini.
"Aku benci kalian!" geram Tania.
Gaston menekuk kedua kakinya. Berjongkok dihadapan Tania yang duduk di sofa tunggal dalam ruangan VIP rumah sakit tersebut sambil tersenyum remeh.
"Tantang aku lagi, jika kau ingin Pamanmu kembali celaka, Sayang!"
"Kalian benar-benar jahat! Iblis!"
"Yeah! That's i am!" sahut Gaston membenarkan. "Jadilah istri yang penurut jika kau masih mau ada anggota keluargamu yang hidup, Sayangku!" pesan Gaston sembari berdiri dan mengecup kepala Tania.
Gadis itu mendorong tubuh Gaston dengan segenap tenaga. Dan benar saja! Gaston melangkah mundur akibat dorongan Tania yang lumayan keras. Namun, lelaki itu tak marah sama sekali. Sebaliknya, dia malah tertawa.
"Tenagamu lumayan juga, Sayang!" pujinya.
Seluruh tubuh Tania bergetar karena kemarahan yang tak bisa ia lampiaskan dengan tuntas. Tenaganya sebagai perempuan ditambah kondisi yang tak bisa melihat benar-benar membuatnya tak berdaya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati. Berharap akan ada seseorang yang datang menjadi dewa penyelamat untuk menghukum kekejian Gaston. Berapapun harganya atau apapun pertukarannya, bahkan dengan nyawa sekalipun, Tania rela asal bisa melihat lelaki keji itu menangis memohon ampun di bawah kakinya.
Tanpa mampu Tania lihat, sosok Paman yang begitu ia cemaskan sedari tadi menyimak pertunjukan dihadapannya dengan sangat puas. Ia bahkan mengacungkan jempol ke arah Gaston yang benar-benar pandai membuat Tania marah dan frustasi. Ya, seperti dugaan kalian. Semua yang terjadi hanya rekayasa Hardin agar Tania bisa memiliki rasa takut terhadap Gaston dan akhirnya memilih memendam segala siksaan yang ia terima kelak hingga benar-benar gila. Dengan begitu, aset atas nama Tania otomatis akan jatuh ke tangan Gaston yang notabenenya merupakan suami dari Tania.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu, bahwa di jam yang sama, pada menit yang sama serta detik yang sama pula, seorang pemuda berusia 25 tahun, baru saja turun dari pesawat setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Pemuda itu yang akan menjadi batu sandungan terbesar dalam rencana mereka. Sosok yang tak pernah mereka duga akan menjadi musuh terbesar ketiganya kelak.
Galen Adolf telah kembali. Pemuda yang diasingkan sang Ibu saat berusia 11 tahun itu pulang dengan rencana matang dan modal yang lebih dari cukup untuk menghancurkan ibu kandungnya sendiri, Sharon.