
"Maaf, Tuan! Anda tidak bisa masuk sembarangan ke dalam rumah jika belum membuat janji," tukas security yang berjaga didepan gerbang usai sebuah supercar Pagani huayra berwarna hijau tua dengan perpaduan warna abu-abu tua dibagian kap mesin dan kokpit membunyikan klakson cukup nyaring agar dibukakan pintu.
"Aku tak butuh janji dengan siapapun, untuk masuk ke dalam rumahku sendiri," ucap Galen sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.
Sang security tentu kebingungan. Ia sama sekali tak mengenal Galen. Dan, dengan santainya pemuda itu berkata bahwa dialah pemilik dari rumah yang selama 5 tahun terakhir telah ia jaga.
"Apa Anda kurang waras? Seenaknya saja mengakui rumah orang lain sebagai rumah Anda. Asal Anda tahu, Tuan! Ini rumah Tuan Gaston Adolf! Putra tunggal Nyonya Sharon Pierce, sang aktris terkenal yang sudah melegenda."
Galen berdecak. "Legenda? Memangnya dia sudah mati?" sahutnya sinis. "Buka atau ku tabrak gerbang itu!" ujar Galen memberi pilihan.
Sebelum sang security menjawab, Galen sudah memundurkan mobilnya. Ia bersiap mengambil ancang-ancang untuk menabrak gerbang tinggi yang ada didepan sana. Tanpa keraguan sama sekali, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi yang membuat sang security kelabakan dan mau tak mau meminta tolong temannya untuk membuka gerbang secepat mungkin.
KRIETT!!!
Suara ban yang bergesekan dengan halaman terdengar nyaring. Security tadi bergidik ngeri melihat pemandangan mobil yang tampak berputar beberapa kali karena diberhentikan mendadak oleh sang supir usai berhasil masuk tanpa harus ada adegan pengrusakan pagar.
Saat tersadar, Galen sudah melangkah santai hendak masuk ke dalam rumah. Si security bersama dua orang temannya sigap mengejar dan menghadang Galen di pintu depan sebelum berhasil masuk.
"Minggir!" titah Galen dingin.
"Sudah ku bilang, Anda dilarang masuk!"
"Aku berhak masuk. Ini rumahku!" Galen mendorong security itu namun ia balas di dorong oleh kedua rekan security tadi.
"Mau main kasar, hah?" tantang Galen tertawa.
"Anda yang meminta sendiri, Tuan!"
"Baiklah! Maju kalian!" Galen menggerakkan tangannya, isyarat mempersilahkan ketiga security itu untuk menghajarnya.
Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Hanya saja, Galen dengan mudah menghindari serangan para security yang mudah sekali terbaca. Baginya yang terbiasa berkelahi sejak kabur dari kediaman Haley dan Jeremy lalu hidup dijalanan, perkelahian semacam ini bukan apa-apa. Pernah sekali, Galen dikeroyok oleh sepuluh remaja lainnya sekaligus. Kala itu saat dia masih berada di tahun kedua high school. Dan, berbekal tekad yang kuat untuk tak mudah ditindas, ia berhasil mengalahkan kesepuluh remaja itu walau dirinya harus berakhir dirumah sakit karena cedera yang juga cukup parah.
"Ada apa ini?" teriak sang tuan rumah saat mendengar kegaduhan dari lantai bawah.
Posisinya, Galen memang sudah berhasil masuk. Dua security tadi ia seret lalu ia hempaskan satu per satu ke sofa ruang tamu. Sementara, satu lagi ia biarkan terkapar didepan pintu masuk karena sudah pingsan duluan saat tengkuknya di hajar Galen.
"Siapa ka...," Suara Gaston tercekat diujung tenggorokan kala melihat siapa yang datang. Seseorang yang sudah lama sekali tak ia temui dan sudah ia lupakan bahwa pernah ada didunia ini. Tak lain dan tak bukan adalah adik kandungnya sendiri.
Gaston jelas sangat mengenali wajah itu. Wajah yang begitu mirip dengan Ayah yang telah menelantarkan ia dan juga ibunya di masa lalu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau ada disini? Bukannya kau sudah memiliki keluarga baru?" tanya Gaston gusar.
"Kenapa? Ada yang salah jika aku disini?" Galen balik bertanya. Ia dengan santainya mendaratkan bokong di sofa tunggal yang berhadapan dengan sofa panjang tempat dua orang security Gaston yang terkapar setengah sadar.
"Keluar!" Tanpa basa-basi, Gaston menghampiri Galen dan menarik kerah baju Galen hingga pria itu ikut berdiri. "Kau tak pantas berada disini! Pergi! Rumahmu bukan disini, Galen!"
"Lepaskan!" Galen menghempas tangan Gaston dengan mudahnya. "Kau yang seharusnya pergi dari sini, Ka-kak!" Sengaja ia menekan ucapannya dikalimat terakhir. "Ini rumahku! Kau yang seharusnya tidak berada disini!"
Gaston menggeleng. "Tidak. Ini rumahku! Ibu yang memberikannya padaku!"
"Ckckck...," Galen menatap rendah sang Kakak. "Kasihan sekali! Sayangnya, sertifikat rumah ini memang atas namaku! Kau dan Ibumu itu tak bisa apa-apa jika aku menuntut kalian ke pengadilan!"
"Kurang ajar!" Tangan Gaston mengepal. Hanya dalam sepersekian detik, tinjunya melayang hendak mengenai Galen. Namun, sang adik rupanya dengan lihainya bisa menghindar. Alhasil, malah dirinya yang kena pukul dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Sayang...," pekik Julia sambil menutup mulutnya. Ia pun lekas menghampiri sang kekasih dan membantu prianya itu untuk berdiri.
"Siapa kau? Kenapa kau lakukan ini pada kekasihku, hah?" tanya Julia penuh amarah pada Galen.
"Dari yang kudengar, istrimu itu buta. Tapi, kenapa yang ini bisa melihat? Atau, jangan-jangan dia ini gundik simpananmu, Gaston?" Telunjuk Galen mengarah pada Julia yang langsung mendelik tak terima.
"Jangan campuri urusanku!"
Galen berpikir sebentar. Tak lama, lelaki itu tertawa keras. "Berarti, dugaanku benar. Kau menikahi istrimu hanya demi harta? Begitukah?" Galen menggelengkan kepalanya. "Kasihan sekali, perempuan itu."
"Sudah ku bilang, jangan ikut campur, Galen!" bentak Gaston seraya menyeka sudut bibir yang berdarah.
"Bagaimana andai keluarganya tahu akan perlakuanmu padanya, Gaston?"
"Diam!"
"Apa yang akan mereka lakukan padamu?"
"Ku bilang diam!" bentak Gaston lagi.
Melihat sang kakak seperti orang kerasukan, Galen begitu puas. Merasa cukup bermain-main untuk hari ini, dia pun melenggang santai menuju ke sebuah kamar yang berada lantai bawah. Kamar itu ia pilih saja secara random. Itu yang pertama kali ditangkap ekor matanya, maka itu pula yang menjadi pilihannya.
"Mau kemana kau?" tanya Gaston saat melihat sang adik melangkah menuju ke sebuah kamar.
"Istirahat!" jawab Galen malas.
__ADS_1
"Aku tidak mengizinkanmu tinggal disini, Galen! Kau dengar?"
Galen berhenti kemudian berbalik. "Memang, aku tak butuh izin darimu untuk tinggal dirumahku sendiri, Kakak!"
"Kurang ajar!" umpat Gaston kesal melihat kelakuan Galen.
"Kau yang harus jaga etika selama disini, Gaston! Kau yang menumpang, bukan aku!"
BRAK!
Pintu ditutup kasar dari dalam. Hal itu membuat kekesalan Gaston semakin bertambah.
"Kenapa dia harus pulang sekarang sih?" gerutunya kesal.
"Dia siapa, Sayang?" tanya Julia bingung.
"Adikku!" jawab Gaston singkat.
Alis Julia berkerut. "Adik? Tapi, kenapa tak mirip? Dia lebih... tampan," cicit Julia diakhir kalimat.
"Apa kau bilang?" Gaston langsung mencekik leher Julia. "Kau bilang, dia lebih tampan?"
"He-hentikan, Sayang! Aku bisa ma-ti," ucap Julia terbata.
Sadar akan kelakuannya yang bisa berakibat fatal, Gaston melepaskan cengkramannya dengan kasar lalu mendengkus sebal menahan emosi. Sementara, Julia sempat terhuyung dan nyaris jatuh andai tak berpegang pada lengan Gaston.
"Kau tadi hanya salah dengar, Sayang!" ucap Julia beralasan.
"Benarkah?"
Julia mengangguk. "Aku bilang, kau dan dia terlihat berbeda. Dan, dia jauh lebih tinggi," ucapnya mengarang alasan.
Gaston sepertinya mulai percaya dengan ucapan Julia. Lelaki kasar itu perlahan mulai tenang lalu duduk di sofa tunggal bekas sang adik tadi. Matanya menatap tak suka pada dua orang security yang masih terbaring tak berdaya didepannya. Mau dipaksa pindah, tapi kondisi mereka yang babak belur sepertinya tidak memungkinkan.
"Dia memang adik kandungku. Wajahnya terlihat berbeda karena dia mewarisi wajah dan fisik milik Ayah kami. Sementara, aku jauh lebih mirip dengan Ibu kami."
Julia mendekati Gaston lalu melingkarkan lengannya dileher Gaston dari arah belakang.
"Lalu, apa maksudnya tadi dia mengatakan kalau ini rumahnya, Sayang?"
__ADS_1
Gaston lagi-lagi menghela napas. "Semua itu memang benar. Rumah ini adalah rumah warisan dari Ayah kami khusus untuknya."
"Jadi, ini bukan rumahmu?" pekik Julia kaget. Istana megah yang ia idam-idamkan rupanya bukanlah milik sang kekasih. Dan, kini sang pemilik sah telah kembali. Julia semakin bingung dan panik. Jangan sampai impiannya menjadi Nyonya dirumah itu harus terhempas begitu saja. Tidak. Tidak boleh!