Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Amarah si Tuan rumah


__ADS_3

Julia semakin uring-uringan semenjak kedatangan Galen di rumah itu. Sesekali, perempuan tersebut menjambak rambutnya sendiri karena merasa bahwa kepalanya benar-benar penuh dengan segala macam masalah.


Ia pikir, dengan mengikhlaskan sang kekasih menikahi gadis buta yatim piatu itu akan menjadikan aset mereka makin bertambah banyak di masa depan. Namun, kenyataannya, belum apa-apa, segala aset yang saat ini dimiliki Gaston malah terancam akan direbut karena kehadiran Galen.


"Kalau rumah ini diambil Galen, bukankah setidaknya kamu masih punya cukup simpanan untuk membeli rumah yang sama bagusnya dengan ini, Sayang?" tanya Julia pada Gaston.


Gaston meraung frustasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar. "Kau tahu sendiri kalau keuanganku belakangan ini sudah tidak stabil, Julia. Hampir seluruh tabungan dan hasil kerjaku, sudah ludes di meja judi dan juga menuruti segala keinginanmu. Sahamku di perusahaan sendiri bahkan sudah tidak ada. Sementara, penghasilan yang aku dapatkan dua tahun terakhir, hanya dari keuntungan saham milik Galen."


Ya, begitulah adanya. Sebenarnya, Gaston dan Galen memiliki cukup banyak tabungan dan investasi yang ditinggalkan oleh Ayah mereka. Semua itu dianggap sang Ayah sebagai kompensasi atas kepergiannya meninggalkan kedua anaknya demi hidup bersama wanita baru yang ia cintai.


Hanya saja, Sharon jelas tak memiliki kuasa untuk menggerakkan segala aset tersebut. Karena, sang suami sudah mewanti-wanti pengacaranya untuk tidak menggerakkan segala aset yang di beri untuk kedua putranya sebelum kedua pemuda itu lulus dari universitas dan mampu bertanggung jawab dalam mengelola keuangan sendiri.


Sayangnya, saat Gaston sudah matang untuk menerima aset tersebut, ia seolah kalap melihat uang yang sangat banyak. Begitu pula dengan sang Ibu. Bertiga dengan Julia, uang yang awalnya banyak bagaikan timbunan gunung, kini benar-benar habis tanpa sisa. Gaston dan Julia dengan kebiasaan mereka bermain judi di kasino, berlibur ke tempat-tempat yang mahal serta sangat gila akan kesenangan pribadi dan suka mentraktir demi gengsi. Sementara, Sharon yang ketagihan mengoleksi lelaki-lelaki muda untuk memuaskan hasrat biologisnya juga tak bisa mengontrol keuangan sekalipun sebenarnya uang dari hasil bekerja sebagai entertainer sangat lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.


Alhasil, di saat mereka sadar bahwa segalanya sudah benar-benar habis, Sharon dan Gaston berpikir untuk merongrong milik Galen. Ya, walaupun tak bisa menjual saham dan beberapa properti atas nama Galen, namun setidaknya uang keuntungan saham milik sang adik bisa Gaston cairkan setiap bulan meski jumlahnya tetap dibatasi oleh sang pengacara.


Dengan alasan bahwa Galen sekolah dan bekerja di luar negeri, mudah sekali bagi Sharon untuk meminta keuntungan saham Galen demi memenuhi kebutuhannya dan juga Gaston. Walaupun, mereka hanya bisa berpuas diri dengan jumlah yang dibatasi karena sang pengacara hanya mau mengeluarkan uang lebih jika Galen sendiri yang memberi konfirmasi langsung tanpa perantara sang Ibu.


"Jadi, hidupku bagaimana, Gaston? Aku tidak kau keluar dari rumah ini." Julia menjerit frustasi.


"Diam!" Gaston membentak. "Aku juga pusing, Julia! Jadi, jangan tambah bebanku dengan rengekan manjamu itu."


*


Seminggu berlalu. Gaston semakin kalut karena keuntungan saham Galen kini benar-benar tak bisa lagi ia tarik. Pria itu makin frustasi. Sumber keuangannya benar-benar hanya berasal dari penghasilannya sebagai CMO (Chief Marketing Officer) di perusahaan. Berdasarkan informasi dari pengacara, Galen sudah datang dan mengkonfirmasi sendiri bahwa keuntungan saham dan beberapa aset lain serta properti yang atas namanya akan ia ambil alih sendiri dari sekarang. Hal itu tentu membuat Gaston dan Sharon jadi kebakaran jenggot.


"Sayang, kartu kreditku kenapa tak bisa digunakan?" tanya Julia yang baru saja tiba di rumah dan langsung menghampiri Gaston di ruang kerjanya.


"Kenapa tanya padaku? Harusnya, kau urus sendiri, Julia," geram Gaston pada sang kekasih.


"Apa tagihannya belum dibayar, Sayang?"


"Belum!" jawab Gaston sedikit keras hingga Julia tersentak dan reflek mendudukkan bobotnya di kursi kerja sang kekasih. "Aku tidak punya uang sepeserpun lagi, Julia! Uangku habis! Habis!"


"Kenapa bisa? Bukannya hari ini, keuntungan saham sudah bisa kau ambil, Sayang?" tanya Julia hati-hati.

__ADS_1


"Galen sudah mengambil kembali miliknya, Julia! Dan, aku tidak bisa apa-apa untuk mencegah hal itu."


"Lalu, kita harus bagaimana, Sayang? Apa kata teman-temanku jika mereka tahu bahwa sekarang kau sudah kere dan tak memiliki apapun lagi?"


"Selalu kata temanmu saja yang kau pikirkan! Seharusnya, yang kau pikirkan itu cara untuk membantuku. Bantu aku cari jalan keluar dari masalah ini."


Gaston benar-benar kesal melihat tingkah Julia yang selalu hanya memikirkan harkat dan martabatnya di kalangan pergaulan. Ya, begitulah adanya perempuan yang dicintai Gaston. Selain fisik dan permainan ranjang yang luar biasa, sebenarnya Julia tak memiliki kelebihan apa-apa selain itu. Bahkan, jabatan sebagai sekretaris di kantor juga hanya sekadar pajangan. Pasalnya, Gaston juga mempekerjakan seorang sekretaris lagi untuk menghandle segala hal mengenai pekerjaan. Julia? Hanya pemuas hasrat belaka.


"Bagaimana kalau kau meminta pada Tania saja, Sayang? Bukankah si buta itu memiliki aset yang banyak?"


Mendengar ide yang dicetuskan Julia, wajah Gaston seketika cerah. Iya juga, ya? Kenapa ide itu tak pernah terlintas dalam benaknya?


Benar, jika dia hanya diminta menikahi Tania untuk membuat gadis itu stres dan jadi gila. Namun, tak ada dalam perjanjian bahwa Gaston tak boleh merongrong uang milik Tania demi kesenangannya, bukan?


"Kau benar, Sayang! Ya, gadis buta itu bisa memberikan kita uang," ucap Gaston senang.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita paksa dia untuk memberikan kita uang!" sahut Julia bersemangat. Bayangan memiliki tas mewah yang tadi tak jadi ia beli di mall karena kartu kreditnya tak bisa digunakan kini membuatnya benar-benar jadi tak sabar.


"Ayo!" angguk Gaston.


Keduanya lalu turun ke lantai bawah dan berteriak-teriak memanggil Tania. Kebetulan, gadis itu sedang berada di taman belakang. Ia sedang memetik beberapa tangkai mawar untuk di taruh di ruang tamu dan juga beberapa ruangan lain sesuai permintaan Ruth.


"Tania, Tuan dan Nyonya mencarimu!" teriak salah seorang pelayan pada Tania.


"Iya, aku segera kesana," balas Tania sambil menghela napas jengah. Ia tahu, pasti dirinya akan kembali disiksa.


"Darimana saja kau, hah?" Baru saja masuk dari pintu belakang, rambut Tania sudah dijambak Julia lalu tubuhnya di dorong kasar sampai jatuh.


"Akh!" Tania meringis sakit saat kepalanya membentur dinding dengan keras. "Tidak bisakah kalian bersikap sedikit lebih baik?" tanyanya sambil mengusap kepala bagian depan yang terasa sakit.


"Kau minta di baiki? Memangnya, kau siapa, hah?" balas Julia sinis.


"Yang pasti, aku bukan perempuan murahan yang mau saja ditiduri oleh lelaki beristri seperti kamu," jawab Tania seraya berdiri.


Mulut Julia menganga lebar mendengar jawaban telak dari Tania. Ia pikir, setelah menyiksa Tania sedemikian rupa selama beberapa hari terakhir, gadis itu akan takut padanya. Namun, bukannya takut, Tania malah semakin berani melawan.

__ADS_1


PLAK!!


"Kurang ajar!" geram Julia sambil menampar pipi Tania. Gadis yang tak bisa melihat itu kembali jatuh terduduk. Namun, bukannya takut, ia malah tersenyum sinis dengan air mata yang membayang.


"Selain menyiksa, kebisaan kalian apa lagi?" tantang Tania.


Gaston menyeringai mendengar ucapan Tania. Ia maju mendekat. Berjongkok di samping sang istri yang sedang mengepalkan tangan penuh dendam, ia langsung mencengkram erat dagu gadis itu penuh amarah.


"Kau benar-benar ingin menantangku, ya?" tanyanya.


"Kalau iya, kenapa?" jawab Tania.


Gaston tertawa lebar lalu menghempas cengkramannya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Tania nyaris terjengkang karena kepayahan menyeimbangkan tubuh.


"Aku tidak mau basa-basi lagi. Tujuanku kemari hanya ingin meminta uang padamu!" kata Gaston yang berusaha menahan emosi demi satu tujuan.


"Uang? Padaku?" Tania tersenyum sinis.


"Kau istriku sekarang! Uangmu adalah uangku juga. Jadi, wajar jika aku meminta kau untuk memberiku uangmu, Tania!"


"Istri? Benarkah? Bukannya, aku ini pembantumu? Mana ada seorang majikan meminta uang kepada pembantunya, Tuan Gaston!" Tania tersenyum mencemooh. "Ayolah! Darimana seorang pelayan rendahan memiliki uang untuk memberi pada majikannya?"


"Tolong bekerja samalah, Tania! Kalau tidak, Pamanmu bisa saja dalam bahaya lagi. Kau mau?" ancam Gaston.


Pendirian Tania sedikit goyah. Walau bagaimanapun, ia sudah trauma melihat Hardin dirawat dirumah sakit akibat ulah suami dajalnya. Akan tetapi, jika menurut, bukankah itu artinya dia telah diperbudak sepenuhnya oleh Gaston? Jelas, Tania tak mau hal itu terjadi.


"Tidak mau! Aku tak sudi memberikan uangku pada manusia-manusia tak tahu diri seperti kalian!"


"Sialan!" umpat Julia seraya menendang perut Tania sangat keras.


"Akh!" Gadis buta itu memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Namun, belum sempat mencerna sepenuhnya yang terjadi, tangan satunya yang berusaha menopang tubuh untuk bangun malah diinjak dengan ujung heels Julia.


"Dasar tak tahu diri kau!" teriak Julia murka. Sementara, Tania menangis karena merasa sakit yang luar biasa sambil menjerit mengekspresikan rasa sakitnya.


PRANG!!

__ADS_1


Julia tersentak dan melangkah mundur kala sebuah vas bunga melayang nyaris menyentuh hidungnya dan jatuh berhamburan setelah menabrak tembok yang jaraknya kurang beberapa centi dari tempat Julia berdiri. Pecahan vas itu bahkan mengenai ujung kaki Julia dan tubuh Tania saking dekatnya posisi mereka dengan dinding.


"Diam atau ku seret satu persatu kalian keluar dari rumahku!"


__ADS_2