Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Galen CS


__ADS_3

Samar-samar, indra pendengaran Tania menangkap suara beberapa lelaki yang sedang berbicara dan tertawa bersama. Letaknya mungkin tak didalam ruangan yang Tania tempati. Sontak, gadis itu bangkit dari pembaringan lalu mengecek sekitar dengan indra perabanya.


Sebuah selang infus dengan jarum yang menancap di punggung tangan kirinya memberi sensasi sedikit sakit saat ia bergerak serampangan. Dan, begitu hendak menurunkan kaki dari tempat tidur yang ternyata lumayan agak tinggi, pusing tiba-tiba mendera dan membuat ia benar-benar kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terjerembab.


BRUGH! PRANG!


Suara gaduh tercipta saat Tania jatuh ke lantai dan mengakibatkan beberapa peralatan yang berada diatas nakas dekat brankar ikut berdebam karena tersapu pergelangan tangannya yang tadi reflek mencari pegangan. Lalu, gadis itu memegang punggung tangan kiri sambil menjerit tertahan. Terasa ada cairan kental yang keluar dari bekas jarum infus yang tercabut paksa. Hal tersebut membuat Tania benar-benar merasakan nyeri di punggung tangannya.


"Hei! Kau sudah sadar?" Kevin dan kedua temannya lekas masuk ke dalam ruangan Tania saat mendengar bunyi nyaring yang cukup keras. Pria bermata sipit tersebut mendekati Tania hendak memeriksa keadaan gadis yang dititipkan oleh sahabat baiknya itu. Namun, baru sekadar menyentuh lengan Tania, gadis itu sudah memberi penolakan dengan memundurkan tubuhnya sambil meraih pecahan gelas yang tadi ikut jatuh dari atas nakas dan mengarahkannya tepat ke depan sehingga nyaris menggores wajah tampan Kevin.


"Wow! Calm down, Baby girl!" ucap Kevin. Namun, Tania malah semakin menggenggam erat beling di tangan sehingga menimbulkan luka baru.


"Siapa kau?" tanya Tania. Ia mundur hingga menabrak nakas dibelakangnya. Kedua lututnya tertekuk. Sementara, dua tangannya masih mengacungkan beling itu ke arah depan sebagai bentuk pertahanan. Jelas sekali, ketakutan masih tergambar jelas di wajahnya. Apalagi, tubuh mungilnya yang tampak sangat kurus bergetar hebat sedari tadi.


"Rileks, Tania! Tolong tenang! Kami bukan musuh," ucap Kevin hati-hati.


"Bohong!" sanggah Tania.


"Kenalkan! Namaku, Kevin! Dan yang disana, itu Tyler dan Eugene," ucap Kevin memperkenalkan diri seraya menunjuk ke arah dua temannya yang tampak tegang melihat adegan Tania dan Kevin.


Melihat Tania tak menatap ke arah dirinya ataupun kedua temannya, Kevin mulai sedikit bingung. Sepersekian detik berikutnya,barulah otak cerdasnya bisa menebak kondisi Tania berdasarkan gestur yang diperlihatkan wanita itu. Pelan namun hati-hati, Kevin melambaikan tangannya di depan wajah Tania. Tak ada respon. Malahan, mata gadis itu terus mengarah ke bawah sejak tadi.


"Kamu buta?" tanya Kevin setelah lebih dulu menoleh ke arah dua temannya yang berdiri dibelakang.


"Kalian siapa? Dan, aku dimana? Apa kalian suruhan Gaston dan Paman Hardin?" Tania memilih mengabaikan pertanyaan Kevin dan malah melempar pertanyaan balik.


Kevin menghela napas. Tebakannya tak perlu dijawab lagi. "Turunkan pecahan kaca itu. Lihat! Tanganmu berdarah," ucap Kevin sambil mencoba merebut beling yang masih digenggam kuat Tania dengan kedua tangannya.


"Menjauh!" pekik Tania saat sentuhan Kevin terasa di atas tangannya.


"Tenang, Tania! Kami bukan orang jahat. Kami juga bukan suruhan orang-orang yang kau sebutkan tadi."


"Lalu, kalian siapa? Aku dimana?"


"Kami teman-teman Galen. Kau kenal dia?" tanya Kevin.


Mata Tania berkedip. Mendengar nama Galen disebut, sekelabat ingatan sebelum ia tak sadarkan diri mulai berputar. Ya, terakhir dirinya memang bersama pria itu. Setelahnya,ia tak ingat apapun lagi.


"Dimana dia?"

__ADS_1


"Turunkan dulu pecahan kaca itu. Berbahaya, Tania!" bujuk Kevin.


Namun, Tania bersikeras tak mau menurut. Trauma akan perlakuan Hardin, Gaston dan Julia masih sangat membekas. Ia hanya berusaha mempertahankan hidupnya. Sekalipun harus mati, namun bukan saat ini waktunya.


"Ada apa ini?"


Suara itu berhasil mengalihkan seluruh atensi orang-orang. Pun, dengan Tania. Ia hapal betul siapa pemilik suara itu.


"Kev, ada apa dengan dia?" tanya Galen seraya melangkah masuk dan meletakkan kantongan belanjaan di sebuah sofa yang berada didekat jendela.


Kevin bangkit berdiri. Lelaki berparas oriental tersebut menggeleng frustasi.


"Dia tersadar dan tiba-tiba ketakutan seperti ini," jawabnya sembari menunjuk ke arah Tania yang masih bersandar di nakas dengan pecahan kaca tajam yang ia genggam erat.


"Turunkan belingnya, Tania!" perintah Galen dengan nada datar. Pria itu mendekat. Berjongkok di hadapan Tania lalu mengambil alih beling tajam tersebut dari tangan gadis malang itu. Awalnya, terdapat penolakan. Namun, lama-kelamaan, Tania menyerah juga dan menyerahkan senjata pertahanan dirinya pada Galen.


"Kau berada di tempat yang aman. Disini, tak akan ada yang berani menyakitimu," ucap Galen.


"Kau menyelamatkanku?"


"Bukankah kau yang meminta?" Galen menyerahkan beling tajam tersebut pada Kevin.


"Kenapa?"


"Tentu saja karena imbalan." Galen menjawab singkat setelah meletakkan tubuh Tania diatas tempat tidur kembali. "Kev, obati lukanya!"


"Oke!"


Galen hendak beranjak. Namun, tangan Tania menahan pergelangan tangannya. Noda darah akibat luka yang terdapat di telapak tangan Tania bahkan ikut menempel pada jam tangan mahal Galen. Namun, lelaki itu hanya menatap sekilas tanpa protes kemudian menatap wajah Tania dengan alis mengernyit.


"Kenapa?"


"Kau sepakat untuk membantuku?" tanya Tania penuh harap.


"Kita bahas setelah kondisimu membaik!" ucap Galen sambil melepaskan cekalan Tania dari pergelangan tangannya.


"Tapi...,"


"Jadilah penurut jika mengharapkan bantuan dariku, Nona Gregson!" sergah Galen dengan nada tegas.

__ADS_1


Seketika, Tania terdiam. Ia tak berani mencegah langkah pemuda itu lagi setelah mendapat ancaman yang cukup membuatnya mati langkah. Ya, demi membalaskan sakit hati kepada Hardin, maka dia butuh partner seperti Galen.


"Pesananmu ada didalam kantongan itu, Kev!" ucap Galen sebelum benar-benar keluar.


"Thanks, Bro!" sahut Kevin dengan senyuman.


"Kami tunggu diluar saja," pamit Eugene dan Tyler yang memilih mengikuti langkah Galen.


Setelah tiga pria tadi pergi, Kevin pun mendekati Tania. Berniat untuk mengobati luka gadis buta itu sesuai perintah Galen.


"Kita obati lukamu dulu!" Itu suara Kevin, di sertai dengan sentuhan pada tangan Tania.


Akhirnya, Tania menurut saja saat Kevin mulai membersihkan luka pada kedua telapak tangannya lalu membalut luka tersebut dengan kain kasa setelah sebelumnya diberi obat agar tak infeksi. Setelahnya, selang infus kembali Kevin pasang dan ditutup dengan permintaan agar Tania kembali beristirahat.


"Jika butuh apa-apa, tinggal panggil kami saja! Aku, Eugene dan Tyler berjaga didepan."


"Apa boleh aku meminta segelas air minum?" tanya Tania.


Sontak, Kevin menepuk jidatnya. Ia bahkan lupa menawari Tania apa-apa padahal gadis itu sudah tertidur lebih dari 24 jam.


"Maaf, aku lupa!" ucap Kevin seraya mengambil air minum pada dispenser yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Minumlah!" ucap Kevin seraya membantu Tania untuk minum.


"Setengah jam lagi, akan ku bawakan bubur untukmu. Kau bisa menunggu, kan?"


Tania mengangguk sambil memegang perutnya yang memang sudah sangat lapar. Ia bahkan lupa kapan terakhir perutnya itu diisi makanan.


"Boleh aku tahu, kita sedang berada dimana dan kenapa aku bisa disini?"tanya Tania penasaran.


"Kau sedang berada di rumahku. Kemarin, Galen menelepon agar aku segera menjemput kalian di rumahnya. Kondisimu saat itu sedang tak sadarkan diri karena efek racun yang kau minum. Untungnya, racun tersebut tidak membawamu dalam kondisi yang mengancam nyawa karena Galen sudah memberi pertolongan pertama sebelum aku datang."


"Dia benar-benar menolongku?" lirih Tania tak percaya.


"Kenapa pertanyaanmu seolah meragukan perlakuan Galen?"


Tania menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak percaya saja, mengingat hubungan kami selama ini tidak terlalu baik."


Kevin hanya tersenyum menanggapi sebelum benar-benar meninggalkan Tania sendiri. Sementara itu, Galen yang sedang berada di kamar mandi sedang menatap ke arah jam rolex berwarna silver miliknya yang kini sudah kotor akibat terkena darah Tania. Niat untuk membersihkan bekas darah itu urung ia lakukan. Sebaliknya, ia memasukkan benda tersebut ke dalam saku celana sambil menyeringai tipis ke arah kaca kamar mandi.

__ADS_1


"Rupanya, kau hanya pengecut rendahan, Gaston! Bahkan, demi menyingkirkan satu perempuan lemah saja, kau butuh bantuan dua orang? Heh! Memalukan!"


__ADS_2