Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Ambisi menghancurkan rencana Gaston


__ADS_3

Sharon marah besar. Bukan karena Galen tak diurus oleh Haley dan Jeremy. Wanita itu marah, sebab uangnya telah dimakan oleh sepasang suami istri itu dengan cara yang curang yaitu menipu dirinya.


Seketika, ada yang terkoyak dalam diri Sharon. Harga diri. Martabat. Kedudukan. Popularitas sebagai aktris senior tenyata tak cukup untuk membuat semua orang menaruh hormat padanya. Malah, sekelas Haley dan Jeremy yang notabenenya merupakan pelayan rendahan di mata Sharon malah memanfaatkan Sharon habis-habisan.


"Kalian tunggu saja! Akan ku tuntut kalian berdua!" peringat Sharon sebelum menutup panggilan.


Galen menatap wajah murka Sharon dengan tajam. Lelaki muda itu menyandarkan punggungnya dengan santai. Kedua tangan terlipat didepan dada sambil bibir menyunggingkan senyum puas.


Ya, puas. Puas karena baru pertama kali bertemu kembali, dia telah sukses membuat Ibu yang telah membuangnya jadi sekalut ini.


"Kau bodoh atau apa, hah? Kenapa tidak memberi kabar jika kau sudah tak lagi tinggal dengan mereka? Dasar anak tak tahu diuntung!"


"Apa peduliku?" Sebelah alis Galen terangkat.


"Coba ulangi!" ujar Sharon seolah tak mendengar apa yang baru saja Galen katakan.


"Ku bilang, apa peduliku? Bukankah kita tak memiliki hubungan apapun, Nyonya?"


"Kau!" Telunjuk Sharon kembali mengarah ke wajah Galen. "Kau benar-benar anak tidak tahu diri! Apa kau tahu, berapa banyak uang yang sudah ku kirim untukmu melalui Haley dan Jeremy, hah?" Matanya melotot dengan dada naik-turun.


"Masa bodoh!" Galen menghela tangannya ke udara. "Lagipula, aku tak rugi apapun."


"Tapi aku yang rugi!" sergah Sharon.


"Itu masalah Anda, Nyonya! Lagipula, kalau ingin membuang salah satu anakmu, lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah seperti yang kau lakukan dulu. Jika sudah tertipu seperti ini, siapa yang salah? Aku?" Galen menunjuk dirinya sendiri lalu menggelengkan kepala. "Jelas bukan!"


"Kau...,"


"Sudahlah! Aku bosan disini. Makan pun jadi tak enak karena telingaku sakit mendengar ocehan Nyonya yang tak berfaedah!"


Galen berdiri. Menyambar jaket jeans yang ia sampirkan di punggung kursi lalu mengenakannya. Setelah selesai, ia pun membuka pintu dan hendak pergi.


"Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara!" teriak Sharon sambil menahan pergelangan tangan Galen.


Galen menatap tangan Sharon yang memegangnya. Tatapan dingin seolah ia baru saja terkena sesuatu yang sangat tidak dia sukai. Sekali sentak, pegangan Sharon terlepas dan wanita paruh baya itu terhuyung seketika.

__ADS_1


"Jangan pernah menyentuhku!" peringat Galen.


"A-Apa? Kau bilang apa?" Sharon tertawa sumbang.


"Kita tak memiliki hubungan apapun, Nyonya! Jadi, jangan sembarangan menyentuh orang seperti ini!" tukas Galen sembari menepuk-nepuk pergelangan tangannya.


"Sombong sekali kau!" Sharon mengertakkan giginya. "Kau itu hanya anak yang ku buang! Jangan sekali-kali kau berani berbuat kurang ajar padaku! Atau tidak...,"


"Apa?" Galen memajukan wajahnya ke hadapan wajah Sharon. "Katakan! Kalau tidak, apa Nyonya?"


Wanita paruh baya itu meneguk ludahnya. Terus terang, ia sedikit gentar karena hardikan putra yang sudah lama ia lupakan keberadaannya. Tak disangka, Galen tumbuh dewasa menjadi lelaki gagah dengan sifat yang sudah sangat berbeda dengan yang dulu.


"Kau berubah, Galen! Kau tumbuh jadi anak yang kurang ajar!"


Pemuda itu menyeringai. "Ya, dan Anda adalah penyebab utamanya!"


Usai mengatakan itu, Galen melangkah terburu-buru keluar dari ruangan tersebut. Sharon dengan tergopoh-gopoh menyusul putra keduanya tanpa sempat mengenakan mantel untuk menutupi penampilan seksinya. Tak ia hiraukan pandangan aneh dari beberapa pengunjung dan pelayan restoran. Yang Sharon inginkan hanyalah memaksa Galen untuk kembali ke kota Haley. Ia tak ingin anak itu menetap di kota yang sama dengannya.


"Galen, tunggu!" teriak Sharon.


"Mau kemana kau, Galen? Tunggu!" teriak Sharon.


Tiba di parkiran, Galen mau tak mau harus berhenti karena ia sedang menunggu taksi online pesanannya yang mungkin akan tiba lima menit lagi. Di saat itulah, Sharon akhirnya memiliki kesempatan untuk sejajar dengan Galen lagi.


"Kau harus pulang ke orangtua angkatmu, Galen! Jangan disini! Aku tak sudi kau tinggal dirumahku!" ucap Sharon menggebu-gebu.


Galen menoleh lalu mendengkus setelah mendengar perintah Sharon yang lebih tepat disebut sebagai paksaan.


"Siapa bilang, aku akan tinggal dirumahmu?"


"Lalu, kau ingin tinggal dimana? Di pinggir jalan atau di kolong jembatan?"


Galen memutar bola matanya malas. Semiskin itukah dirinya dalam pikiran ibu kandungnya sendiri?


"Tentu saja di rumah yang sekarang dikuasai oleh anak kesayangan Nyonya!" jawab Galen santai.

__ADS_1


"Apa?" Sharon terkejut bukan main. "Tidak," geleng wanita paruh baya itu. "Kau tidak boleh tinggal di sana. Aku tidak setuju!"


"Setuju atau tidak, aku akan tetap tinggal disana. Nyonya jangan lupa! Rumah itu pemberian dari Ayah kandungku khusus untukku! Rumah itu adalah kompensasi dari kehidupan yang ku jalani tanpa kasih sayang darinya. Dan, jangan lupa! Sertifikat rumah itu juga atas namaku. Galen Nicholas Adolf!"


Tungkai Sharon melemas. Tanpa sadar, langkahnya surut kebelakang beberapa langkah. "Da-darimana kau tahu?"


Galen tersenyum miring. "Itu rahasia. Yang jelas, aku tahu segalanya, Nyonya! Termasuk, saham perusahaan milikku yang kau jual secara sembunyi-sembunyi demi membiayai para berondong simpananmu itu! Begitu pun dengan Gaston. Aku tahu bahwa dia juga mendapatkan bagian dari sahamku yang kalian jual!"


"Lalu, kau mau apa, hah?" teriak Sharon yang masih berusaha menunjukkan taring di depan anak kucing yang kini telah menjelma menjadi singa.


"Tentu saja menuntut hakku kembali!"


"Tidak," geleng Sharon. "Sejak awal, semua memang milik Gaston. Kau tidak memiliki apa-apa, Galen! Kau hanya anak yang tidak diinginkan oleh siapapun untuk terlahir ke dunia. Baik Ayahmu maupun aku, kami sama-sama tidak menginginkanmu!"


"Kalau begitu, kenapa tak bunuh aku saja saat masih didalam kandungan, Nyonya Sharon?" balas Galen berteriak.


Sharon terdiam. Harus ia jawab apa pertanyaan itu? Sejujurnya, dulu ia pernah ada niatan untuk melenyapkan Galen saat masih didalam perut. Tepatnya, ketika suaminya memutuskan pergi bersama wanita idaman lain dan menceraikannya dalam keadaan hamil. Namun, sisi keibuan Sharon tak mengizinkan hal tersebut. Sejahat-jahatnya dia, mana mungkin Sharon tega menghabisi darah dagingnya sendiri.


"Ingat, Nyonya! Anda harus membayar semua penderitaan, waktu dan harta yang telah kau dan putramu rampas dariku! Kalau tidak, lihat saja! Rencana putramu untuk menjadi konglomerat kaya dengan menikahi gadis buta itu akan berantakan!"


Galen berucap seiring kedatangan taksi yang ia tunggu. Pemuda itu pun membuka pintu. Hendak masuk, saat Sharon menahan pergelangan tangannya sekali lagi sambil memukul Galen sekuat tenaga.


"Jangan pernah coba-coba menghalangi putraku mencapai apapun yang dia inginkan, Galen! Kalau kau berani, maka kau harus menghadapi aku lebih dulu!"


BuGH! BuGH! BuGH!


Pukulan Sharon kian membabi buta. Sang supir taksi hanya melihat dengan mulut menganga. Sementara, Galen tampak pasrah menerima pukulan Sharon yang terus menghantamnya secara bertubi-tubi. Hingga pada pukulan terakhir, Sharon tanpa sadar memukulkan ujung tasnya yang lumayan runcing ke wajah Galen hingga wajah pemuda itu sedikit tergores.


Perih. Namun, hati Galen jauh lebih perih. Saat itulah, sang supir taksi turun dan mencoba melerai keduanya. Ia membawa Sharon agak menjauh. Dan, Sharon pun menurut. Ia juga syok karena tak menyangka akan membuat Galen berdarah walaupun hanya segaris tipis yang sama sekali tidak akan fatal.


"Melihat Nyonya seperti ini, hasratku untuk menghancurkan Gaston terasa lebih menggebu," kata Galen sambil masuk ke dalam taksi dan mengunci pintu.


Sharon menggedor-gedor kaca sambil mengumpat kasar. Galen tak peduli. Ia malah meminta sang supir untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Hahahaha..," Galen menyandarkan punggungnya. Kepala menengadah ke atas dengan tangan yang ia letakkan didahi. "Akan ku buat putramu kesayanganmu itu menderita, Nyonya Sharon! Gaston juga harus merasakan seluruh penderitaan yang pernah aku alami."

__ADS_1


__ADS_2