Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Dua binatang


__ADS_3

"Mau kalian apakan aku?" tanya Tania histeris saat Gaston dan Julia menyeretnya paksa.


"Diam, Tania! Tak usah berteriak seperti itu. Kupingku sakit mendengar suara sumbangmu," cetus Julia kesal.


"Lepaskan! Aku ingin menemui Paman Hardin. Lepas!" teriak Tania yang masih berusaha memberontak.


"Diam!" seru Gaston tertahan. Ia menjambak rambut Tania hingga sanggul wanita itu terurai. Rasanya sungguh sakit luar biasa.


"Sa-kit Gaston!" ringis Tania karena rambutnya terasa dipaksa lepas dari kulit kepala.


"Makanya diam dan menurut atau aku bisa lebih kejam dari saat ini," ancam Gaston.


Tania akhirnya menurut pasrah. Tenaganya telah terkuras sia-sia. Ia pun didudukkan di sebuah kursi. Kembali, gadis itu terkesiap kala kedua tangannya diikat oleh sepasang kekasih jahanam itu.


"Apa-apaan ini? Lepaskan!" pinta Tania gusar.


CUP!


Gaston mengecup pipi Tania singkat lalu tersenyum mengejek ke arah istri butanya. " Jadilah anak yang manis, Tania! Diamlah disini! Aku dan Julia akan memperdengarkan mu sebuah alunan kenikmatan yang tak akan pernah bisa kau lupakan!" Gaston manarik napas lalu mengelus lembut pipi Tania dengan punggung tangannya. "Andai saja kau bisa melihat, pasti akan lebih seru, bukan?"


Setelah mengucapkan kalimat panjang lebar, Gaston dan Julia memulai kembali aksi panas mereka. Julia bahkan dengan sengaja mendesah keras saat Gaston memanjakannya dengan lidah dan alat tempur lelaki itu.


"Yes, Baby! Yeah! Like that!" racau Julia seraya menatap sinis ke arah Tania yang menutup mata sambil menangis dalam diam.


Suara ******* bersahutan dari kedua insan yang sedang bergumul di kasur yang seharusnya menjadi milik Tania malam ini, membuat Tania benar-benar hancur. Harga dirinya sungguh dijatuhkan ke titik terendah oleh suaminya sendiri.


Entah berapa lama aksi panas itu berlangsung, Tania tak dapat memperhitungkan lagi. Hatinya terlampau hancur untuk sekadar menghitung berapa lama waktu telah berlalu.


"Bagaimana tadi? Kau suka mendengarnya, kan?" tanya Julia yang sedang mengenakan pakaian dihadapan Tania.


"Ya, aku suka! Suara kalian mirip seperti binatang," jawab Tania.


Mata Julia seketika membola. Masih dengan hanya mengenakan pakaian dalam, ia menghampiri Tania lalu menampar pipi istri sah kekasihnya itu secara membabi buta.


"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi jika kau berani!"


"Bi-na-tang!" kata Tania yang malah mengeja dengan perlahan agar Julia semakin murka.


PLAK!

__ADS_1


Julia menampar Tania lagi.


"Sekarang, masih berani?" tantang Julia dengan senyum kemenangan.


"Binatang!" umpat Tania.


PLAK!


Untuk ke sekian kali, tamparan mendarat di pipi Tania sampai tangan Julia sendiri yang terasa kebas dan memerah saking tak terbilangnya tamparan yang dia beri untuk Tania.


"Segitu saja? Apa tanganmu sudah sakit?" cibir Tania. Tak peduli bibirnya yang robek atau pipinya yang memerah semua, gadis itu masih menantang Julia.


"Kurang ajar!" Tangan Julia kembali terangkat.


"Julia! Apa yang kau lakukan? Sudah cukup!" teriak Gaston yang baru saja selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi. Ia lekas berlari menahan pergelangan tangan sang kekasih sebelum mendarat lagi di pipi Tania yang sudah bengkak.


"Jangan halangi aku, Gaston! Dia memang pantas diberi pelajaran!" kata Julia yang masih tersulut emosi.


"Apa kau tak lihat kondisinya?" tanya Gaston sambil menghempas tangan Julia dengan kasar. "Kau mau orang-orang curiga dengan kondisinya, hah?"


Julia terdiam. Sekarang, ia bisa melihat dengan jelas kondisi Tania yang ternyata lumayan parah setelah amarahnya sedikit bisa teredam.


"Memangnya, kau lihat seperti apa, hah? Dasar bodoh!" ketus Gaston memarahi Julia. "Sekarang, ambil es batu dan kompres pipinya agar tidak terlalu bengkak. Jangan sampai ada yang curiga pada kondisinya atau kau yang akan dapat masalah, Julia!" ancam Gaston tak main-main.


Ya, Tania adalah lumbung uangnya. Mana mau dia jika seseorang menyadari bahwa Tania sudah memperoleh kekerasan bahkan dimalam pengantin mereka. Bisa gagal dirinya memperoleh kedudukan sebagai Tuan muda Gregson yang terpandang dan di hormati. Apalagi, Hardin sudah mewanti-wanti untuk tak memantik kecurigaan Benjamin Azof. Pria itu bisa menghancurkan semua rencana yang mereka bangun jika Julia bertindak sebar-bar ini.


"Ini esnya," kata Julia sambil menjulurkan satu ember besi kecil berisi es batu dan sebuah kantung kompresan.


Sontak, Gaston mendelik pada sang kekasih. "Kau bodoh atau apa? Lakukan sendiri! Cepat!" hardiknya yang langsung membuat Julia cepat-cepat mendekati Tania yang masih dalam keadaan terikat dan mengompres pipi gadis buta itu.


*


Entah sejak kapan dan berapa lama Tania tertidur. Tahu-tahu, ia terbangun saat suara Gaston samar-samar tertangkap diindra pendengarannya diiringi tendangan kecil pada sepasang tungkainya.


"Bangun, pemalas!" ucap Gaston.


Mau tak mau, Tania terbangun. Terasa ada yang melepaskan ikatan di kedua pergelangan tangannya. Perih! Itu kesan pertama yang Tania tangkap setelah tali benar-benar membebaskan pergelangan tangannya.


"Cepat mandi dan bersiap! Julia akan membantumu berpakaian dan berdandan agar terlihat rapi dan cantik dihadapan Pamanmu!" titah Gaston.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri!" ketus Tania.


Gaston berdecak lalu tertawa sinis. "Orang buta sepertimu memangnya bisa berdandan? Jangan melawak, Tania!"


"Tutup mulutmu, Gaston!" geram Tania.


Gaston terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah mendekati Tania dan kembali menjambak rambut terurai gadis itu.


"Jangan pernah berani mengancam ku, Tania! Kau hanya gadis buta yang tak bisa apa-apa.Beruntung, masih ada aku yang Sudi memungut sampah sepertimu!"


Tania berdecih sinis. Sampah Gaston bilang?


"Bukannya kau yang sampah, Gaston?"


Amarah Gaston kian memuncak. Napasnya sudah memburu mendengar perlawanan dari Tania. Sepertinya, Gaston harus lebih ekstra untuk menekan mental Tania agar semakin terpuruk dan jatuh. Jika perlu, Tania harus dia buat depresi dan jadi gila. Itulah tugas utamanya dari Hardin.


Tarikan di rambut Tania kian dieratkan. Kepala gadis itu semakin mendongak mengikuti arah tarikan rambutnya. Wajah Gaston lalu mendekat. Ia mencium pipi Tania lalu berbisik lirih.


"Kalau bukan karena Pamanmu ingin bertemu denganmu hari ini, sudah ku pastikan kau akan menderita dibawah siksaanku, Tania!"


"Kau takut pada Pamanku rupanya. Hah!" sinis Tania yang masih belum tahu bahwa lelaki yang kini bersamanya merupakan komplotan sang Paman.


"Awas kalau kau berani mengadu! Aku akan membuat Pamanmu celaka jika kau memang berani kurang ajar!" ancam Gaston sambil mendorong tubuh Tania ke arah depan.


Gadis buta itu terbentur tembok. Sedikit sakit di area jidat, namun setidaknya tidak lebih sakit dari jambakan Gaston tadi.


Tania berjalan tertatih menuju kamar mandi sesuai instruksi Julia yang setengah hati. Setelah selesai, ia juga memakai baju yang telah disiapkan Julia. Selingkuhan sang suami juga tak lupa mendandani Tania agar nampak cantik dan luka di wajahnya bisa tersamarkan sempurna.


"Sempurna! Lukanya benar-benar tak terlihat!" puji Gaston pada keahlian tingkat tinggi Julia. "Kau yang terbaik, Sayang!"


"Tentu saja."


"Sekarang, kita bawa dia untuk menemui Pamannya direstoran bawah!"


"Ayo!"


Sepasang kekasih itu lalu menuntun Tania menuju keluar. Tepat ketika lift tiba di lantai yang dituju, Gaston langsung meraih tangan Tania dan menyuruh gadis itu untuk menggandeng lengannya seperti pasangan pengantin baru yang berbahagia pada umumnya.


"Ingat ancamanku tadi!" bisik Gaston kembali.

__ADS_1


Tania tak bersuara. Ia hanya mengikuti kemana langkah Gaston akan membawanya.


__ADS_2