Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Kedatangan tamu


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, Tania dengan terpaksa harus satu mobil dengan Gaston dan Julia. Dia duduk di bangku depan. Bersebelahan dengan supir, sementara Gaston dan Julia duduk di bangku belakang. Suara sepasang kekasih yang saling memadu kasih dengan rayuan dan ciuman panas membuat Tania merasa jijik luar biasa. Kedua tangannya terkepal kuat. Hatinya memanas. Tak bisa ia pungkiri, walau tidak mencintai Gaston, namun rasa cemburu tetap ada karena menyadari bahwa lelaki yang saat ini sedang bermesraan dengan wanita lain dibelakangnya itu adalah suami sahnya.


"Tidak bisakah kalian melakukan hal menjijikkan seperti itu dirumah saja?" tegur Tania yang semakin tak tahan dengan suara-suara khas Julia yang membuat telinganya sakit.


"Kau berani menegur kami?" tanya Julia tak percaya.


"Tentu saja! Aku berhak!" jawab Tania.


Julia dan Gaston saling berpandangan lalu tertawa bersamaan. Kemesraan keduanya akhirnya harus ditunda dulu. Kancing baju Gaston yang telah dibuka Julia kembali dirapikan. Pun, dengan kemeja ketat milik Julia. Mereka membenahi pakaian masing-masing dan memperbaiki duduknya setelah sebelumnya Julia duduk dipangkuan Gaston.


Sang supir bernapas lega. Setidaknya, ia bisa kembali konsentrasi mengemudikan mobil tanpa harus terganggu fokusnya oleh aktifitas kotor yang seringkali Gaston lakukan bersama Julia tanpa peduli keberadaannya. Tak jarang, hasrat sang supir sering terpancing kala melihat tubuh setengah polos Julia yang bisa ia lihat melalui kaca spion mobil.


"Memangnya, kau pikir kau siapa, hah?" Julia mencondongkan badan. Menoyor kepala bagian belakang Tania dengan telunjuknya sambil tertawa merendahkan.


Tania menggertakkan giginya. Andai ia bisa melihat, sudah dipastikan Julia tak akan bebas memperlakukan dia seperti ini. Setidaknya, menghadapi Julia masih mungkin bisa ia lakukan.Berbeda cerita, andai Gaston memilih untuk turun tangan membela sang kekasih.


"Sudah, Sayang! Berbahaya jika kau bertengkar dengan si buta itu di tengah perjalanan," ucap Gaston menengahi seraya menarik pinggang Julia agar menjauhi Tania.


"Kau mulai membelanya?" Mata Julia mendelik. Tangan Gaston yang masih merapat dipinggang ia singkirkan dengan kasar. "Apa kau mulai menyukai gadis buta ini Gaston?"


Yang ditanya hanya menggeleng sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi. Tampak ia memijit pangkal hidungnya mendengar pertanyaan konyol sang kekasih. Jatuh cinta? Pada perempuan cacat seperti Tania? Ayolah! Gaston masih cukup normal untuk menilai wanita dari kesempurnaan fisik. Walau tak bisa ia pungkiri, wajah Tania cukup cantik meski tak pernah di poles make-up, namun sekali lagi, kesempurnaan fisik adalah hal paling utama bagi Gaston.


"Kalau begitu, ladeni saja dia bertengkar. Dan, jika Norris sampai terganggu dalam menyetir dan membuat kita semua kecelakaan, itu semua salahmu dan juga si buta ini," jawab Gaston. Kakinya menendang sandaran kursi Tania cukup keras hingga gadis itu tersentak kaget.


Perjalanan pun dilanjutkan dalam hening. Hingga tak terasa, mobil sudah berbelok memasuki sebuah rumah cukup megah bergaya Eropa klasik dengan penampakan air mancur di halamannya. Semua turun dari dalam mobil begitu kuda besi tersebut berhenti.


"Bibi Ruth! Bibi!" panggil Gaston kepada salah seorang pelayan kepercayaannya.


"Ya, Tuan!" sahut Bibi Ruth yang tergopoh-gopoh melangkah keluar menemui tuannya.

__ADS_1


"Bawa si buta ini ke kamar yang sudah aku siapkan! Jangan lupa, beritahu apa-apa saja pekerjaannya selama menumpang di rumah ini!" titah Gaston kepada wanita berbadan gempal dan bertubuh pendek itu.


Bibi Ruth menatap Tania dengan prihatin. Sedikit banyak, wanita berumur 40 tahun tersebut, tahu kedudukan Tania di rumah itu. Dia yang seharusnya jadi Ratu malah dijadikan babu. Parahnya lagi, itu dilakukan oleh suami Tania sendiri.


"Kemarilah, Nyonya! Saya akan menunjukkan dimana kamar Anda berada," ucap Bibir Ruth seraya menuntun Tania.


"Jangan panggil dia Nyonya!" sergah Julia. "Dia itu kedudukannya sama dengan pelayan yang lain, Bibi Ruth! Dia bukan Nyonya di rumah ini. Akulah Nyonya yang sebenarnya!" imbuh Julia dengan tatapan nyalang.


Ruth langsung tertunduk. Tak ada pembelaan yang keluar dari mulutnya. Ia terus menuntun Tania masuk ke dalam walau Julia masih berteriak menegaskan tentang kedudukannya di rumah itu.


"Pecat saja pelayan kurang ajar itu, Gaston!" pinta Julia sambil menghentakkan kakinya ke lantai karena Ruth mengabaikan omelannya.


"Jangan mengada-ada, Julia! Bibi Ruth adalah pelayan yang sudah ikut denganku selama hampir sepuluh tahun lebih. Dia yang paling tahu apa yang aku sukai dan tidak aku sukai dirumah ini. Jadi, jangan coba-coba melakukan apapun terhadapnya atau aku akan membuat perhitungan denganmu!"


Gaston memang termasuk orang yang sedikit perfeksionis. Segala sesuatu mulai dari pakaian, peralatan mandi bahkan makanan, dia memiliki kriteria tersendiri jika dirumah. Dan, yang tahu semua itu hanya Bibi Ruth. Hanya wanita itu yang mengerti apa yang Gaston butuhkan di situasi tertentu tanpa harus bicara panjang lebar. Wajar, jika dia sangat mempertahankan Ruth di rumah tersebut karena merupakan salah satu orang yang memiliki andil besar kedua dalam pengaturan rumah tangga setelah Gaston. Tak jarang, Julia merasa cemburu terhadap Ruth karena merasa Gaston lebih membela Ruth daripada dirinya dalam beberapa aspek tertentu.


"Ini kamar Anda, Nyonya!" ucap Ruth sambil membawa Tania duduk di atas kasur.


Kamar tersebut tidaklah luas. Hanya berukuran 3x4 meter dengan perabotan seadanya. Hanya ada satu lemari kecil satu pintu, satu buah kipas angin kecil dan juga sebuah ranjang yang ukurannya hanya muat untuk satu orang.


"Jangan panggil saya Nyonya. Panggil Tania saja, Bi! Toh, keberadaan saya sama sekali tidak dianggap oleh suami saya sendiri di rumah ini," kata Tania sambil meraba-raba ke sekitar. Perkenalan awal untuk menghapal seluk beluk kamar tidur barunya.


"Yang sabar, ya Tania," kata Ruth sambil menghembuskan napas pelan.


Tania hanya membalas dengan senyuman kecil. Bersabar? Tentu ia memang harus melakukannya. Keselamatan Hardin adalah yang utama. Walau dia harus hidup dikubangan neraka seperti ini, tak apa. Demi melindungi keluarga satu-satunya yang masih dia miliki, Tania semampu dan sebisa mungkin akan terus bertahan.


"Setelah ini, saya akan memberitahu tugas Nyonya di rumah ini," kata Ruth lagi.


Tania mengangguk. Gadis itu berdiri lalu mencari-cari keberadaan tongkatnya. Setelah dapat, ia dan Ruth memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mengetahui apa-apa saja tugas Tania selama tinggal di neraka suaminya.

__ADS_1


"Anda hanya perlu menyiram tanaman dan juga mencuci piring. Selain itu, sesekali Anda juga harus menyikat kamar mandi, dan membantu pelayan lain untuk memasak."


Tania mengangguk mengerti. Setelah di beritahu spot-spot mana saja di rumah itu yang akan menjadi tanggung jawabnya, ia kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Tania! Dimana kau?" teriak Julia yang membuyarkan rasa nyaman yang sempat Tania rasakan saat nyaris terlelap.


"Hai, kau dengar aku? Tania!" panggil Julia lagi. Kali ini, suaranya terdengar semakin dekat.


BRAK! Pintu terbuka kasar akibat ditendang Julia.


"Disini rupanya kau, hah?"


Tania yang baru bangkit dari pembaringan berusaha meraih tongkat lipat yang ia letakkan diatas nakas. Namun, belum sempat di raih, Julia sudah lebih dulu menjambak rambut panjangnya hingga ia jatuh dari ranjang dan terduduk di lantai.


"Sakit, Julia!" ringis Tania. Air matanya keluar karena tak kuasa menahan sakit dikulit kepala. Terbersit dalam pikiran, haruskah ia memotong rambut saja? Pasalnya, rambut selalu menjadi sasaran pertama Julia dan Gaston saat mulai menyakitinya.


"Enak sekali kau malah santai-santai disini, sementara pelayan lain sedang sibuk bekerja!"


"Bibi Ruth yang memintaku berisitirahat dulu, Julia!"


"Aku tidak peduli! Yang harus kau patuhi dirumah ini adalah aku dan kekasihku, Gaston. Bukan malah pelayan rendahan seperti Ruth!"


"Lepaskan rambutku, Julia. Sakit sekali!" pinta Tania.


"Sakit?" Julia makin mengencangkan tarikannya. "Rasakan ini!" Ia berniat menampar Tania, namun suara gaduh dari arah luar membuat ia urung melakukan hal tersebut.


"Ada apa diluar?" gumam Julia heran. "Kau disini dulu!" ucap Julia sambil melepaskan jambakannya dari rambut Tania.


Perempuan berpenampilan seksi itu tergopoh-gopoh keluar dari kamar Tania menuju ke depan. Tepat ketika di ruang tamu, ia memekik kaget saat melihat kekasihnya jatuh tersungkur setelah di beri bogem mentah oleh seorang pria bermata hazel yang baru pertama kali Tania lihat.

__ADS_1


__ADS_2