
Sudah hampir dua Minggu semenjak peristiwa naas itu terjadi. Kondisi Tania sudah semakin membaik bahkan bisa dianggap telah sembuh total. Selama itu pula, Hardin kalang kabut mencari keberadaan sang keponakan yang sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun setelah menghilang di hari itu.
Satu-satunya tersangka yang Hardin curigai juga tidak pernah menunjukkan gelagat aneh. Galen bertindak dengan normal seperti biasa dan tak pernah ke tempat yang membuat Hardin menaruh curiga pada pemuda itu.
Sejak menghilangnya Tania, banyak hal yang telah terjadi. Gaston dan Julia dipecat karena dianggap tak becus bekerja di kantor. Sementara, Hardin harus menghadapi seribu pertanyaan dan kecurigaan dari Benjamin yang terus-menerus mempertanyakan keberadaan Tania. Sementara, Sharon nyaris menghabiskan seluruh waktunya hanya demi menuntut Haley mengembalikan semua uangnya lewat persidangan yang sampai kini masih terus bergulir. Hanya Galen, yang tampak menikmati hidup seperti biasa tanpa beban berarti.
"Mau kemana kau?"
Suara itu membuat langkah Galen terhenti. Pemuda bermanik hazel tersebut menoleh dan mendapati keberadaan sang Ibu yang sedang menatapnya penuh kemurkaan.
"Itu bukan urusan Anda," jawab Galen dengan nada dingin.
Sharon menatap geram sang putra yang semakin hari semakin sulit untuk ia kendalikan. Galen benar-benar menjadi sosok yang begitu mirip dengan Ayahnya. Baik dari segi fisik maupun kepribadian. Hal tersebut, semakin membuat api kebencian Sharon berkobar dari hari ke hari.
"Apa kau tak lihat bahwa saudaramu sedang kesulitan, hah? Tapi, dengan tak tahu dirinya kau malah selalu pergi dari rumah tanpa berniat membantu saudaramu sedikitpun. Benar-benar anak tak tahu diri!"
Galen hanya tersenyum miris menanggapi omongan nyelekit sang Ibu. Hatinya sudah terlanjur membatu untuk sekadar merasa iri pada Gaston yang selalu mendapatkan limpahan kasih sayang dari Sharon. Bahkan, saat Gaston terbukti memiliki hutang pada rentenir yang jumlahnya begitu fantastis, Sharon sama sekali tak marah dan malah menganggap Galen sebagai akar dari semua permasalahan yang menimpa Gaston. Katanya, andai Galen tak kembali dan mengambil alih semua hal yang selama ini Gaston nikmati, tentu Gaston tak akan mengambil hutang pada rentenir dan harus menderita seperti sekarang.
Padahal, semua yang Galen ambil adalah murni miliknya sendiri. Hak mutlak secara hukum yang tak bisa diutak-atik oleh siapapun termasuk Sharon.
"Gaston bukan urusanku, Nyonya! Bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa aku ini bukan siapa-siapa bagi kalian? Jangan lupa, orangtuaku adalah Haley. Bukan Anda!" balas Galen sembari menunjuk wajah Sharon.
"Kalau begitu, kembalikan saham dan surat-surat rumah yang telah kau kuasai! Karena, semua itu adalah warisan dari Ayah putraku!" teriak Sharon dengan tatapan nyalang.
Galen semakin ingin tertawa mendengar ucapan sang Ibu. Entah terbuat dari apa otak perempuan yang telah melahirkannya itu sampai-sampai bisa meminta sesuatu yang sama sekali tak masuk akal.
"Dengar, Nyonya!" geram Galen. "Ayah dari putra Anda adalah Ayahku juga!"
"Tak sudi aku mengakui kau sebagai putra dari suamiku!" teriak Sharon tak terima.
__ADS_1
"Anda menolak sampai seribu kali pun, kenyataan tak akan pernah bisa berubah. Bukan hanya darah dari Ayah putramu itu yang sama denganku. Tapi juga wajahnya!"
Sharon tak mampu berucap apapun lagi. Ucapan telak dari Galen cukup membungkam mulutnya. Benar kata Galen. Wajahnya memang mirip sekali dengan Ayah kandungnya.
*
Setelah memarkirkan mobil dan memastikan kondisi sekitar aman, Galen melangkah memasuki sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Tanpa buang-buang waktu, Galen bergegas menuju halaman belakang sesuai instruksi dari Eugene melalui pesan singkat.
Sesampainya disana, dilihatnya Kevin dan Tyler yang sedang berenang di kolam renang. Sementara, Eugene tampak duduk di gazebo bersama Tania yang nampak ikut tertawa karena mendengar lelucon dan kejahilan dari tiga teman baik Galen tersebut.
"Galen!" panggil Eugene sumringah saat menangkap keberadaan sahabat baiknya.
"Bagaimana Tania?" tanya Galen setelah memeluk Eugene singkat sambil melirik ke arah Tania.
"Seperti yang kau lihat! Dia baik-baik saja dan sangat bahagia selama tinggal bersama kami. Iya kan, Tania?" tanya Eugene seraya menepuk bahu Tania.
"Kita perlu bicara!" ucap Galen pada Tania.
Kevin dan Tyler segera keluar dari kolam renang dan menyambar handuk yang telah mereka siapkan di pinggir kolam. Setelah itu, keduanya bersama Eugene pamit masuk ke dalam dan membiarkan Galen dan Tania untuk bicara serius.
"Aku ingin bertemu dengan Paman Ben."
"Kau ingin melibatkannya dalam rencana balas dendammu?" tanya Galen dengan alis berkerut.
"Mau tak mau, dia harus terlibat. Bukankah, pengalihan seluruh hartaku menjadi atas namamu memang harus melibatkan Paman Ben?"
Mendengar itu, Galen langsung menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia tak menyangka, kalau Tania ternyata benar-benar serius pada janjinya.
"Kau benar-benar ingin memberiku semua hartamu?" tanya Galen.
__ADS_1
"Tentu saja!" angguk Tania. "Asal kau mau membantuku balas dendam, maka semua milikku boleh kau ambil."
"Kau tidak takut miskin?"
Tania tersenyum miris. "Mungkin, hidupku akan jauh lebih tenang andai harta itu tidak pernah ku miliki."
"Kalau begitu,berikan saja pada Paman dan suamimu yang serakah itu,"pancing Galen yang penasaran dengan reaksi Tania.
Gadis buta menggeleng. "Tidak akan pernah!" Tangannya terkepal erat mengingat perbuatan buruk apa saja yang selama ini telah kedua lelaki itu lakukan terhadapnya. "Mereka tidak pantas menikmati harta yang susah payah orangtuaku dapatkan."
"Lalu, menurutmu aku pantas?"
Tania meneguk ludahnya. "Aku tidak peduli! Yang penting, kau harus memenuhi janjimu untuk membantuku balas dendam! Setidaknya, Paman Hardin harus mendapatkan pelajaran berharga sebelum ku tendang masuk ke dalam penjara!"
"Kau siap dengan skenario apapun yang akan ku berikan padamu?"
Tania berpikir sesaat sebelum mengangguk tanpa ragu. Semuanya sudah ia pikirkan matang-matang. Mengenai pengalihan hartanya atas nama Galen dan juga peran apapun yang akan Galen berikan untuk ia lakoni dalam rencana balas dendamnya. Jika Hardin selama ini mampu berakting apik dalam menipu Tania,maka sekarang adalah giliran Tania. Tak peduli seburuk apapun ia nantinya, asal balas dendamnya terpenuhi, Tania tak masalah.
"Kalau begitu, jadilah kekasihku!" ucap Galen yang sontak membuat Tania melebarkan matanya.
"A-Apa?" tanyanya dengan keterkejutan yang memenuhi seluruh wajahnya.
"Ya, jadilah kekasihku, Tania! Itu rencananya!"
Tania meneguk ludahnya kasar. Mendadak, jantungnya berdebar tak karuan mendengar ucapan yang meluncur tanpa beban dari mulut Galen.
"Maksudmu, kita jadi pasangan selingkuh?" tanya Tania gugup.
"Jika Gaston bisa selingkuh, maka kau pun juga bisa selingkuh!" ucap Galen. "Manfaatkan aku selama yang kau mau, Tania! Aku jamin, Paman dan suamimu pasti akan kalang kabut jika melihat kau kembali sebagai selingkuhan si pemilik rumah!"
__ADS_1