Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Usaha yang gagal


__ADS_3

"Aku tidak mau tahu! Pokoknya, kalian harus cari dimana keberadaan Tania sekarang juga!" pekik Hardin murka.


Nyaris lima jam tak sadarkan diri, Hardin seperti orang kesetanan saat menyadari bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Dimulai dari bangunnya ia dalam keadaan pusing dan kepala terasa berat, dengan langkah terseok ia naik ke atas untuk mengecek keadaan Tania. Betapa murkanya lelaki paruh baya itu saat mendapati ruangan tersebut kosong tak berpenghuni sama sekali.


Sambil mengumpulkan kesadaran, ia kembali turun ke bawah dan memaksa Julia serta Gaston untuk lekas bangun dan membantunya mencari keberadaan Tania.


"Siapa yang sudah berani menganggu rencana besarku, hah?" teriak Hardin frustasi sambil menjambak rambutnya.


"Apa dirumah ini tak ada CCTV?" imbuhnya sambil menatap nyalang ke arah Julia dan Gaston.


Kedua manusia itu menggeleng. Bagaimana mungkin mereka memasang CCTV sementara nyaris setiap hari mereka melakukan hubungan badan serta menyiksa Tania hampir disetiap sudut rumah? Itu sama saja dengan memasang perangkap untuk diri sendiri.


"Bodoh! Benar-benar otak udang kalian!" Lagi, Hardin berteriak kasar.


"Bagaimana kalau Tania melaporkan kita ke polisi?" cicit Julia yang tiba-tiba saja merasa ketakutan.


"Jangan memperkeruh keadaan, Julia!" sergah Gaston mengingatkan. Ia melirik takut ke arah Hardin.


"Tapi, memang benar, kan? Sepertinya, ada seseorang yang telah diam-diam mengetahui rencana kita dan membantu Tania." Julia berucap dengan mimik muka yang panik.


Gaston melotot ke arah sang kekasih. Kepalanya menggeleng, memberi isyarat agar mulut Julia berhenti mengucapkan hal-hal yang semakin akan memperumit keadaan. Sementara, Hardin sepertinya sedang berpikir keras. Yang diungkapkan Julia memang ada benarnya. Jelas, rencananya telah disabotase seseorang dengan begitu sempurna. Namun, pertanyaannya adalah, siapa pelakunya? Benjamin? Ah! Mustahil!


"Apa kalian punya musuh?" selidik Hardin.


Gaston menggeleng. Namun, sesaat kemudian, di kepalanya terlintas satu nama.


"Galen?" lirihnya pelan nyaris tak terdengar.


"Galen?" Hardin membulatkan mata. "Adikmu?"


"Bisa jadi, dia dan Tania diam-diam melakukan kerja sama untuk membalas perbuatanku dan Ibu," jawab Gaston. Ya, satu-satunya suspek yang wajib di curigai hanyalah Galen.


"Kurang ajar!" Hardin meninju permukaan meja dengan geram. "Berani sekali bocah ingusan itu cari gara-gara denganku!"


Bersamaan dengan itu, yang di bicarakan baru saja tiba dan hanya menatap malas ke arah tiga orang yang sedang berkumpul di ruang tengah tersebut. Langkahnya dengan teratur menuju ke kamarnya. Galen hendak mandi dan berganti pakaian sebelum pergi lagi. Namun, secepat kilat, Gaston menyusulnya lalu menahan lengan sang adik.


"Lepaskan!" titah Galen sambil menghentakkan lengannya hingga cengkraman Gaston terlepas seketika.


"Darimana saja kau?" tanya Gaston basa-basi.


Galen melipat dahinya. "Sejak kapan kau berubah jadi Abang yang perhatian, Gaston?"

__ADS_1


Gaston mendengkus mendengar sindiran sang adik. Namun, secepat mungkin ia kembali mengatur emosinya. "Kau yang membawa pergi Tania?" tanyanya.


"Tania?" Galen memicing. "Memangnya, ada urusan apa antara aku dan istrimu sehingga aku harus membawanya pergi?"


Gaston terlihat salah tingkah. Pernyataan Galen cukup membuat otak Gaston seketika buntu untuk melanjutkan interogasi. Apalagi, andai Galen benar-benar tidak terlibat dengan hilangnya Tania, maka justru akan berakibat fatal terhadap dirinya sendiri andai Galen tahu bahwa dirinya hendak melenyapkan Tania dengan cara meracuni gadis malang itu.


"Galen!" sergah Hardin. Pria paruh baya itu mendekati Galen dengan senyum ramahnya. Akting apik dari aktor kelas atas yang memang pandai memainkan lakon sesuai kondisi.


"Jangan tersinggung dulu dengan ucapan Gaston." Hardin menarik napas. "Begini, Tania menghilang dan kami tidak tahu sama sekali, dimana sekarang Tania berada. Kami hanya ingin memastikan, barangkali kau melihat Tania disuatu tempat atau tidak."


"Bukankah Tania selalu berada di rumah? Bagaimana mungkin dia bisa menghilang begitu saja?"


"Tadi, kami tertidur setelah meminum teh yang sepertinya sengaja dicampur seseorang dengan obat tidur. Dan, begitu kami terbangun, Tania ternyata sudah tidak ada."


"Jadi, maksud Paman, seseorang menculik Tania?" tanya Galen dengan alis yang terangkat sebelah.


Hardin mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Kalau begitu, lapor polisi saja. Beres, kan?"


Hardin, Gaston dan Julia saling pandang. Mustahil mereka lapor polisi. Itu sama saja dengan mengantarkan diri sendiri menuju pintu neraka.


"Karena belum 24 jam, ya?" tebak Galen dengan santainya.


"Itu, kau tahu!"


"Bukannya kalian-kalian ini merasa sebagai orang terpandang? Perkara meminta polisi mengusut hilangnya perempuan buta secara misterius dari rumah suaminya tentu bukan hal yang sulit, bukan? Apalagi, untuk sekelas Tuan Hardin. Iya kan?"


Hardin langsung membuang muka saat tatapan Galen tertuju ke arahnya. Pria paruh baya itu merasa tersindir dengan ucapan Galen. Pemuda itu, walau masih terhitung sebagai anak kemarin sore ternyata pintar memanipulasi keadaan juga. Dan, Hardin tahu bahwa lebih baik tidak memaksakan diri untuk mencecar Galen daripada memantik api permusuhan dengan pemuda yang tampaknya penuh intrik dan tipu daya namun tidak suka mengambil langkah sembrono macam kakaknya itu.


"Nanti akan kuusahakan untuk lapor pada polisi." Hardin berucap sambil tersenyum simpul.


"Masih ada lagi?" tanya Galen.


"Tidak ada," jawab Hardin.


Galen mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Cih! Dasar manusia-manusia munafik!" sinis Galen sambil menertawai ketiga orang jahat itu.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Galen lalu menghubungi Kevin untuk menanyakan keadaan Tania. Hanya selang beberapa menit, balasan dari pesan teks yang ia kirim sudah dijawab oleh sahabat baiknya itu.

__ADS_1


"Dia aman. Kondisinya sudah membaik dan sekarang hanya tertidur akibat pengaruh obat yang kita berikan untuk menawar racunnya."


Galen memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu menyambar dompet dan kunci mobil untuk menuju ke suatu tempat. Namun, pemuda bermata hazel tersebut harus mendengkus kasar saat melihat kekasih kakaknya sedang bersandar santai di badan mobilnya seraya tersenyum ke arah Galen.


"Minggir!" titah pemuda itu sambil memencet remot mobil yang ia pegang.


"Boleh aku ikut?" tanya Julia manja.


Galen membuka pintu mobil tanpa mengindahkan permintaan Julia. Akan tetapi, tanpa disangka-sangka, wanita itu ikut masuk ke dalam mobil Galen sambil tersenyum manja ke arah pemuda tersebut.


"Aku mohon! Izinkan aku ikut bersamamu, Galen. Aku tak betah tinggal dirumah bersama kakakmu yang psiko itu," ucap Julia memelas sambil sengaja membusungkan dadanya ke arah Galen.


"Baiklah! Terserah!" ucap Galen setelah puas melihat barang obral dihadapannya.


Sesaat, Julia tersenyum. Ia merasa telah berhasil memperdaya Galen. Dalam benaknya, Galen ternyata tak lebih baik dari Gaston. Baru di perlihatkan aurat sedikit saja, sudah klepek-klepek.


"Pastikan, kau kenakan sabuk pengamanmu!"


Julia hanya mengangguk seraya tersenyum senang.


Supercar berwarna hijau tua itu keluar dari pekarangan rumah dan mulai melaju kencang membelah jalanan kota. Mobil-mobil didepan, Galen salip tanpa mengurangi kecepatan sama sekali. Hal tersebut membuat Julia jadi ketakutan. Wanita itu bahkan menahan napas saat Galen dengan nekat menyalip sebuah kontainer dan sebuah truk molen secara bersamaan.


"Kau gila?" tanya Julia histeris.


"Kenapa? Bukannya kau yang memilih ikut denganku?" tanya Galen tanpa berniat mengurangi kecepatan kendaraannya.


"Turunkan aku!" teriak Julia ketakutan namun Galen sama sekali tidak peduli.


"Aku bilang, turunkan aku!" teriak Julia sekali lagi.


Galen menyeringai. Tak berselang lama, mobil benar-benar berhenti dan Julia turun tanpa perlu menunggu lama. Belum sempat Julia berbasa-basi dengan Galen, pemuda itu sudah melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Julia sendiri.


"Jemput!" ketus Julia pada Gaston melalui Panggilan telepon.


"Apa Tania benar-benar bersama Galen?"


"Aku tidak tahu," jawab Julia dengan bibir mengerucut.


"Bukannya tugasmu untuk mencari tahu?"


Julia mendelik sebal. "Kau pikir, mudah mencari tahu keberadaan Tania lewat Galen, hah? Asal tahu saja! Adikmu itu hampir saja membuatku mati jantungan."

__ADS_1


__ADS_2