
Hari pernikahan yang tak dinantikan Tania akhirnya datang. Dengan gaun yang sama sekali ia tak tahu bagaimana bentuknya, Tania berdiri di pelaminan berdampingan dengan sang suami. Hardin tertawa begitu bahagia setiap kali menyambut tamu yang datang. Pun, dengan Sharon. Dua orang itu sepertinya orang paling bahagia melebihi kebahagiaan Tania sendiri.
"Kau yakin dengan pilihanmu kali ini, Tania?" tanya Benjamin Azof, pengacara keluarga Tania. Beliau yang selama ini memegang kendali penuh atas aset Tania sesuai wasiat terakhir Freddy untuknya. Pengacara berusia 50 tahun itu adalah orang yang sangat bisa Tania percaya. Benjamin bahkan yang mengatur orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan dalam perusahaan keluarga Gregson karena Tania belum bisa melakukan semua itu sendiri. Karena hal itulah, Hardin tak mampu menyentuh barang secuil saja aset milik Tania kecuali rumah yang ia huni bersama sang keponakan setelah saudaranya meninggal itu.
"Aku yakin, Paman!" angguk Tania.
"Tapi, wajahmu tidak mengatakan seperti itu," ungkap Benjamin.
Tania mengalihkan wajahnya dari jangkauan tatapan Benjamin. "Aku baik-baik saja, Paman! Percayalah!" ucap Tania.
Benjamin memeluk Tania erat. Ia mengelus punggung putri tunggal sahabat baiknya sejak kecil itu. Ya, Benjamin adalah sahabat baik Freddy bahkan sejak mereka belum bersekolah. Keluarga Benjamin juga tak kalah kaya dari keluarga Freddy. Namun, Benjamin lebih memilih menjadi seorang pengacara untuk meneruskan dan membesarkan firma hukum terkenal milik sang Ibu. Sementara, perusahaan tekstil sang Ayah dikelola oleh kakak tertuanya.
"Jika ada apa-apa, lekas kabari aku! Dan ingat! Jika ada yang memintamu untuk menandatangani berkas dalam bentuk apapun, tolak! Kalau mereka masih memaksa, suruh berhadapan langsung denganku!" bisik Benjamin pelan agar tak ada yang mendengar.
"Iya, Paman! Aku mengerti. Terimakasih karena telah mengkhawatirkan aku," jawab Tania.
"Semoga pernikahanmu langgeng dan lekas diberi keturunan, Sayang! Dan.. Aku harap, kau masih mau mencoba untuk memeriksakan matamu sekali lagi."
"Itu tidak perlu, Paman!" tolak Tania pada usulan terakhir Benjamin. "Bukankah pemeriksaan terakhir sudah jelas? Mataku sudah tak bisa ditolong dengan cara apapun."
"Itu yang dikatakan dokter dan Hardin. Tapi, belum tentu jika...,"
"Apa-apaan ini?" Terdengar suara bariton yang memangkas kalimat Benjamin. Mau tak mau, pria berkacamata itu menoleh ke sumber suara. Sementara, Tania lekas mengusap air mata yang sempat jatuh karena luka yang kembali dibuka oleh Benjamin mengenai kondisi matanya.
"Kau menangis, Sayang? Apa gara-gara dia?" Telunjuk Hardin mengarah ke wajah Benjamin. "Kurang ajar kau! Apa yang kau ucapkan sampai-sampai keponakanku harus menangis di hari bahagianya, hah?" teriak Hardin kasar.
Benjamin masih bersikap tenang. Tak nampak terpancing oleh umpan yang diberikan Hardin.
"Sudah, Paman! Paman Ben tidak melakukan apapun," kata Tania sambil memegang lengan Hardin. "Beliau hanya mengungkapkan rasa bahagianya melihat aku menikah. Karena itu aku menangis. Aku terharu karena ternyata masih banyak orang yang sungguh-sungguh peduli padaku!"
"Sungguh?" selidik Hardin yang tak serta merta mudah percaya begitu saja. Benjamin adalah salah satu orang yang paling ingin Hardin singkirkan dari hidup Tania. Pasalnya, Benjamin adalah orang yang paling vokal dalam mengingatkan Tania untuk tak mudah menyerahkan aset peninggalan Freddy kepadanya. Padahal, pernah sekali Tania hampir tergoda pada bujuk rayu Hardin. Tepatnya, saat penglihatannya terenggut akibat kecelakaan mobil. Namun, Benjamin tiba-tiba datang dan memberi serangkaian kata-kata mutiara yang memutarbalikkan pendirian Tania dalam sekejap mata.
__ADS_1
Sayangnya, menyingkirkan anggota keluarga Azof tersebut tidaklah mudah. Benjamin, walau profesinya sebagai pengacara, namun orang-orang yang mengawasi keselamatannya dari jarak dekat maupun jarak jauh tersebar dimana-mana. Pengamanan pengacara kondang itu bahkan jauh lebih ketat dari pengamanan presiden sekalipun menurut Hardin. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan Bernardy Azof, kakak Benjamin dalam melindungi adiknya itu.
"Aku hanya memberi Tania selamat. Apa itu salah?" tanya Benjamin tenang kepada Hardin. "Jangan lupa, dia juga sudah seperti putriku sendiri."
"Cih! Tidak usah sok menjadi malaikat, Ben! Semua orang juga tahu bahwa kau hanya mengincar warisan milik Tania, kan? Buktinya, kau yang memegang penuh aset milik keponakanku dan mengendalikannya."
"Kau cemburu, Hardin?" Alis Benjamin terangkat sebelah. Bibirnya mencetak senyum yang jelas meremehkan sang aktor kawakan. "Bukannya, justru sebaliknya, ya? Kau yang terlalu haus harta sehingga berkali-kali meminta Tania untuk menyetujui pengalihan aset atas namamu."
Hardin gelagapan. Tak disangka, bahwa Benjamin akan membalikkan kata-katanya dengan cara yang elegan dan santai. Awalnya ingin mempermalukan Benjamin, kini Hardin yang malah merasa malu ditengah para tamu undangan.
"Sudah Paman Hardin, Paman Ben! Tak enak dilihat tamu yang lain," ujar Tania melerai.
"Maaf karena Paman mengacau di pestamu, Tania!" kata Benjamin. Sesuatu ia rogoh dari sakunya kemudian mengeluarkan isinya dihadapan Hardin dan tamu undangan yang lain. Sebuah kalung permata safir berwarna biru ia pakaikan di leher Tania.
"Cantik sekali! Kado yang indah untuk gadisku yang juga berparas indah!" ucap Benjamin. "Berbahagialah! Jika ada apa-apa, jangan kau pendam sendiri. Berbagilah dengan Paman atau Kelly," pesan Benjamin sebelum berpamitan pergi karena merasa suasana tak kondusif lagi untuknya berlama-lama disana. Kelly adalah putri Benjamin. Usianya dua tahun lebih tua dari Tania. Saat ini sedang kuliah mengambil S2 jurusan hukum karena memang ingin menjadi pengacara hebat seperti Ayahnya.
Setelah ketegangan antara Benjamin dan Hardin berakhir , pesta kembali berjalan dengan meriah dan lancar. Kini, Tania merasa terjebak didunia yang asing. Ia merasa sepi di tempat yang ramai. Ia merasa sendiri di tempat yang justru ada Paman, suami dan juga ibu mertuanya. Gadis itu seolah terlupakan. Tersisih padahal seharusnya dialah yang menjadi bintang utama malam ini.
"Gaston?" tebak Tania berdasarkan suara dan aroma parfum lelaki itu. Namun, Tania merasa ada yang ganjil. Selain aroma parfum suaminya, ia juga mencium aroma parfum lain yang mirip dengan aroma parfum wanita.
"Kau bersama siapa?" selidik Tania.
"Aku bersamamu. Memang, dengan siapa lagi?" jawab Gaston.
"Oh," angguk Tania. Ia tak mau ambil pusing. Mungkin saja, itu wangi parfum orang yang lewat.
"Kau pasti lelah. Ayo kita ke atas," ajak Gaston menuju ke kamar pengantin mereka.
Gugup tiba-tiba melanda diri Tania. Ia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan pernikahan ini. Apalagi, jika harus bermalam pertama dengan lelaki yang bahkan rupanya tak ia ketahui, Tania sama sekali belum siap. Akan tetapi, bukankah itu memang tugasnya jika Gaston memang meminta?
Perjalanan menuju ke kamar VVIP yang dipesan Hardin khusus untuk malam pertama Tania dan Gaston di hotel mewah tempat yang sama dimana pesta megah pernikahan digelar terasa aneh bagi Tania sendiri. Bagaimana tidak? Aroma parfum wanita yang ia cium dipesta tadi masih terus mengikuti sampai sekarang. Indra pendengarannya juga menangkap pergerakan langkah kaki orang lain meski sangat pelan sejak tadi. Namun, saat ia mengonfirmasi kepada Gaston, lelaki itu terus mengatakan tak ada siapapun selain mereka.
__ADS_1
Tiba di kamar, kecurigaan Tania terbukti. Begitu pintu ditutup Gaston, suara tawa perempuan seketika membahana memenuhi gendang telinga Tania.
"Hahahahahaha... istri butamu ini benar-benar lucu! Sejak tadi aku ingin tertawa tapi setengah mati ku tahan melihat tingkah bodohnya," kata wanita itu yang langsung membuat Tania mematung.
"Jangan hiraukan dia, Sayang! Lebih baik kita nikmati malam panas kita dengan puas," balas Gaston yang langsung menyerang bibir sang wanita rakus.
Suara decakan dari dua bibir yang bertemu sangat menggangu gendang telinga Tania. Wajah gadis itu bahkan sudah memerah karena menahan gelegak amarah yang hampir meledak.
"Dia siapa, Gaston? Berani sekali kau membawa perempuan lain masuk kemari!" teriak Tania marah. Walau ia buta, tapi harga dirinya tak boleh diinjak-injak seperti ini.
Aksi panas dua manusia itu terhenti karena mendengar teriakan Tania yang murka. Mereka berpandangan sesaat sebelum Julia kembali melontarkan hinaan.
"Wow! Si buta bisa marah juga rupanya," ledek wanita itu. "Kenalkan! Namaku Julia. Aku kekasih Gaston!" ucap Julia.
"Ke-kekasih?" lirih Tania tak percaya.
"Ya, kekasih. Jadi, tak usah berpikir bahwa Gaston akan mencintai dan sudi menyentuh gadis buta sepertimu! Dasar cacat!" hina Julia.
"Akan ku laporkan hal ini pada Paman Hardin!" kata Tania yang seketika berbalik hendak menuju pintu keluar.
Namun, langkah Gaston yang lebar dengan cepat mencegat langkahnya. Gaston langsung menampar Tania hingga gadis itu limbung dan jatuh di sofa.
"Jangan berani mengadu atau yang ku lakukan akan lebih kejam dari ini, Tania! Kau mengerti?" ancam Gaston sambil mencengkram rahang Tania.
Tania berontak. Tangannya berusaha melepaskan tangan Gaston namun gagal.
"Sayang, aku punya ide!" kata Julia tiba-tiba. Setelah itu, Julia berbisik di telinga Gaston yang langsung di setujui oleh lelaki itu.
"Bukankah hal itu akan lebih menantang, Sayang?"
"Ya, itu ide bagus!" timpal Gaston dengan senyum miring. Tania sendiri masih mematung di atas kursi. Ia syok mendapati perlakuan buruk dari lelaki pilihan Hardin yang katanya luar biasa baik.
__ADS_1