Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Penyelamat


__ADS_3

BRUKK!!


Tania menahan napas saat rasa sakit di bagian punggung dan kepala terasa sangat menyiksa. Ia meringkuk di ujung tangga dalam posisi menyamping. Ada cairan kental yang terasa mengalir dari kepala bagian belakangnya. Gelap. Dunia yang memang sudah hitam semakin bertambah pekat kala dirinya terjatuh dari atas tangga setelah didorong kasar oleh suaminya sendiri.


"Apa kali ini dia akan benar-benar mati?" tanya Julia sambil mendekati Gaston. Keduanya berdiri diujung tangga di lantai atas. Menatap dengan senyuman puas pada gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dibawah sana.


"Kau lihat kepalanya berdarah? Ku rasa, kali ini gadis buta itu akan benar-benar mati karena kehabisan darah!" jawab Gaston.


"Kalau begitu, akan ku hubungi Paman Hardin sekarang juga!" kata Julia tak sabaran.


"Ya, lakukan segera!"


Keduanya lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Berpura-pura tidak tahu menahu mengenai kecelakaan yang Tania alami diluar sana. Kali ini, Gaston dan Julia benar-benar berharap bahwa Tania akan benar-benar mati.


Ya, mati.


Itu adalah opsi terakhir yang diinginkan oleh Hardin setelah enam bulan lebih menunggu sang keponakan gila namun nyatanya tidak terjadi sama sekali. Gaston dan Julia juga tak kalah kesalnya karena Tania ternyata tak semudah itu untuk mereka poroti. Berlindung di balik kata 'pengacara', Tania selalu berhasil membuat Gaston dan Julia mati langkah dalam meminta uangnya. Alhasil, mereka hanya bergantung pada gaji bulanan mereka serta uang yang terkadang mereka minta pada Hardin.


"Ini yang terakhir!" kata Hardin suatu hari sambil melemparkan segepok uang ke pangkuan Gaston. "Jika Tania masih hidup juga, maka jangan salahkan aku jika kalian aku tuntut dan ku penjarakan atas penyiksaan yang kalian lakukan pada Tania. Kalian mengerti?"


Pasangan kekasih itu menganggukkan kepala. Mereka saling berpandangan sejenak lalu Gaston memasukkan uang tersebut ke dalam saku jas miliknya.


"Kali ini, akan ku pastikan bahwa Tania akan benar-benar mati, Paman!" ucap Gaston mantap.


Rencana baru untuk melenyapkan sang istri demi harta kembali tersusun rapi dibenak Gaston. Selama enam bulan belakangan, sudah tiga kali ia berniat membunuh Tania namun upayanya selalu gagal. Mulai dari menenggelamkan Tania didalam bak mandi yang ternyata ketahuan oleh Ruth dan lekas dibawa ke rumah sakit, lalu insiden Tania tertabrak mobil namun diselamatkan oleh orang asing yang kebetulan melintas, kemudian sengaja mengiris pergelangan tangan Tania dengan pisau seolah-olah gadis itu yang berusaha bunuh diri namun lagi-lagi selamat akibat kedatangan Galen yang entah muncul darimana.


Pada insiden terakhir, Gaston bahkan harus terkena sial karena mendapat bogem mentah dari sang adik yang murka. Galen marah besar karena sejak awal dia sudah memperingatkan Gaston untuk tidak menjadikan rumahnya sebagai TKP pembunuhan ataupun bunuh diri. Namun, ternyata Gaston masih saja nekat.


"Ya! Itu harus!" kata Hardin sambil mengacungkan telunjuk didepan wajah Julia dan Gaston. "Jangan lagi membuat kecerobohan seperti yang terakhir kali. Untung saja, Tania bisa berbohong dan tidak menyebut namamu! Itu pun, karena ada andilku dalam memanipulasi pikirannya untuk tidak membuat kalian berdua masuk penjara!" ketus sang aktor kawakan menutup pembicaraan mereka hari itu.


*

__ADS_1


Setelah menghubungi Hardin, Gaston dan Julia keluar kembali untuk memastikan bahwa Tania masih berbaring di bawah sana. Para pelayan dan pekerja lain sengaja mereka liburkan hari ini. Sementara, Galen memang sedang tak berada dirumah karena ada perjalanan bisnis keluar kota. Bisa mereka pastikan, bahwa tak akan ada yang menolong gadis malang itu kali ini.


Akan tetapi, begitu melihat kebawah, bola mata keduanya nyaris keluar dari tempatnya karena tak lagi mendapati tubuh Tania dibawah sana. Sementara, genangan cairan merah kental yang keluar dari kepala Tania tampak masih berada disana. Belum di bersihkan sama sekali.


"Kemana dia?" tanya Julia panik. Ia dan Gaston sudah turun kebawah dan mengedarkan pandangan dengan panik ke sekitar.


"Apa jangan-jangan dia masih hidup dan melarikan diri?" tebak Gaston.


"Gawat! Bagaimana kalau kali ini dia mengatakan yang sebenarnya pada orang-orang, Sayang?" tanya Julia panik.


"Argh!" Gaston menggeram tak kalah panik. Baru saja ia hendak beranjak keluar, namun langkahnya terhenti kala pintu kamar Galen mendadak terbuka dan sang empunya keluar dari sana sambil menatap malas keduanya.


"Sejak kapan kau pulang?" tegur Gaston pada Galen.


"Bukan urusanmu!" jawab Galen. Pemuda itu berjalan ke arah dapur. Hendak mengambil air minum untuk mengobati dahaganya.


"Kau lihat dimana Tania?" tanya Gaston yang mengekori langkah sang adik.


"Tidak, aku hanya bertanya," elak Gaston.


Galen menangkap ekspresi tak wajar di wajah sang kakak. Pemuda itu tahu bahwa saat ini Gaston sedang berusaha menyembunyikan kepanikan dihadapannya. Dan, menyadari akan hal itu, Galen mengulas senyum miring lalu melewati tubuh Gaston begitu saja hendak menuju kamarnya kembali.


"Istrimu bukan urusanku, Gaston. Urusi sendiri!" kata Galen. "Oh iya, genangan darah didepan tangga, tolong dibersihkan! Aku tak suka rumahku dipenuhi bau amis darah seperti ini," imbuh pemuda bernetra hazel tersebut sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar.


"Kemana gadis bodoh itu?" gerutu Gaston kesal. Bisa gawat jika Tania berhasil keluar rumah. Orang-orang yang melihat pasti bisa langsung tahu bahwa gadis itu baru saja mengalami penyiksaan yang sangat parah. Pasalnya,sebelum didorong dari tangga, Tania sempat dipukuli dengan ikat pinggang oleh Gaston karena telah lancang meludahi wajah pria itu.


"Sayang, si buta itu tak ada dimana-mana," lapor Julia dengan wajah panik.


"Sudah kau cek di taman belakang?"


Julia mengangguk. "Sudah," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Sial!" umpat Gaston. "Kemana perginya perempuan buta itu?"


*


Sementara itu, tepat ketika Galen selesai mengunci pintu kamarnya dari dalam, gadis yang sedang dicari-cari oleh Gaston dan Julia baru saja sadar. Tania meringis saat tubuhnya terasa sakit semua. Sesaat kemudian, ia memasang mode waspada kala menyadari ada langkah kaki yang sedang mendekat ke arahnya.


"Ternyata, masih bisa bangun? Ku pikir, kau sudah mati," kata Galen sambil duduk di sofa tunggal di sudut ruangan.


"Ga-Galen?" tebak Tania ragu. "Itu kau?"


"Memangnya, siapa lagi?"


Tania memegang kepalanya. Terdapat perban yang ternyata sudah membalut luka dengan sempurna.


"Apa yang terjadi?"


"Kau sepertinya jatuh dari tangga lalu pingsan. Untungnya, tak ada luka yang serius selain kepala bagian kepala yang berdarah karena terbentur. Selebihnya, kau baik-baik saja."


"Kau yang menolong dan mengobati lukaku?" tanya Tania setengah tak percaya. Ia tak menyangka, pria yang ia musuhi selama hampir setahun terakhir karena menjelek-jelekkan Hardin ternyata masih sudi membantunya.


"Aku hanya tak mau rumahku jadi tempat pembunuhan. Itu saja!" kilah Galen memberi alasan. Jangan tanya bagaimana cara Galen mengobati Tania. Pemuda itu memang memiliki keahlian medis yang cukup mumpuni karena pernah mengambil jurusan kedokteran saat kuliah dulu. Walaupun, pada akhirnya ilmu tersebut tak benar-benar ia jadikan ladang penghasilan, namun setidaknya, masih dapat membantu di situasi genting bagi dirinya maupun orang lain.


"Walau bagaimanapun, terimakasih!" ucap Tania tulus.


Galen tak menjawab. Pria itu malah menuju ke sebuah sofa panjang yang terletak di ujung tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya disana.


"Istirahatlah! Setelah membaik, kau baru boleh keluar dari sini!"


"Tapi, bagaimana jika Gaston dan Julia tahu kalau aku ada disini?" Tania merasa khawatir. Ia takut jika Gaston dan Julia datang lalu menyeret dan menyiksanya kembali.


"Mereka tidak akan pernah berani masuk kemari. Tenang saja!" ucap Galen mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2