Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Ujung tombak


__ADS_3

"Tania! Tania!" panggil Hardin dengan keras.


Tania yang tertidur di kamar Galen lekas bangun begitu mendengar suara sang Paman. Dengan langkah sedikit pincang, gadis itu berusaha mencari-cari pintu keluar. Dan, setelah berhasil, ia pun lekas keluar sambil memanggil-manggil Pamannya.


"Paman!" panggil Tania dengan senyum sumringah.


Hardin mematung di tempatnya begitu melihat bahwa Tania ternyata masih hidup. Pandangan tajam lalu ia lemparkan pada dua sejoli yang baru saja turun dari kamar atas dalam kondisi pakaian yang terlihat acak-acakan. Mini dress Julia bahkan terpasang terbalik saking buru-burunya dia keluar dari dalam kamar karena mendengar suara Hardin.


"Sayang, kenapa kondisimu seperti ini?" tanya Hardin yang berpura-pura khawatir sambil mendatangi sang keponakan.


"A-Aku...,"


"Tania jatuh dari tangga saat hendak turun mengambil air minum, Paman," sergah Gaston yang tergopoh-gopoh menghampiri Tania dan Hardin dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Tania.


"Benarkah?" tanya Hardin sambil melotot ke arah Gaston. Mempertanyakan lewat sorot mata, kenapa Tania masih baik-baik saja.


Gaston menggeleng. Ia juga tidak tahu, muncul darimana gadis buta itu. Padahal, sebelumnya Gaston dan Julia sudah menyisir sekitar rumah sampai ke jalanan untuk mencari keberadaan Tania. Namun, hasilnya nihil.


"Iya, Paman!" angguk Tania membenarkan ucapan Gaston. Ia terpaksa berbohong karena takut Gaston mencelakakan Hardin. Padahal, Tania tidak tahu saja bahwa Hardin dan Gaston berada dikubu yang sama.


"Kalau begitu, kau harus istirahat!" kata Hardin. "Julia, tolong antarkan Tania ke kamarnya! Setelah itu, temui aku dan Gaston di halaman belakang! Kalian harus dimarahi agar tidak lalai menjaga keponakanku lagi."


"Baik, Paman!" angguk Julia patuh.


Seperti biasa, saat Hardin datang berkunjung, maka Tania akan diantar menuju ke lantai dua. Yakni, kamar Gaston dan Julia. Mereka harus berakting bahwa Gaston dan Tania tinggal sekamar. Ceritanya, untuk mengelabui Hardin. Padahal, penulis skenario dari cerita tersebut adalah Hardin sendiri demi membuat sang keponakan tidak curiga pada niat buruknya.


"Apa-apaan ini? Kalian bilang, Tania sudah mati!" sembur Hardin begitu Gaston dan Julia telah berkumpul.


"Maaf, Paman! Tapi, tadi kami sudah memastikan bahwa Tania sudah tak sadarkan diri dengan kondisi bersimbah darah. Paman bahkan lihat sendiri, kan? Pakaiannya masih dipenuhi darah."


"Memastikan? Memangnya, kalian memeriksa nadinya?" tanya Hardin.


Gaston menggeleng lemah. Sungguh! Dia lupa melakukan semua itu. Pikirnya, karena rumah sedang kosong dan mustahil akan ada yang membantu, Tania walau masih bernapas tetap perlahan akan mati karena kehabisan darah. Siapa sangka, ditinggal kurang dari satu jam saja, gadis itu sudah menghilang dan kabur entah kemana.

__ADS_1


"Maaf, Paman!"


"Maaf terus yang kau ucapkan, Gaston!" geram Hardin dengan suara tertahan. Ia tak boleh berteriak karena takut Tania akan mendengar. "Dasar tidak becus! Menghabisi satu gadis buta saja, kau tidak bisa."


"Sekarang, kembalikan semua uang yang sudah ku berikan pada kalian!" imbuh Hardin lagi.


Gaston dan Julia langsung panik. Mana bisa mereka mengembalikan uang yang sudah habis tak bersisa itu? Hendak meminjam, namun pada siapa? Sementara, Sharon, Ibu Gaston juga tak bisa dimintai tolong karena karirnya akhir-akhir ini sedang merosot akibat kemunculan Galen yang bersamaan dengan isu bahwa Sharon menelantarkan putranya dan membiarkan sang putra hidup bersama orangtua angkat yang kejam. Jelas, publik mengecam Sharon dengan berbagai macam komentar tajam. Hal tersebut kemudian berdampak pada pemutusan kontrak secara tiba-tiba oleh beberapa brand dan majalah yang membuat Sharon kelimpungan menambal ganti rugi pada agensi.


"Kenapa kalian diam? Mana uangku? Atau, kalian benar-benar lebih suka mendekam dipenjara?" tanya Hardin.


"Paman! Tolong jangan begini, Paman!" bujuk Julia dengan senyuman di wajah paniknya. "Bagaimana kalau kita cara lain yang lebih ampuh, Paman?"


"Aku muak dengan rencana kalian yang selalu saja gagal!" bentak Hardin.


"Kali ini tidak akan! Bagaimana kalau kita beri dia racun saja? Dan, untuk memastikan bahwa rencana kali ini akan berhasil, kita bertiga harus benar-benar mengawasi Tania sampai dia mati. Bagaimana?"


Hardin tampak berpikir sesaat. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Dan, menurutnya, tak ada salahnya mengikuti rencana Gaston dan Julia untuk kesekian kali karena memang ia tak punya pilihan lain.


"Baiklah! Tapi, kalian harus benar-benar memastikan bahwa kali ini dia benar-benar akan mati! Kalian mengerti?"


"Demi kesuksesan kita!" Gaston mengangkat cangkir tehnya ke atas.


"Ya! Kali ini, harta Tania akan benar-benar menjadi milikku!" Hardin menyahut sambil ikut menaikkan gelasnya. Pun, dengan Julia.


Mereka tertawa lepas membayangkan uang banyak yang sebentar lagi masing-masing akan mereka dapatkan pasca kematian Tania. Sungguh! Hardin merasa sangat puas. Ia merasa menjadi pemenang yang berdiri di puncak tertinggi setelah semua penolakan yang ia dapatkan hanya karena statusnya yang merupakan anak hasil perselingkuhan.


Sementara, Gaston dan Julia sudah membayangkan akan membuat pesta pernikahan megah usai pemakaman Tania nanti. Belum lima menit asyik bercengkrama, tiba-tiba ketiganya merasakan kantuk yang luar biasa. Tak lama setelahnya, mereka benar-benar tertidur tanpa sempat berpindah ke kamar.


"Dasar manusia-manusia serakah!" lirih seorang pemuda yang mendekati ketiga orang tersebut.


Setelah memastikan bahwa tak satu pun yang masih terjaga, Galen lekas melangkah sedikit cepat menuju ke atas. Sekali lagi, dengan alasan bahwa ia tak mau ada yang mati didalam rumahnya, ia pun segera membuka pintu dan mendapati Tania sudah meregang nyawa dengan wajah bersimbah air mata.


""A-ambil se-semua ha-hartaku! Ambil semua yang ma-manusia-manusia serakah itu inginkan!" ucap Tania untuk terakhir kali sebelum jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ada luka yang Galen saksikan di raut wajah Tania. Luka yang kurang lebih sama dengan yang dia rasakan. Luka yang terajut perlahan menjadi dendam karena dikecewakan oleh orang yang kita anggap sebagai tempat teraman untuk pulang.


"Ya, kali ini kau tak memiliki kelemahan lagi. Maka, akan ku bantu!" ucap Galen dengan seringai sambil mengeluarkan suntikan penawar racun dan menusukkannya ke pembuluh darah Tania. Lepas itu, ia merogoh saku celananya. Mengambil ponsel kemudian memanggil seseorang untuk segera datang.


Begitu mendengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumah, Galen lalu mengangkat tubuh Tania untuk turun ke bawah. Masih dapat dilihatnya ketiga manusia licik yang masih terlelap di sofa setelah meminum teh yang Galen campurkan dengan obat tidur.


"Ada apa ini?" tanya pria berdarah Tionghoa yang baru saja tiba.


"Dia keracunan."


"Apa parah?" Pria berkulit putih dengan mata sipit tersebut memeriksa nadi Tania.


"Aku tidak tahu dia minum berapa banyak. Tapi, tadi sudah ku beri suntikan penawar racun yang kau berikan padaku waktu itu, Kev!"


Kevin mengangguk. "Bagus! Sepertinya, berkat penawar itu, kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Kalau begitu, kita bawa dia ke klinikku!"


"Ayo!" angguk Galen setuju.


"Untung saja kau menguping pembicaraan orang-orang licik itu, Galen. Jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada gadis malang ini," tukas Kevin sambil menggeleng prihatin. Bukan apa-apa, ia merasa miris melihat tubuh Tania yang penuh dengan luka memar dan goresan. Hal yang menandakan bahwa tiada hari yang gadis itu lalui tanpa siksaan.


"Apa lagi? Jelas dia akan mati," jawab Galen enteng.


Kevin mendelik. Sejak dulu, Galen tak pernah berubah. Selalu berpura-pura tak peduli pada orang padahal sebenarnya ia sangat perhatian.


Waktu itu, saat Hardin datang, Galen yang masih terlelap terbangun karena mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia pun mengikuti langkah Tania sambil bersembunyi. Dan, dapat dilihatnya dengan jelas bahwa memang ada persekongkolan terselubung antara sang kakak dan Paman Tania. Dia pun mengikuti orang-orang licik itu hingga ke taman belakang. Menguping pembicaraan mereka sekadar untuk tahu hal apalagi yang akan mereka lakukan terhadap Tania.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Masih mau menghancurkan Ibu dan Kakak kandungmu sendiri?"


Galen tersenyum. "Ibuku sudah mulai hancur, Kev! Dan, kini giliran Gaston!"


"Dengan cara apa kau akan menghancurkan kakakmu?"


Galen menatap gadis yang terbaring dihadapannya. Kebetulan, mobil yang di bawa Kevin mirip sekali dengan Ambulance. Sahabatnya itu juga sengaja membawa satu rekan lagi yang bertugas sebagai supir. Tak tanggung-tanggung, Kevin meminta tolong pada seorang pembalap liar untuk menjadi supir darurat-nya hari ini. Alhasil, mobil benar-benar melaju kencang layaknya ambulance dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Dia!" Pandangan Galen menyapu wajah penuh lebam Tania. "Dia yang akan menjadi ujung tombak ku kali ini!"


__ADS_2