Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Tertipu


__ADS_3

Setelah berhasil membujuk berondongnya agar lekas pergi, kini Sharon dan putra bungsunya telah duduk di dalam ruangan VIP sebuah restoran mewah yang tak jauh dari gedung lokasi pemotretan Sharon.


Tangan Sharon mengepal di bawah meja. Giginya bergemelatuk menahan emosi yang membuncah karena kehadiran anak yang tak pernah dia inginkan itu.


"Bagaimana caranya kau bisa kembali?" cecar Sharon tanpa tedeng aling-aling.


"Hidupmu sudah enak disana. Uang bulanan mengalir lancar dan sudah ada orang yang mengurus segala keperluanmu tanpa perlu susah-susah bekerja. Tapi kenapa kau kembali kemari, hah?" tanya Sharon menahan emosi.


"Harusnya kau tetap bersembunyi dari pandanganku. Menjadi anak yang tak pernah muncul dan seolah tak pernah ada dalam hidupku. Terserah, kau ingin menghamburkan uang yang ku beri dengan cara apa. Bahkan, jika kau mengonsumsi obat-obatan terlarang sekalipun dan mati karenanya, aku justru akan sangat bersyukur andai itu terjadi!"


Galen Adolf. Putra kedua Sharon Kaitlyn Adolf hanya tertawa menanggapi ucapan sang Ibu. Dengan santai, ia memotong steik tenderloin pesanannya lalu memasukkan ke dalam mulut. Hal itu membuat Sharon semakin kesal. Tanpa sadar, ia menggebrak meja hingga wine yang berada didalam gelas pun ikut menciptakan sedikit riak pada permukaannya.


"Emosi Anda juga masih sama saja. Labil!" kata Galen santai.


"Jelaskan padaku! Kenapa kau kembali?" desak Sharon. Ia benar-benar tak bisa mengontrol emosi setelah melihat kedatangan Galen yang tiba-tiba.


"Wow!" Galen mengangkat sebelah alisnya. "Apa begini sambutan seorang Ibu yang sudah 15 tahun lebih tak bertemu anaknya?"


"Kau tahu bahwa aku tak pernah menginginkanmu, Galen!" geram Sharon murka.


"Kenapa?"


"Karena aku membencimu! Aku membenci wajahmu yang sangat mirip dengan pecundang itu!" Air mata Sharon menetes.


"Kalau begitu, bersiaplah! Hubungi dokter pribadi Anda untuk selalu bersiaga 24 jam. Karena, mulai hari ini Anda akan terus melihat wajah ini hampir setiap hari."


"Apa maksudmu?" tanya Sharon panik. Jangan bilang, Galen berencana untuk menetap. Tidak! Sharon tak akan pernah setuju.


"Seperti yang ada di pikiran Anda, Nyonya!" Galen meneguk sedikit wine-nya. "Saya akan menetap di kota ini untuk waktu yang tak bisa ditentukan."

__ADS_1


"Tidak!" Sharon menggebrak meja lagi. Dia bahkan sudah berdiri dari kursinya dengan telunjuk yang terus menuding lawan bicaranya. "Kau tidak boleh ada disini, Galen! Kau harus kembali! Kembalilah pada orangtua angkatmu, Anak sial!" teriak Sharon yang semakin mirip orang kerasukan.


Mendengar penuturan sang Ibu kandung, Galen mencebikkan bibir. "Orangtua angkat mana yang Anda maksud?"


"Tentu saja Jeremy dan Haley!" jawab Sharon. Jeremy dan Haley adalah mantan pelayan di rumahnya saat ia masih bersama Ayah dari kedua anaknya. Namun, ketika sang suami memutuskan untuk menceraikannya saat hamil Galen, Sharon akhirnya memutuskan untuk memberhentikan beberapa karyawan karena kondisi ekonomi yang tak lagi sama seperti dulu.


Sepasang suami istri tersebut juga diberhentikan. Namun, beberapa tahun kemudian, mereka dipanggil untuk bekerja kembali oleh Sharon. Haley menjadi pengasuh khusus untuk Galen yang sejak dilahirkan telah dibenci ibunya sendiri. Alasannya hanya satu, karena dia menganggap Galen adalah penyebab suami yang amat ia cintai pergi meninggalkannya.


Beberapa tahun berlalu lagi. Karena semakin hari, wajah Galen semakin mirip dengan Ayahnya, Sharon pun bertambah benci pada bocah itu. Ia lalu meminta Haley dan Jeremy untuk membawa Galen pulang ke kampung halaman mereka. Berjanji akan menanggung segala biaya hidup Galen asal Jeremy dan Haley bersedia menjadi orangtua angkat dari putranya itu. Dan, semenjak menyuruh putranya pergi, sejak saat itu pula, Sharon tak pernah ingin tahu mengenai kabar Galen. Yang ia lakukan hanya rutin mengirim uang. Bertanya sekilas mengenai apa saja yang Galen lakukan dan memastikan anak itu tidak membuat ulah. Sudah cukup. Hanya dari mulut Haley saja, kabar sang anak ia dengar tanpa pernah berbicara sekalipun secara langsung.


"Apa Nyonya tahu bagaimana perlakuan kedua orang itu terhadap saya?"


Sharon diam dan Galen tersenyum miris menanggapi.


"Mereka menyiksaku setiap hari. Memberiku hanya dengan makanan sisa bekas anaknya atau lauk basi sisa kemarin. Mereka juga memaksaku melakukan seluruh pekerjaan rumah. Melarangku berangkat ke sekolah bahkan meneriaki aku jika sedang menghangatkan diri di kamar anak mereka saat musim dingin tiba." Galen tertawa mengingat masa lalu. Hal yang sebenarnya sangat tidak layak untuk ditertawakan. "Nyonya tahu apa yang lebih lucu?"


Sharon masih diam menyimak.


Sharon membuang muka. Ia akui, sebersit rasa bersalah hinggap di hatinya. Dia tak tahu bahwa hidup putranya akan semengenaskan itu. Tapi, benarkah cerita yang dia dengar atau malah Galen yang sengaja bercerita bohong demi menarik simpatinya? Jika iya, maka hal itu tak bisa dibiarkan Sharon.


"Aku tak peduli mau bagaimanapun mereka memperlakukanmu, Galen!" ucap Sharon. "Yang jelas, mereka orangtuamu sejak hari itu. Kau tidak berhak lagi kemari dan menuntut untuk tinggal bersamaku. Jadi, pulanglah! Pulang ke rumah ayah dan Ibumu! Pulang ke rumah Haley dan Jeremy!" usir Sharon.


"Sayangnya, aku sudah lupa jalan ke rumah mereka, Nyonya Sharon!" ucap Galen memelas.


"Maksudnya?" tanya Sharon tak mengerti.


"Aku kabur dari neraka itu setelah hampir setahun menderita disana. Dan, setelah itu aku hidup dijalanan dan akhirnya menetap di sebuah panti asuhan milik seorang dermawan yang dengan senang hati mau menyekolahkan aku sampai tamat kuliah dan menjadi seperti sekarang." Galen kembali tersenyum.


"Jangan mengarang cerita bodoh, Galen!"

__ADS_1


"Coba saja buktikan! Apakah ceritaku ini hanya karangan atau bukan. Telfon Haley dan tanyakan aku sedang ada dimana," tantang Galen.


"Baik! Aku akan menelponnya sekarang!" angguk Sharon. Dia sangat yakin, bahwa Galen yang berbohong. Pasalnya, setiap kali dia menelepon Haley, wanita itu selalu mengatakan bahwa Galen baik-baik saja dan sangat bahagia tinggal disana.


"Jangan lupa, minta dia mengirim fotoku jika memang dia yakin bahwa aku selama ini tinggal bersamanya."


Sharon akhirnya melakukan apa yang diminta Galen. Sengaja, ia melakukan panggilan video agar bisa melihat wajah Haley.


"Galen dimana, Haley?" tanya Sharon.


"Dia sedang keluar bersama Jason."


"Haley, apa aku boleh melihat wajah Galen yang sekarang?"


Mendadak, wajah Haley terlihat panik. "I-itu... Hm... Kan Ga-Galen sedang keluar. Jadi mana mungkin Nyonya bisa melihatnya."


"Fotonya saja," kata Sharon.


Haley bertambah panik. Namun, dipikirannya, mustahil Sharon masih ingat dengan penampilan putra yang sudah lama dia lupakan. Jadi, tanpa berpikir panjang, ia malah memperlihatkan foto Jason, anaknya.


"I-ini Galen!" kata Haley seraya mengarahkan ponsel ke sebuah foto yang tergantung di dinding.


DEGH!


Sharon merasa syok kembali. Emosinya memuncak karena merasa ditipu mentah-mentah selama belasan tahun oleh kedua mantan pelayannya itu.


"Beraninya kau membohongiku, Haley! Bagaimana mungkin wajah Galen berubah jadi seperti itu? Kau pikir, aku tidak ingat dengan wajah anakku sendiri, hah?"


"Maksud Nyonya Sharon, a-pa?"

__ADS_1


"Lihat!" Sharon mengarahkan ponsel pada Galen yang langsung melambaikan tangan pada kamera.


"Ini Galen! Kau lihat wajahnya, kan? Berani sekali kau menipuku selama belasan tahun, Haley!" teriak Sharon murka.


__ADS_2