
Seminggu tinggal dirumahnya, Galen sebenarnya terbilang jarang bertatap muka dengan Gaston. Ia terkadang pulang hampir subuh akibat kesibukan yang seolah tak pernah habis dan berangkat pagi-pagi sekali di keesokan harinya.
Untuk seminggu pertama, Galen masih mengabaikan rencananya untuk menghancurkan Gaston dan Sharon. Pemuda itu memilih untuk fokus terlebih dulu dengan usaha yang baru ia buka dan tak seorangpun yang tahu selain dirinya sendiri dan orangtua angkatnya.
Hari ini, karena tidak memiliki agenda di luar, Galen berencana istirahat total dan tidur seharian didalam kamar. Namun,bukannya tenang, Galen malah terganggu akibat ulah Gaston dan Julia yang kembali menyiksa Tania tanpa ampun.
Tanpa basa-basi, Galen berjalan keluar dari kamar dan mengambil sebuah vas bunga yang berada di meja pajangan yang ia lewati lalu melemparkannya begitu saja ke arah Julia.
PRANG!
Vas itu pecah dan terburai ke lantai begitu menghantam dinding.
""Diam atau ku seret kalian satu persatu keluar dari rumahku!" ancam Galen penuh penekanan.
Wajah Julia langsung memucat. Perempuan berpakaian mini itu reflek bersembunyi dibalik punggung sang kekasih. Sementara, Gaston nampak menatap Galen dengan tajam.
"Jangan campuri urusanku, Galen!" kata Gaston penuh emosi.
Galen tersenyum sinis. "Persetan dengan urusanmu, Gaston! Tapi, jangan sekali-kali berani membuat suara gaduh ketika aku sedang beristirahat. Kau mengerti?"
Tiba-tiba, pandangan Galen mengarah pada gadis buta yang masih meringis menahan sakit pada perut dan punggung tangannya.
"Kalian menyiksanya terlalu sadis. Kalau keluarganya tiba-tiba datang, bagaimana?" kata Galen pada Gaston dan Julia. "Ah, bukan keluarganya. Tapi, pengacaranya. Ku dengar, Tuan Benjamin menaruh perhatian istimewa pada gadis ini. Bukankah akan menjadi masalah jika pria itu tahu kalau kalian memperlakukan putri angkatnya sesadis ini?" Galen melipat kedua tangannya didepan dada.
Gaston mendengkus kesal. Diliriknya Tania yang memang tampak sangat kesakitan. Ucapan Galen terdengar masuk akal baginya. Akan sangat rumit, andai Benjamin tahu apa yang sudah ia lakukan pada Tania.
Sementara, Tania yang mendengar percakapan antara Gaston dan Galen hanya menyimak dalam diam. Meski dibenaknya terselip pertanyaan mengenai bagaimana bisa Galen tahu informasi sedetail itu mengenai dirinya, namun Tania urung untuk bertanya.
"Tidak usah ikut campur!" dengkus Gaston.
Galen mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak ikut campur! Hanya saja, jangan siksa dia terlalu keras. Aku tidak mau, jika rumahku harus disegel polisi suatu hari nanti akibat adanya pembunuhan di rumah ini!"
"Dan kau!" Galen menunjuk Julia yang seolah mengkerut akibat tatapan tajam Galen.
"Lain kali, jika masih mau menumpang di rumah orang, pakai pakaian yang sedikit tertutup. Lihatlah! Tukang kebun sampai meneteskan air liur karena melihat lekuk tubuhmu yang kau umbar secara gratis!"
Reflek, Julia menoleh ke belakang. Benar saja, dari balik pintu belakang, dua orang tukang kebun di rumah itu sedang menatap ke arah bokongnya yang tampak tak tertutup sepenuhnya dengan rok mini ketat yang ia kenakan. Kedua pria tersebut langsung berlari tunggang langgang saat ketahuan. Sementara, wajah Julia sudah merah padam sambil berusaha menurunkan sedikit roknya agar tidak seperti tadi.
"Dan kau Gaston!" Galen menunjuk kakak kandungnya. "Larang gundik murahan mu itu tinggal disini jika hanya ingin berteriak dan membuat kegaduhan!"
__ADS_1
Gaston mendengkus sebal. Ditariknya tangan Julia untuk naik ke atas karena tak memiliki apapun untuk membalas ucapan sang adik. Sekarang, hanya tersisa Tania dan Galen. Pelan, pemuda itu mendekat dan berdiri dihadapan Tania sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana training yang ia kenakan.
"Bagaimana perutmu?" tanya pria itu datar.
Tania sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. "Masih agak sakit," jawabnya jujur. Wajar, karena bagian depan heels Julia memang agak runcing.
Gadis itu berusaha untuk bangkit walau agak kesusahan.
"Ada beling di belakangmu. Hati-hati!"
Tania mendengkus dalam hati. Setidaknya, jika tak mau Tania celaka, bukankah Galen bisa mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri? Tapi ini, tidak sama sekali. Setelah berhasil berdiri, terdengar langkah kaki Galen yang bergerak menjauhi Tania. Reflek, gadis itu berteriak untuk menghentikan Galen.
"Tunggu!" kata Tania.
Galen berhenti dan berbalik dengan alis terangkat sebelah.
"Kenapa?"
"Darimana kau tahu tentangku dan Paman Benjamin?" tanya Tania penasaran.
"Informasi umum seperti itu wajar diketahui orang banyak. Bukankah keluargamu dan keluarga Tuan Benjamin memiliki hubungan dekat sejak lama?" ujar Galen lalu melangkah kembali.
"Apa?" tanya Galen datar. Matanya sudah kembali mengantuk. Ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan bersembunyi dibalik selimut untuk hibernasi sepanjang hari.
"Ka-kau bisa membantuku untuk lepas dari Kakakmu?" tanya Tania penuh harap.
Galen tertawa kecil. "Aku malas ikut campur dengan urusan orang lain."
"Bukannya kau juga membencinya?" Tania berusaha memprovokasi Galen. Pasalnya, sedikit banyak dia sudah tahu cerita dramatis kedatangan Galen ke rumah itu dari pelayan lain.
"Benci atau tidak, ku rasa itu bukan urusan Anda, Nona Gregson!"
"Aku akan membayarmu asal kau bisa membuatku keluar dari neraka ini."
"Wow! Berapa banyak yang Nona Gregson tawarkan padaku?" tanya Galen yang berpura-pura antusias.
"Berapapun yang kau minta akan ku penuhi."
Galen menarik napas panjang seraya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Sayangnya, aku tidak butuh digaji oleh siapapun. Apalagi, jika pekerjaannya merupakan pekerjaan tidak masuk akal seperti ini."
"Tapi, bukannya kau juga membenci Gaston? Kau ingin melihat dia hancur, bukan?" tanya Tania dengan suara bergetar. Ia sangat berharap Galen bisa menjadi sekutunya.
Galen melangkah mendekat. "Jadi, kau berusaha ingin memanfaatkan aku demi kepentingan pribadimu sendiri, Nona Gregson?"
"Bu-bukan begitu. Aku hanya..,"
"Masalahmu dengan Gaston itu mutlak urusan pribadi kalian. Begitu pun dengan masalahku dengannya. Itu urusan pribadiku dengan saudaraku sendiri. Jadi, jangan coba-coba manfaatkan aku karena aku tidak akan pernah mau bekerja sama dengan makhluk lemah seperti Nona Gregson! Mengerti?"
Tania tertegun mendengar ucapan Galen. Pupus sudah harapannya. Ia pikir, Galen akan mudah ia ajak bekerja sama karena pria itu memiliki dendam pada saudaranya. Namun, ternyata mempengaruhi Galen tak semudah yang Tania pikirkan. Kini, gadis itu hanya bisa merenungi nasib. Entah sampai kapan ia bisa bertahan menghadapi neraka yang Gaston dan Julia berikan, Tania sendiri pun tidak tahu.
"Ingin ku beritahu apa yang membuat Nona Gregson lemah?" bisik Galen di telinga Tania.
"Tentu karena aku buta." Tania menjawab sambil tersenyum miris.
"Sayangnya, bukan itu!"
"Apa lagi selain mata ini yang menjadi kekuranganku?" Nada suara Tania sedikit meninggi.
"Kau terlalu memikirkan Pamanmu, Nona Gregson! Padahal, kau sendiri tidak tahu bagaimana wajah asli dari pria yang kau anggap sebagai keluarga itu." Galen menatap lekat wajah pucat Tania. "Itu adalah kelemahan terbesarmu, Nona Gregson!"
"Tahu apa kau?" sinis Tania tak terima karena Galen seolah meragukan ketulusan Hardin.
"Hanya sedikit memberi pendapat. Jangan menilai orang dari luarnya saja. Bisa jadi yang kau dengar dan kau rasakan setiap hari, bukan yang sebenarnya terjadi."
"Maksudnya apa? Kau ingin menjelekkan Paman Hardin?"
"Bukankah dia yang membawamu memasuki neraka ini? Lalu, kenapa kau tak meminta bantuannya untuk keluar?"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
Tania diam. Tak mungkin ia melibatkan Hardin lagi. Ia takut sang Paman kembali di celakakan oleh Gaston.
"Saranku, cari tahu mengenai Pamanmu itu."
"Jangan adu domba aku dan Pamanku, Galen! Kau tidak tahu apa-apa tentang kami."
__ADS_1
"Ya sudah! Terserah kau saja!"