
Kabar kecelakaan Hardin telah ramai diberitakan oleh media massa. Para wartawan sudah memenuhi lobi rumah sakit untuk meminta izin menemui Hardin agar bersedia di wawancara. Akan tetapi, jelas itu menjadi perkara sulit karena Hardin telah menyewa tim keamanan untuk mencegah wartawan menemuinya.
Ada resiko bahwa sandiwaranya akan terbongkar jika ia nekat menerima wawancara. Karena, kebanyakan wartawan jaman sekarang, jauh lebih kritis dan mampu mendeteksi konspirasi dalam waktu singkat. Hal itu yang Hardin hindari untuk memastikan semua rencananya aman dan berjalan sesuai alur.
"Tania, kau kenapa?" Benjamin menyentuh pundak gadis berambut hitam di sebelahnya. Saat ini, ia sedang berada dirumah sakit untuk menjenguk Hardin.
"Tidak apa-apa, Paman," jawab Tania.
"Wajahmu terlihat pucat, Tania. Kau sakit?"
Gadis itu menggeleng. "Mungkin hanya sedikit kelelahan."
Tangan Benjamin terulur hendak mengelus pipi putih pucat Tania. Namun, baru ujung jarinya yang mendarat, gadis itu reflek meringis kesakitan. Seketika, Tania sadar bahwa baru saja dia memberi isyarat pada Benjamin bahwa pipinya sedang terluka.
"Kau kenapa, Tania? Apa ada yang sakit?" tanya Benjamin curiga.
"Paman, aku baik-baik saja. Sungguh!"
Benjamin tahu bahwa Tania berbohong. Tapi, mendesak Tania untuk mengatakan masalahnya juga tak akan mendapatkan hasil apa-apa. Dia sudah mengenal Tania semenjak gadis itu lahir. Kurang lebih, Benjamin memahami karakter Tania yang tidak mudah bercerita masalah pribadinya kepada siapapun walau itu termasuk orang terdekat sekalipun.
"Paman tahu kau sedang ada masalah, Tania!" tutur Benjamin lembut. "Kapan pun kau ingin bercerita, datanglah pada Paman." Ia mengusap puncak kepala Tania. "Kau tahu bahwa Ayahmu sudah menitipkanmu padaku, kan? Paman akan merasa sangat bersalah jika kau menderita tanpa sepengetahuan Paman."
Tania menggeleng cepat. Ia menyusuri lengan Benjamin untuk mencari telapak tangan pria itu. Setelah didapatkan, Tania tersenyum lalu menggenggam erat jemari besar milik Benjamin.
"Paman sudah menjagaku dengan sangat baik. Apapun yang terjadi, aku janji. Aku akan menceritakan semua masalahku kepada Paman."
"Janji?"
"Tentu saja," angguk Tania.
Sumpah demi apapun! Berpura-pura terlihat baik-baik saja sangat sukar Tania lakukan. Jika menuruti ego dan keinginan hati, ingin rasanya dia menghambur dalam pelukan Benjamin dan bercerita tentang perlakuan Gaston dan Julia terhadapnya. Pasti, pengacara pribadi keluarga itu akan bertindak cepat menangani Gaston. Akan tetapi, Tania kini mulai merasa sedikit takut untuk mengambil langkah ekstrem seperti itu. Dia tak mau, andai Hardin kembali akan menjadi korban karena tindak egoisnya menyelamatkan diri sendiri.
"Bagaimana dengan pernikahanmu dan Gaston? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
Luka itu tersayat lagi. Tania kali ini akhirnya gagal mempertahankan air mata agar tak luruh membasahi pipi. Pertanyaan Benjamin sukses membuatnya menahan perih oleh sakit yang tak terlihat.
"Kenapa menangis, Tania? Apa Gaston memperlakukanmu dengan buruk?"
Tania menggeleng. "Dia baik," jawabnya berbohong.
"Lalu, kenapa kau menangis?"
__ADS_1
Tania tertunduk. Pikirannya sedang merajut benang kebohongan baru untuk ia berikan kepada Benjamin. Semua demi memastikan keselamatan Hardin walaupun ia tahu bahwa Benjamin pasti akan merasa terluka dan tak dianggap andai semua kebohongan ini terbongkar suatu saat.
"Aku...," Tania menggigit bibir bawahnya. "Aku hanya tak menyangka saja bahwa ada pria yang sudi menikahi gadis buta seperti aku."
Benjamin menghela napas. Dia tahu bahwa Tania lagi-lagi berbohong. Ia marah. Tapi bukan pada Tania melainkan kepada dirinya sendiri. Benjamin hanya merasa bahwa mungkin dirinya masih dianggap orang asing oleh Tania makanya gadis itu masih belum terbuka dalam bercerita.
"Paman bersyukur jika ternyata Gaston bisa membuatmu bahagia."
Percakapan ditutup saat ponsel Benjamin berdering. Pria itu diminta untuk segera ke kantor karena ada klien penting yang ingin bertemu. Mau tak mau, Benjamin harus berpamitan walaupun ia masih merasa belum puas karena tidak mendapatkan informasi apa-apa dari mulut Tania.
"Bagus, Tania!" Tepuk tangan membuat Tania tersentak. "Jika kau bersikap sebagai anak yang patuh seperti ini sejak kemarin, mustahil Pamanmu akan terbaring di ranjang pesakitan saat ini!" tutur Gaston yang sejak tadi mengawasi pembicaraan antara Tania dan Benjamin. Pria itu sempat berpikir untuk segera keluar dari persembunyian andai Tania berniat mengadu pada pengacara keluarga Gregson tersebut. Untungnya, ternyata Tania perlahan mulai bisa diajak bekerja sama dengan baik.
*
Di tempat lain, tepatnya di sebuah lokasi pemotretan sampul majalah fashion terkenal, Sharon sedang sibuk berganti kostum untuk pemotretan tema selanjutnya. Walaupun usianya sudah memasuki kepala lima, namun patut diakui bahwa tubuh Sharon masih terlihat seksi dan kencang karena rutin olahraga, diet sehat serta jarang mengonsumsi alkohol.
"Berikan ponselku! Cepat!" teriak Sharon angkuh kepada asistennya sambil menadahkan tangannya.
Sang asisten dengan sigap memberi ponsel yang diminta sang artis setelah mengangkat panggilan tersebut terlebih dulu. Jadi, Sharon langsung menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya tanpa perlu repot-repot mengangkat panggilan lagi.
"Ya, Sayang?"
[......]
[.....]
"Ya, kau datang saja ke sini. Aku juga rindu padamu."
Setelah ditutup dengan ciuman sayang, panggilan tersebut pun ditutup Sharon. Wanita paruh baya itu tersenyum senang seraya mematut diri didepan cermin sekali lagi.
"Apa aku sudah terlihat sempurna?" tanyanya sambil berdiri dan berlenggak-lenggok di depan asistennya.
Mau tak mau, wanita bertubuh agak berisi itu mengangguk terpaksa. Jika berkata tidak, pasti Sharon akan langsung badmood dan dirinya yang akan menjadi sasaran amukan.
Tepat dua jam kemudian, pemotretan pun akhirnya rampung. Sharon sudah berganti pakaian dengan sebuah dress ketat berwarna mint, dengan belahan dada rendah serta panjang yang bahkan nyaris tak bisa menutupi keseluruhan bokongnya. Rambut pirang bergelombang sebahu yang ia miliki dibiarkan tergerai. Polesan lipstik berwarna pink nude kembali di tambahkan pada bibir yang sudah berwarna sejak tadi.
"Sayang!" pekik Sharon senang saat berondongnya akhirnya datang.
Lelaki muda yang bahkan jauh di bawah usia Gaston tersebut memeluk tubuh Sharon tanpa canggung. Tanpa melihat sekitar, ia mencium bibir Sharon dengan ganas hingga membuat wanita paruh baya itu melayang ke langit ke tujuh.
"Ingin ke hotel? Aku rindu," bisik Sharon di telinga pemuda itu.
__ADS_1
"Boleh saja. Tapi, apa yang ku minta sudah kau sediakan?" tanya pemuda itu tanpa melepaskan kedua tangannya dari pinggang Sharon.
Sharon tersenyum. Dibukanya tas tangan yang ia bawa lalu mengeluarkan segepok uang dari dalam sana. Sang pemuda langsung tersenyum lebar dan tangannya sigap hendak meraih lembaran hijau itu dari genggaman Sharon.
"Eitsss!" Sharon gegas mengamankan kembali uang itu. "Ada syaratnya...," ujarnya seraya mengerling nakal.
Si pemuda berkulit putih dengan bintik-bintik di area hidung dan pipinya tersebut langsung paham maksud dari perempuan yang bahkan jauh lebih tua dari ibunya kandungnya itu.
"Akan ku buat kau berteriak memohon ampun padaku malam ini, Sharon!" bisik sang pemuda yang sontak menaikkan gairah Sharon di puncak tertinggi.
Keduanya berciuman kembali. Semakin liar hingga tubuh Sharon sudah dihimpit ke dinding oleh pemuda itu. Dan, tak lama... BuGH!
Satu kaleng kosong bekas minuman soda mendarat telak di bagian belakang kepala pemuda yang saat ini sedang menciumi area leher Sharon.
"Siapa itu?" teriak sang pemuda marah. Sharon pun tak kalah emosi karena kesenangannya di ganggu oleh orang lain.
"Berani sekali kau mengganggu kesenanganku! Kau tidak tahu siapa aku, hah?" hardik Sharon kepada seorang lelaki yang masih belum terlihat wajahnya karena berdiri di area yang lampunya sudah dimatikan oleh para crew.
Lelaki itu lalu berjalan santai mendekati Sharon dan berondongnya. Dan... Dalam sepersekian detik, Sharon menahan napas kala paras lelaki itu kini terlihat jelas oleh sepasang matanya yang mendadak mengembun.
"Apa kau tidak malu bermain dengan wanita yang lebih pantas kau sebut Ibu?" tanya lelaki itu pada berondongnya Sharon.
"Itu bukan urusanmu!"
Lelaki itu tertawa. Kedua tangannya dengan santai dimasukkan kedalam saku celana sembari menatap Sharon dengan tatapan sinis sekaligus jijik.
"Kapan Anda akan berubah, Nyonya Sharon? Kenapa sikap Anda masih saja tetap murahan seperti ini?"
"Beraninya kau menghina kekasihku seperti itu!"
Pemuda simpanan Sharon hendak maju menghantam lelaki misterius tersebut. Akan tetapi, tangannya ditahan kuat oleh wanita paruh baya yang mendadak pias itu.
"Kenapa menahanku? Apa dia selingkuhanmu?" tanya si berondong.
Sharon menggeleng. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab.
"Kau mengatakan aku selingkuhannya?" Lelaki itu tertawa. "Aku tidak serendah kau, Bung!"
"Katakan, Sayang! Dia siapa?" tanya berondong itu kepada Sharon.
Sharon masih mematung. Wajah itu telah menguak kembali luka yang belum sepenuhnya kering.
__ADS_1
"Dia... Putraku!" lirih Sharon yang sontak membuat mata si berondong membulat.