Tania Dan Dendamnya

Tania Dan Dendamnya
Lelaki pilihan Paman


__ADS_3

Empat belas bulan yang lalu...


"Paman?" panggil seorang gadis dengan ceria sambil berjalan dengan kedua tangan terentang ke depan meraba-raba sekitar. Senyum di wajahnya mengembang dengan cantik saat ia tahu bahwa hari ini sang Paman kembali setelah syuting selama empat Minggu lebih di pedalaman yang susah sinyal.


"Sayangku!" Hardin menyambut sang keponakan yang tertatih mencari keberadaannya. "Apa kabarmu? Kau baik-baik saja, kan?"


"Ya, aku baik, Paman. Paman bagaimana?"


Hardin mengangguk. "Paman juga baik. Hanya saja, Paman sedikit rindu dengan keponakan Paman yang cantik ini," ujarnya sambil mencubit hidung Tania gemas.


Gadis itu tergelak. Sang Paman memang sangat memanjakannya sedari kecil. Walau hubungan Hardin dan Ayah Tania sedikit renggang untuk ukuran saudara satu ayah, tapi Hardin tetap menyayangi Tania dengan tulus. Setidaknya, itu yang Tania tafsirkan dari perlakuan Hardin selama ini.


Hardin Gregson adalah adik dari Ayah Tania yang bernama Freddy Gregson. Mereka saudara seayah namun berbeda ibu.


Jika Freddy dilahirkan dalam ikatan pernikahan yang sah dan di kenal khalayak ramai, Hardin justru dilahirkan karena hasil perselingkuhan antara majikan dan pembantu. Setelah Hardin lahir, ibunya diusir pergi dan tak pernah diijinkan kembali ke kediaman keluarga Gregson. Jadilah, sejak kecil hingga beranjak dewasa, Hardin tak pernah disukai sang Ayah karena dianggap penyebab petaka dalam hubungannya dengan sang istri sah. Bagaimana tidak? Istri yang awalnya begitu menunjukkan cinta dan perhatian penuh mendadak berubah dingin semenjak Ibu Hardin mengaku hamil.


Hal itu pula yang memicu Freddy ikut membenci Hardin. Ia menuding sang adik sebagai sumber penyakit yang didera sang Ibu sejak Ayahnya ketahuan berselingkuh dengan pembantu. Lalu, 8 tahun kemudian Hardin diasingkan. Diminta oleh sang Ayah untuk mengikuti seorang pembantu senior yang telah pensiun untuk tinggal bersama. Perihal nafkah, Ayahnya tak pernah abai. Hingga akhirnya, Hardin berhasil debut sebagai aktor diusia 17 tahun dan semakin melejit dari tahun ke tahun sampai sekarang.


"Ada hal yang ingin Paman sampaikan padamu. Bisa kita bicara sebentar?"


Tania mengangguk. Ia mengikuti langkah Hardin yang menuntunnya untuk duduk di sofa bersama-sama.


"Ada apa, Paman?" tanya Tania. Kekhawatiran sempat menghinggapi. Takut, andai sang Paman memintanya untuk mengalihkan seluruh aset perusahaan keluarga Gregson yang saat ini menjadi warisan untuknya seperti kemarin-kemarin. Sayangnya, Tania memang tak bisa memenuhi keinginan Hardin yang satu itu. Sang Ayah, yaitu Freddy telah mewanti-wanti sejak jauh-jauh hari sebelum meninggal untuk tidak menyerahkan aset apapun yang menjadi atas nama Tania kepada siapapun termasuk Hardin.


Hardin terdengar menghela napas. "Apa kau tidak kesepian jika sering Paman tinggal dalam waktu yang lama?"


"Kenapa Paman tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Tania heran. Terasa elusan lembut dibagian punggungnya.


"Paman hanya merasa bersalah karena tak bisa terus-menerus berada di sampingmu. Padahal... Paman sangat tahu bahwa kau pasti kesepian."


Mata Tania berkaca-kaca. Waktu itu, ia mengira bahwa semua ucapan Hardin adalah kebenaran. Makanya, ia rela melakukan apapun yang diperintahkan sang Paman kecuali mengalihkan aset yang menjadi atas namanya kepada Hardin.


"Disini banyak pelayan yang bisa menemaniku sepanjang hari. Paman tak perlu cemas."

__ADS_1


"Tetap saja itu berbeda, Tania!" kata Hardin. "Tentu ada suatu hal yang pribadi, yang tak bisa kau ungkapkan kepada mereka. Dan, hal pribadi seperti itu pasti lebih nyaman jika kau ungkapkan kepada orang terdekat seperti Paman, bukan?"


Tania mengangguk patah-patah. Benar yang Hardin katakan. Para pelayan yang bekerja di rumah besar itu memang bisa menjadi teman bicara yang tidak membosankan. Namun, kadangkala ada sesuatu yang ingin Tania bagi akan tetapi para pelayan tak bisa memahami atau tak sampai pada pembahasan tersebut. Hal itu terkadang membuat Tania tersiksa sendiri. Hendak mengambil keputusan, namun ragu harus melangkah tanpa nasihat dari orang yang tepat.


"Benar, Paman. Tapi, kenapa Paman tiba-tiba membahas hal seperti ini? Tidak biasanya," ungkap Tania heran.


Lagi, Hardin menghela napas. "Paman berencana menjodohkanmu dengan putra sulung keluarga Adolf."


"Maksud Paman?"


"Kau kenal Bibi Sharon, bukan?"


"Yang aktris terkenal itu?" tebak Tania walau agak ragu.


"Ya," Hardin mengangguk. "Beliau memiliki seorang putra yang sangat baik. Dan, Paman berencana menjodohkanmu dengannya. Bagaimana?"


"Tapi, Paman?" Gadis buta itu meneguk ludahnya. "Apa aku harus menikah secepat ini? Usiaku bahkan baru 22 tahun. Dan lagi, aku buta."


"Tapi... apa orang lain akan berpikir sama?" lirih Tania tak percaya diri.


Hardin menggenggam tangan sang keponakan. "Percayalah! Dia pria yang sangat baik. Kau akan bahagia jika menikah dengannya."


"Tapi, aku tak ingin menikah muda, Paman!" tolak Tania halus.


"Apa salahnya Tania? Kau tega membiarkan Paman bekerja dengan tidak tenang karena memikirkan mu?" ucap pria itu dengan suara dibuat sesedih mungkin.


"Paman ak...,"


"Tolong percayalah pada Paman. Gaston pria yang paling tepat dalam mendampingimu, Tania."


Tania ingin bersikeras menentang usulan pernikahan yang Hardin cetuskan. Tapi apa daya. Rasa sungkan dan sayangnya kepada Hardin mengalahkan segalanya. Tania tak mau mengecewakan orang yang selama ini telah menopangnya kala ia rapuh karena kehilangan kedua orangtua akibat kecelakaan jet pribadi dan juga kala ia kehilangan penglihatan karena kecelakaan mobil.


"Jika kau menolak, tak apa." Hardin berucap putus asa.

__ADS_1


"Aku tidak menolak, Paman!" sergah Tania cepat. Membuat Hardin kecewa adalah sesuatu yang pantang ia lakukan.


"Jadi, kau mau menerima perjodohan ini?"


"Ya, Paman!" angguk Tania dengan senyum dipaksakan.


Malam harinya, diadakan makan malam perdana untuk peresmian pertunangan antara Tania dan Gaston. Terdengar tawa bahagia dari Hardin berkat suksesnya perjodohan tersebut. Meski terdapat beberapa rumor tak mengenakkan mengenai Sharon, ibu dari Gaston dan Gaston sendiri, namun Tania berusaha untuk menepis semua itu dan pura-pura menulikan telinga. Semua ia lakukan demi kebahagiaan Hardin. Ia tak tahu saja bahwa neraka yang akan ia hadapi, jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.


"Aku beruntung bisa menikahi perempuan secantik Nona Tania," kata Gaston setelah menyematkan cincin berlian di jari manis Tania lalu mengecupnya agak lama.


Tania membisu. Tak ada respon dari wanita itu atas ucapan Gaston. Gosip mengenai Gaston yang gemar bergonta-ganti pasangan dan juga suka mengoleksi perempuan-perempuan seksi, terus membayang di benak Tania. Belum lagi gosip mengenai sang ibu mertua yang tak jauh beda. Sharon juga digosipkan gemar bermain dengan lelaki yang jauh lebih muda bahkan sudah pernah ketahuan paparazi saat baru saja keluar dari hotel bersama salah satu gigolonya. Terdapat pula satu gosip misterius yang masih belum Tania ketahui faktanya secara jelas. Yaitu tentang keberadaan satu lagi putra dari Sharon. Kabarnya, putra bungsunya itu tinggal di luar negeri. Sengaja diasingkan sang Ibu karena kehadirannya yang tak diinginkan oleh Sharon.


"Dua Minggu lagi pernikahan akan dilaksanakan. Aku harap, kau menjaga kesehatan calon menantuku dengan baik, Hardin!" kata Sharon yang langsung membuat tenggorokan Tania tercekat.


'Bulan depan? Kenapa cepat sekali?' gumam Tania dalam hati.


"Tentu saja, Sharon! Kau tenang saja! Tania akan baik-baik saja sampai hari pernikahan !" jawab Hardin.


"Suatu kebanggaan bisa menjadi bagian keluarga Gregson yang terkenal!"


"Begitu pun dengan kami, Sharon! Terimakasih karena kau dan Gaston mau menerima kekurangan keponakanku!"


"Bukan masalah selama dia kaya raya." Bahu Tania langsung tegang mendengar jawaban calon ibu mertuanya. "Bercanda, Sayang!" kelakar Sharon sambil menepuk bahu Tania sebelum tertawa lepas yang diikuti oleh Hardin dan Gaston.


Apa itu lucu? Pikir Tania. Namun, sebisa mungkin ia tersenyum walau terpaksa agar tak dianggap tersinggung oleh orang-orang.


"Setelah menikah, tinggallah bersama suamimu dirumahnya, Sayang!"


"Kenapa kami tak tinggal disini saja, Paman?" tanya Tania heran pada Hardin.


"Tidak bisa," geleng Hardin. "Seorang perempuan yang sudah menikah, harus ikut dengan suaminya, Tania! Kau paham, kan?"


Mau tak mau, Tania kembali menurut. Dia tak tahu saja, bahwa Hardin telah mengusirnya secara halus dari rumahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2