
Setelah mendengar perkataan Sonya tentang perasaannya, Dani lebih banyak diam. Mungkin saja dia sedang memikirkan apa yang dikatakan Sonya.
"Lika, coba kamu ajak Dani kesini, kan diantara kita cuma dia yang bisa bantu soal bakar membakar. Daritadi dia hanya diam tu didalam", saut Sonya menyuruhku untuk mengajak Dani ikut bergabung dengan kami. Aku pun segera memaggil Dani.
"Jangan kamu pikirin kata-kata Sonya yang tadi. Jangan dibuat canggung, santai aja. Ayo kita keluar, itu mereka pada nungguin siapa yang akan membakar dagingnya", ajakku. Akhirnya Dani pun mau dan ikut ajakkanku untuk bergabung dengan kami.
"Maafin gue yah Dan", rayu Sonya yang sudah merasa tidak enak hati pada Dani.
"Jangan dipikirin, kita kan sahabat. Ayo, tujuan kita kesini kan mau senang-senang, kok malah diam-diaman begini", ucapku memecahkan suasana.
"Iya, nanti gue dan Ria yah yang buat sausnya. Dani yang bakar dagingnya, dan Lika sama kamu Sonya buat saladnya. oke....?", pintah Zizi dan langsung mengerjakan tugas masing-masing.
Kami melewati hari ini dengan gembira dan sejenak melupakan hal-hal buruk yang telah terjadi sebelumnya. Malam hari pun kami memutuskan untuk duduk dan bersantai dihalaman samping. Saat sedang asik-asiknya bernyanyi, mereka menyanyikan lagu "Kenangan terindah". Tiba-tiba aku kepikiran tentang Riki.
__ADS_1
"Apa dia sekarang memang sudah melupakanku? masa bisa secepat itu. Kenangan selama setahun ini sudah dilupakannya? ah, kalau dia bisa kenapa aku nggak bisa? aku juga jngin bahagia!", bahtinku, tanpa disadari aku meneteskan air mata dan tak sengaja Sonya melihatnya.
"Kamu kenapa? kok nangis sih? nggak suka yah kita nyanyi lagu itu, maaf yah", Sonya yang melihatku langsung sadar bahwa aku terbawa perasaan saat mereka menyanyikan lagu itu.
"Maaf yah Lika, bukannya maksud kita untuk membuatmu teringat tentang dia", sambung Zizi. Dani yang sedang memainkan gitar ikut diam.
Setelah beberapa saat, Sonya dan Zizi pamit untuk ke supermarket, sedangkan Ria pamit masuk lebih dulu ke kamar. Tersisa aku dan Dani yang masih duduk diluar rumah.
"Dan, bagaimana huhunganu dengan Siska?", tanyaku.
"Nggak apa-apa kalau nggak ingin cerita", ujarku dan tersenyum.
"Aku dan Siska sudah tidak ada hubungan", jawab Dani singkat. Aku terkejut dengan perkataan Dani. Pikirku hubungan mereka masih terjalin baik, karena selama ini tidak ada masalah yang terlihat dalam hubungan mereka.
__ADS_1
"Sudah hampir dua bulan aku dan Siska putus....mungkin dia sudah tidak nyaman denganku", lanjut Dani yang sudah mulai menceritakan tentang kisah hubungannya.
"Maaf kalau aku membuatmu jadi mengingat Siska. Aku tidak bermaksud.....", ujarku ingin meminta maaf namun langsung dipotong Dani.
"Nggak apa-apa kok. Aku juga sudah melupakan dia", ucap Dani.
Kami berdua pun larut dengan pikiran masing-masing.
"Bodoh....bodoh....bodoh.....kenapa aku harus menanyakan hal itu? aku saja masih punya masalah dengan Riki", bahtinku memikirkan masalahku.
"Lika, aku mau mengatakan sesuatu....", Dani yang langsung menyadarkanku dari lamunanku.
"Apa?", tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Aku.......", Dani belum menyelesaikan ucapannya.