
Hari ini adalah hari ketiga mereka saling berkenalan, komunikasi yang mereka bangun semakin hari semakin intens dan membuat mereka nyaman serta terhanyut.
Seperti hari ini, pagi-pagi sekali Hana sudah mendapatkan notifikasi pesan dari Dhito.
"Selamat pagi to, semangat untuk hari ini jangan lupa berdoa ya." Isi pesan singkat namun terasa hangat.
Hana yang baru membuka mata, melihat isi pesan manis dari Dhito membuatnya tersenyum dan merona. Hana langsung membalas pesan itu.
"Pagi ito, kamu juga ya semangat kerjanya. Jangan lupa berdoa." Balas Hana.
Setelah membalas pesan dari Dhito, Hana langsung bangkit dari tempat tidur namun entah mengapa tiba-tiba pandangannya kabur dan berbayang. Hana ingin duduk kembali tapi tidak sadar kalau dia sudah sedikit jauh dari kasur, alhasil Hana terjatuh dengan cukup keras.
Mila yang memang baru selesai mandi dan sedang berpakaian di kamar mandi sangat terkejut mendengar suara benturan keras dari luar kamar mandi.
"Han, itu kamu, kamu kenapa Han??" tanya Mila setengah panik.
Hana yang pandangannya semakin kabur kehilangan kesadaran, tidak ada jawaban dari Hana. Mila yang gelisah langsung menyelesaikan pakaiannya dengan cepat dan langsung keluar melihat keadaan. Betapa terkejutnya Mila saat melihat Hana sudah terbaring lemas dan pucat, padahal tadi malam dia masih baik-baik saja.
Mila langsung pergi berlari keluar kos memanggil Ratih, Ratih pun yang sudah bersiap ke kampus panik mendengar suara Mila yang setengah berteriak.
"Ada apa La, kenapa???" tanya Ratih.
"Itu Hana pingsan, ayo bantu aku sadarkan dia." Jawab Mila dengan suara gemetar.
Di kos yang di tempati mereka itu kos gabungan, gabung antara mahasiswa dan pekerja, jadi tidak hanya wanita, pria pun kos disana cuma di lingkungan yang beda. Satu gedung dua tingkat kos wanita ada jarak di seberang baru kos para pria. Kos itu lengkap cctv di setiap sudutnya jadi akan sangat sulit jika wanita dan pria saling menyelinap dan berbuat tidak senonoh.
Saat Mila dan Ratih kelihatan panik, ada satu pria yang baru saja keluar dari kamar kosnya hendak pergi kerja. Melihat dan mendengar pembicaraan Mila dan Ratih lelaki itu menghampiri mereka.
"Siapa yang pingsan kak, butuh bantuan??" tanya nya.
__ADS_1
"Iya bang butuh, teman saya pingsan di kamar bantu kami mengangkatnya ke kasur bisa gak bang??" tanya Mila.
"Oh boleh, tapi pakaiannya sopan kan kak??" tanya lelaki itu kembali.
"Sopan kok bang, ayo bang." Ucap Mila.
Mereka langsung bergegas ke kamar, lelaki itu langsung membantu Mila dan Ratih mengangkat Hana ke kasur. Betapa terkejutnya mereka ternyata tubuh Hana sangat panas.
"Wah ini sih demam tinggi, gak ke dokter aja kak.." Ucap lelaki itu.
Mila dan Ratih saling lihat, karena mereka bingung tidak ada yang bisa bawa mobil selain Hana.
"Tapi kami gak bisa bawa mobil bang." Ucap Mila.
"Ya sudah naik mobil saya saja, saya antarkan ke rumah sakit terdekat." Jawabnya.
Mendengar perkataan itu Mila dan Ratih setuju, lelaki itu langsung membuka mobilnya dan kemudian mengangkat Hana ke dalam mobilnya, yang ikut dengan lelaki itu hanya Mila. Sedangkan Ratih memutuskan mengambil dompet dan handphone Hana, menutup semua pintu dan akan menyusul mengendarai motor.
...****************...
Sesampainya di rumah sakit Hana langsung masuk ke ruang UGD, setelah di tangani oleh suster dan dokter yang berjaga disana Mila langsung mengucapkan terimakasih kepada lelaki satu kos mereka yang sudah membantu membawa mereka ke rumah sakit.
"Bang terimakasih ya, sudah bisa abang tinggal kami. Tapi maaf kalau boleh saya tau nama abang siapa ya??" Ucap Mila.
"Sama-sama kak, saya Martin salam kenal kak." Jawab Martin sembari mengulurkan tangannya.
"Saya Mila, salam kenal bang Martin." Ucap Mila.
"Sepertinya kita seusia panggil saja dengan nama saya." Ucap Martin kembali .
__ADS_1
Mila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Saya langsung permisi ya Mila, semoga teman kamu cepat sembuh. Saya harus berangkat kerja dulu." Ucap Martin.
"Oh iya bang silahkan, terimakasih ya Martin." Ucap Mila mengoreksi kata-katanya sendiri.
Martin tersenyum dan sembari berlalu meninggalkan Mila yang masih menunggu Ratih di ruang tunggu dekat UGD. Tak lama dari kepergian Martin tampak Ratih dan Ikram berjalan bersama.
Dengan wajah panik Ikram menghampiri Mila, "gimana la, udah sadar belum Hana??" tanya Ikram.
"Belum Kram, Hana ada penyakit bawaan kah??" tanya Mila.
"Enggak sih La, tapi Hana mau tiba-tiba vertigo terus pingsan. Dia gak bisa bangun tidur langsung bangun harus perlahan. Pasti tadi ada sesuatu yang buat dia langsung bangun jadi begini." Jawab Ikram.
Tak lama mereka berbincang suster keluar memanggil wali dari Hana. Mereka bertiga menghampiri suster dan melihat keadaan Hana di UGD, syukurnya Hana sudah sadar.
"Kok aku bisa sampai di rumah sakit sih?? Astaga aku lupa bilang ke kalian kalau aku tiba-tiba pingsan karena vertigo ku kalian cukup tunggu aku sadar aja. Sorry ya teman-teman buat kalian jadi khawatir dan repot begini." Ucap Hana merasa bersalah.
"Kamu bilang gitu juga bakal kami bawa ke rumah sakit tau Han, gila aja nunggu kamu sadar kepala kamu berdarah dan luka gitu." Ucap Ratih.
Hana langsung meraba kepalanya, yang tadinya tidak terasa begitu dia raba menjadi terasa perih. Hana sekali lagi menghela nafasnya karena mendapati dirinya ceroboh sampai merepotkan teman-temannya.
Karena Hana merasa dia tidak butuh di rawat dan Hana di perbolehkan untuk pulang tanpa rawat inap. Dokter hanya meresepkan obat untuknya agar dapat istirahat satu hari. Setelah mengurus administrasi dan menebus obat mereka semua kembali ke kos di antar oleh Ikram dengan menggunakan mobilnya sementara Ratih tetap pulang dengan sepeda motornya.
Hari ini Hana memutuskan untuk tidak pergi ke kampus, namun karena Mila dan Ratih harus pergi ke kampus Ikram membawa Hana untuk beristirahat di kafe miliknya di ruangan khusus Ikram beristirahat. Ikram sengaja mendesain ruang kerja tempat dia istirahat ada sofa yang bisa di ubah menjadi ranjang, karena memang Ikram mau sesekali tidur bermalam di kafe miliknya.
Pengaruh obat yang di suntikkan ke Hana saat di rumah sakit, begitu sampai di ruangan Ikram tanpa berkata apapun Hana merebahkan dirinya dan langsung tertidur dengan pulas. Obat yang di berikan kepadanya berhasil membuat Hana langsung tertidur lelap. Melihat Hana yang tertidur, Ikram dengan tenang meninggalkan Hana di ruangannya. Ikram bergegas ke bawah mengurus kafe dan skripsinya.
Bersambung..
__ADS_1
Maaf ya teman-teman saya hiatus cukup lama tanpa pemberitahuan. Karena memang kondisi kesehatan yang tiba-tiba saja memburuk mengharuskan saya beristirahat cukup lama. Terimakasih untuk teman-teman yang terus mendukung saya sampai hari ini. Semoga cerita saya dapat menghibur teman-teman dari penat dan lelahnya aktivitas sepanjang hari.