
Hana merebahkan tubuhnya di kasur, notifikasi sebuah pesan pun masuk ke handphone Hana. Hana langsung membuka isi pesan tersebut dengan jantung yang berdebar. Padahal dia tidak tau benarkah itu pesan dari lelaki yang meneleponnya tadi atau dari Ikram. Namun jantung Hana sudah berdetak dengan kencang.
Begitu melihat isi pesan tersebut Hana spontan langsung tersenyum. "Hai, pretty." Ucap lelaki tersebut di chatting.
Hana pun membalasnya setelah tiga puluh menit pesan itu masuk."Kok pretty, namaku Hana bang bukan pretty." Balas Hana.
"Oh iyanya, maaf kalau gitu to (ito)." Jawabnya.
Ito adalah sebutan atau panggilan yang berarti abang atau adik untuk sesama suku Batak Toba. Panggilan Ito bisa untuk laki-laki ke perempuan dan bisa juga perempuan ke laki-laki.
"Salam kenal to, tapi kalau boleh tau nama ito siapa ya??" tanya Hana. Sebenarnya Hana sangat canggung memanggil ito, karena keluarganya tidak terlalu kuat dalam adat. Hana sendiri pun tidak pandai berbahasa daerah, namun Hana sedikit mengerti jika ada seseorang yang berbahasa daerah bicara dengannya.
"Saya Ardhito Hasiholan, bisa di panggil Dhito bisa di panggil hasian." Jawabnya.
Hasian artinya kesayangan atau sayang. Panggilan sayang dalam bahasa Batak. Mendengar jawaban Dhito, Hana langsung tersenyum membaca pesan Dhito.
"Oh iya salam kenal Dhito." Ucap Hana.
"Lagi apa sekarang to??" tanya Dhito.
"Lagi duduk-duduk aja to, kamu lagi apa??" tanya Hana.
"Sama, lagi duduk-duduk juga di kamar kos." Jawab Dhito.
Dhito dan Hana pun saling mengobrol lewat chatting, saling menanyakan pekerjaan, tempat tinggal dan asal masing-masing. Hana saat ini tinggal di Kota Medan, sedangkan Dhito asal dari Siantar namun bekerja di Bandung. Di Bandung Dhito bekerja koperasi simpan pinjam, namun dia sudah memiliki kantor koperasi. Tapi Hana belum tau jika Dhito sudah memiliki kantor koperasi, Hana hanya tau Dhito bekerja sebagai pegawai koperasi.
Hingga di chatting Dhito terakhir Hana ketiduran, karena kelelahan Hana langsung tertidur tanpa mematikan handphonenya. Karenanya Hana tidak lagi membalas pesan dari Dhito.
__ADS_1
Tanpa Hana sadari, Mila dan Ratih sedari tadi memperhatikan Hana yang terus tersenyum sembari melihat layar ponselnya. Tidak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya mereka memilih mengabaikan Hana dan benar saja, mereka dapati Hana tertidur sambil menggenggam ponselnya.
"La, gakpapa tuh Hana kenal sama cowok itu. Lihat Hana begini kok aku yang takut ya, dia tulus banget aku takut dia patah hati." Ucap Ratih Khawatir.
"Ratih, kalau gak sekarang Hana rasain jatuh cinta dan patah hati kapan lagi. Lagian itu emang konsekuensinya kalau mau jatuh cinta, Hana tulus tapi aku percaya dia pintar dan bijaksana. Jadi jangan terlalu khawatir, kita doakan saja yang terbaik untuknya." Jawab Mila.
Ratih pun menghela nafasnya, karena sudah malam dan dia pun mulai mengantuk Ratih permisi kembali ke kamarnya, setelah Ratih kembali ke kamarnya, Mila pun memilih untuk tidur di samping Hana. Mereka berdua pun tertidur dengan pulas.
...****************...
Keesokan paginya Hana terbangun dengan tersentak, Hana teringat terakhir kali dia sedang chatting dengan Ardhito. Hana menghela nafas dengan panik langsung membuka pesan dari Dhito. Benar saja ada dua pesan yang tidak di balas oleh Hana namun berhasil membuatnya tersenyum di pagi hari.
"Besok boleh Video call gak to??" tanya Dhito di pukul 22.15 wib, di saat Hana sudah tertidur.
"To udah tidur ya, ya sudah kalau gitu selamat tidur ya semoga mimpi yang indah, syalom to." Ucap Dhito kembali di pukul 22.45 wib.
Karena merasa bersalah Hana langsung membalas pesan Dhito. "Maaf ya to aku ketiduran, boleh kok, video call aja kalau mau ngobrol tapi kalau aku senggang ya, soalnya aku lagi sibuk ke kampus." Jawab Hana.
Begitu selesai bersiap, Hana langsung mengambil semua berkasnya dan masuk ke mobil. Mila sudah pergi sejak pagi karena Mila dan Ratih masih ada kelas pagi, mereka mengulang beberapa mata kuliah.
Saat di mobil sebelum jalan, Hana memeriksakan handphonenya yang ternyata ada pesan balasan dari Dhito.
"Iya gakpapa kok to, ini mau ke kampus ya??" tanya Dhito.
"Iya to, ini mau jalan ke kampus." Jawab Hana.
Baru saja pesan itu terkirim, Dhito sudah membaca dan langsung membalas pesannya.
__ADS_1
"Iyanya, kalau gitu hati-hati ya. Semangat, supaya cepat selesai kuliahnya." Ucap Dhito.
"Siap, kamu juga hati-hati ya kerjanya to. Syalom." Jawab Hana.
"Nanti siang aku telepon ya, syalom." Balas Dhito.
"Iyaa to." Jawab Hana.
Syalom adalah salam yang di ucapkan dalam agama Kristen. Jika memasuki rumah, menyapa ataupun mengakhiri sebuah percakapan biasanya di ucapkan syalom untuk sesama Kristiani.
Hana terus tersenyum, Hana benar-benar sedang berbunga-bunga. Walaupun begitu Hana sadar bahwa dirinya sangat aneh, belum pernah melihat wajah Dhito, belum pernah juga mendengar suaranya namun Hana sudah sangat bahagia. Bahkan jantung Hana terus berdetak dengan kencang hanya dengan membaca pesan dari Dhito.
Baru sadar Hana belum jelas melihat wajah Dhito, Hana pun menyempatkan melihat foto profil Dhito sebelum pergi ke kampus. Jantung Hana semakin berdegup kencang melihat senyum manis dengan lesung pipi yang cukup dalam di pipi Dhito.
Setelahnya Hana pun melajukan mobilnya, sesampainya di kampus Hana langsung mengurus pendaftaran untuk ujian akhir, meminta tanda tangan. Namun sayangnya sudah siang pun tepatnya pukul 1 siang persiapan pendaftaran harus Hana hentikan karena satu tanda tangan lagi belum dia dapatkan.
Akhirnya Hana memutuskan untuk melanjutkan pendaftarannya besok, Hana melajukan mobilnya ke kafe Ikram untuk makan siang. Sesampainya di kafe Ikram dan sudah memesan makan siang, tiba-tiba ponsel Hana berdering. Sebuah panggilan video call dari Dhito.
Hana mengambil ear phone nya dan kemudian menjawab panggilan dari Dhito. Hana dan Dhito mengobrol sebentar, terlihat dari wajah Dhito yang juga canggung akhirnya Dhito mengambil gitar dan menyanyikan sebuah lagu sambil sesekali melirik ke Hana.
Makan siang Hana pun datang di antarkan oleh Ikram, melihat Hana sedang senyum-senyum sendiri dan tidak menyadari kehadiran Ikram, Ikram pun duduk di hadapan Hana sampai Hana sendiri yang menyadarinya. Ikram terus memandangi Hana yang tersenyum merona.
Baru kali ini Ikram benar-benar melihat pipi Hana merona dengan senyumnya yang sangat ceria. Ikram bersyukur bisa melihat Hana tersenyum seperti itu lagi, namun satu sisi Ikram semakin penasaran siapa yang berhasil membuat Hana tersenyum seperti itu.
Ingin sekali rasanya Ikram mengintip ke layar ponsel Hana, namun Ikram menahannya agar Hana sendiri yang bercerita padanya. Ikram tetap duduk diam, sampai Hana menyelesaikan panggilannya.
Bersambung..
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya ya teman-teman, jangan lupa dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman.
See you di next episode 🥰.