
Tak terasa Hana sudah menjalin hubungannya dengan Dhito selama sebulan, Hana dan Dhito tidak pernah putus berkomunikasi setiap hari mereka berkomunikasi berjam-jam seperti tidak ada hari esok bagi mereka.
Setiap bangun pagi, jika salah satunya terbangun duluan akan mengucapkan "Selamat pagi" terlebih dahulu. Saat makan siang Dhito akan mengabari Hana dan video call sambil nyanyi bersama. Saat malam mereka juga selalu video call sebelum tidur, bercerita tentang masalah atau pun kegiatan masing-masing. Sampai tertidur pun tetap video call atau telepon biasa, terkadang sampai pagi, terkadang juga sudah mati saat salah satu handphone habis batre.
Setelah berpacaran dengan Dhito, saat ke kafe Ikram Hana selalu permisi meminjam ruangan Dhito. Karena jika Hana video call sambil bernyanyi di kafe, Hana takut akan mengganggu pelanggan lainnya. Hana sangat berbunga-bunga sampai dia lupa kalau komunikasinya dengan sahabat-sahabatnya semakin berkurang.
Dhito adalah tipe pacar yang sangat posesif, setiap Hana hendak pergi Dhito akan bertanya sedetail mungkin. Seperti dengan siapa Hana pergi, berapa orang, naik apa, kemana, sampai harus video call jika sedang diluar atau sampai di tujuan. Perlakuan Dhito yang seperti itu membuat Hana sangat bahagia, Hana merasa dia sangat dicintai sampai bagi Hana hal tersebut adalah hal yang paling ia syukuri saat ini.
Sedangkan Hana tipe yang manja dan suka di perhatikan, sikap Dhito yang posesif seperti kepuasan bagi Hana yang sangat senang di perhatikan. Dengan senang hati Hana akan mengirimkan foto saat bersama teman-temannya, dan terkadang Hana yang berinisiatif untuk menelepon Dhito saat sudah sampai di tempat, saat pergi bersama teman-temannya.
Melihat Hana yang terus video call atau bertelepon walaupun sebentar di depan teman-temannya, ternyata tidak semua sahabatnya bisa menerima hal tersebut. Yang mulai kesal dengan sikap Hana yang tiada hari tanpa pacarnya adalah Ikram. Ikram mulai jengkel dengan Hana yang berubah drastis hingga suatu ketika saat mereka sedang berkumpul di kafe Ikram. Terjadi sebuah keributan yang cukup besar untuk pertama kalinya antara Hana dan Ikram.
Mereka sedang kumpul saat itu dan Ikram sengaja menutup kafenya cepat untuk mereka nongkrong santai di dalam kafe Ikram. Saat mereka sedang mengobrol dan bercanda tiba-tiba Dhito menelepon Hana, Hana langsung sedikit menepi dan berbicara dengan Dhito.
"Halo sayang, ada apa??" tanya Hana karena sebelum Hana sampai di kafe Ikram mereka juga sudah video call sebentar di mobil sebelum Hana masuk ke kafe Ikram.
"Kamu pulangnya jam berapa??" tanya Dhito.
"Jam 9 atau jam 10 malam sayang, kalau bisa sih jam 9 dari kafe Ikram ke kos." Jawab Hana.
"Gak bisa pulang jam 7 atau jam 8 yang, malam kali kamu pulangnya." Ucap Dhito dengan suara sedikit memelas.
"Iya sayang, nanti jam 8 aku pulang ya. Lagian kan aku bareng Dessy dan Nara sayang." Jawab Hana.
__ADS_1
"Iya sayang, ya sudah lanjutlah sayang, nanti aku telepon lagi ya. Jam 8 harus sudah di mobil ya sayang, aku gak suka kamu pulang larut malam." Ucap Dhito serius.
"Iya sayang.." Jawab Hana.
"Ya sudah ya, aku lanjut ngobrol dulu sayang, love you.." Sambung Hana.
"Love you to sayang.." Jawab Dhito.
Hana langsung memutuskan panggilannya, Hana kembali duduk bersama teman-temannya namun Hana melihat teman-temannya saling diam tidak sedang berbicara. Terlebih lagi Ikram yang tiba-tiba masang raut wajah yang dingin dan jutek.
...****************...
Hana tidak mengerti apa yang salah, dengan lembut Hana bertanya kepada teman-temannya.
"Gakpapa.." Jawab Ikram dingin.
"Kamu kenapa sih, kok pada jutek sama aku, aku ada salah??" tanya Hana dengan melihat ke arah Dessy dan Nara.
Dessy dan Nara hanya saling pandang dan berkata, "gak tau tuh Ikram tiba-tiba jadi serem banget gitu setelah kamu angkat telepon tadi Han." Ucap Nara.
"Kita tanyain kenapa gak di jawab jadi ya sudah kamu aja deh yang nanya." Ucap Dessy juga agak kesal dengan Ikram yang tiba-tiba aneh.
"Kram, kenapa sih aku gak ngerti loh kalau kamu gak ngomong sama aku." Ucap Hana sudah sedikit kesal dengan Ikram.
__ADS_1
"Kamu bisa gak jangan bolak balik telepon, video call kalau kita lagi ngumpul. Kamu berubah banget Han, kamu kayak gak punya waktu lagi untuk kami." Ucap Ikram.
"Kamu kok ngomong gitu sih Kram, kita setiap hari loh ketemu. Aku telepon pacarku cuma permisi aja kok, tadi dia juga nanya aku pulang jam berapa, aku juga gak telepon saat ngumpul berjam-jam hanya beberapa menit saja. Apa yang salah??" Ucap Hana mulai meninggikan nada suaranya.
Dessy dan Nara yang tidak pernah dalam posisi ini begitu terkejut saat melihat Hana dan Ikram bicara. Baru kali ini mereka melihat Ikram seserius itu, Dessy dan Nara juga sedikit merasa Hana berlebihan namun mereka masih bisa memaklumi karena Hana baru pertama kalinya berpacaran serius setelah bertahun-tahun fokus pada kuliahnya.
Dessy dan Nara menganggap sikap Hana tidak bisa disalahkan, bagaimanapun memiliki hubungan yang baru adalah hal yang paling membahagiakan mereka dapat merasakan dan memaklumi hal itu. Begitu juga dengan Ratih dan Mila yang merupakan Mak comblang Hana.
"Tapi harus ya bolak balik telepon, apa kamu gak kenalkan kami sebagai teman-teman kamu. Kalau pacar kamu se posesif itu, artinya dia gak percaya sama kamu." Ucap Ikram menjelaskan kepada Hana dengan maksud agar Hana dapat sadar dan mengatur waktunya.
Namun salah, Hana salah tanggap mengenai perkataan dan sikap Ikram saat ini. Hana yang sudah terlanjur kesal tidak bisa lagi berpikir positif mengenai perkataan Ikram.
"Kamu sahabatku bukan sih, kamu yang paling lama berteman denganku tapi ternyata kamu yang gak bisa memaklumi dan mengerti keadaanku. Aneh kamu, rese." Ucap Hana dan langsung berdiri meninggalkan teman-temannya.
"Han, Han mau kemana??" teriak Nara.
"Balik, udah malas aku." Jawab Hana setengah berteriak, Hana juga sedikit membanting pintu keluar kafe Ikram.
Hana langsung masuk ke mobilnya, menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan kafe Ikram. Sementara Dessy dan Nara yang memohon agar Ikram mengejar Hana tidak terwujud. Ikram hanya diam dengan wajahnya yang cukup memerah menahan amarah. Melihat ekspresi Ikram Dessy dan Nara juga ikut diam sembari menghela nafas panjang. Mereka hanya bisa terdiam menunggu Ikram sadar dari amarahnya.
Pertama kalinya dalam persahabatan mereka, mereka bertengkar karena orang ketiga. Ikram juga sebenarnya tidak mengerti mengapa dia semarah itu dengan Hana, mengapa dia sekesal itu dengan sikap Hana. Melihat kepergian Hana, Ikram hanya bisa menggeram kesal karena tidak bisa mengontrol perkataannya kepada Hana.
Bersambung...
__ADS_1