Terbelenggu Asmara

Terbelenggu Asmara
Episode 13


__ADS_3

Satu hari di habiskan Hana di kafe milik Ikram, dari siang hingga sore, hampir magrib, Hana tidak menerima pesan atau pun satu panggilan dari gebetannya. Jelas hal itu membuat Hana sedikit sedih, dia ingin memulai chatting lagi tapi Hana berpikir kalau dia terlalu mengejar Dhito. Dhito akan ilfil padanya, Hana menahan dirinya dengan terus menyibukkan diri.


Hari itu kafe Ikram cukup ramai, Hana jadi ikut turun tangan melayani semua tamu disana. Tepat pukul 18.30 wib pelanggan pun sudah mulai pulang dan tidak ada yang datang lagi. Ikram langsung menutup kafenya, padahal biasanya mereka buka sampai jam 8 malam. Setelah beberes Dessy dan Nara pulang ke rumah mereka, sementara Ikram mengantar Hana kembali ke kosnya.


Di perjalanan menuju kos Hana, Ikram banyak sekali bertanya ke Hana mengenai pendekatannya. "Gimana lancar gak pdktan mu??" tanya Ikram.


"Lancar, lancar aja. Emang kenapa??" Hana kembali bertanya.


"Kok satu harian ini aku gak lihat kamu telepon sama dia." Ucap Ikram penasaran.


"Tadi udah chatting di atas sebelum aku turun sama Dessy, Nara. Ya kan aku bukan pacarnya, gak harus dis telepon aku setiap hari." Jawab Hana.


"Iya sih, tapikan dia lagi ngejar cewek ya normalnya yang aky tau laki-laki pasti bakal lebih effort." Ucap Ikram.


"Diakan kerja, sibuk kali. Udah ah gausah bahas yang belum jadi pacarku Kram." Jawab Hana.


"Hmm, baiklah" Ikram berdeham.


Sampainya di depan gerbang kos Hana, Ikram memberikan makanan dan obat-obatan Hana dari rumah sakit tadi pagi.


"Nih di makan sebelum tidur ya Han, obatnya juga jangan di minum. Sekali lagi aja minum, besok-besok kalau udah enakan gausah minum lagi." Ucap Ikram.


"Iya siap bos, kamu gak bilang mama, papa ku kan??" tanya Hana memastikan.


"Hmm enggak, tadinya aku mau telepon tapi takut tante terlalu khawatir sementara mereka sedang di luar kota. Yaudah aku skip aja, kamu nya juga gak terlalu parah jadi aku gak bilang tante om atau pun bibi." Jawab Ikram.


"Makasih Kram, iya bener gausah beritahu mereka, sabtu ini aku ke rumah nebeng kamu ya. Kamu gak malam mingguan kan??" Ucap Hana.


"Lihat nanti sabtu ya tuan putri, nanti aku beritahu Jumat malam." jawab Ikram.


Hana menganggukkan kepalanya dan turun dari mobil Ikram. Entah mengapa Hana malas sekali menyetir mobilnya untuk pulang ke rumah minggu ini.

__ADS_1


Hana bebersih, selesai bebersih Hana mendapat pesan dari Ikram yang mengatakan bahwa dia telah sampai di rumah. Hana hanya membacanya tidak membalasnya, begitulah kebiasaan keduanya. Dengan menghela nafas kasar Hana mencampakkan handphonenya di atas kasur.


"Kenapa sih dari tadi sampai wajahnya jutek banget." Ucap Mila teman sekamar Hana.


"Gakpapa Mil, lagi gak enak badan aja." Jawab Hana.


"Yaudah makan nih makanan kamu, trus minum obat, abis itu tidur. Biar besok bisa ke kampus selesaikan pendaftaran wisuda kamu." Ucap Mila.


Hana menganggukkan kepalanya, makan bersama Mila. Hari ini Ratih sama sekali gak muncul, membuat Hana sedikit bingung.


"La, Ratih mana??" tanya Hana.


"Di kamarnya kayaknya, lagi berantem dia sama gebetannya sama kayak kamu jutek mulu." Jawab Mila.


Hana yang tadinya jutek, tiba-tiba jadi tertawa mendengar perkataan Mila." Memang kamu pemenangnya La, bahagia benar hidupmu ya." Ucap Hana.


"Iya dong, siapa dulu.." Jawab Mila sembari tertawa.


...****************...


"Han, handphone mu tuh.." Ucap Mila.


"Biarkanlah La, paling juga Ikram lagi malas aku gerak." Jawab Hana.


Handphone Hana diam sejenak, setelahnya berdering lagi.


"Han, berisik, matikan kek atau angkat kek siapa tau penting, buruan." Ucap Mila udah mulai kesal.


"Iya iya nyonya.." Jawab Hana.


Hana langsung berdiri mengambil handphonenya, betapa kagetnya dia bahwa nama yang tertera di layar adalah Dhito. Hana langsung menjawabnya dan berbicara di luar kosnya, pas sekali di kos mereka ada satu kursi taman di depan kamar mereka.

__ADS_1


Di luar Hana dan Dhito berbincang cukup lama, mereka membicarakan diri masing-masing sampai membicarakan soal penyakit Hana yang tadi pagi kambuh. Dhito juga membicarakan sedikit tentang keluarganya yang ada di kampung. Namun semakin lama mereka berbincang pembahasan keduanya semakin dalam sampai pada dengan tiba-tiba Dhito menyatakan perasaannya kepada Hana.


"Han, maaf ya jika apa yang akan aku bilang ini terdengar seperti pria brengsek atau pria genit yang mau main-main." Dhito memberhentikan ucapannya sejenak.


Hana yang terkejut, tiba-tiba jantungnya berdetak dengan sangat cepat, Hana bahkan tidak bisa bicara saat Dhito berhenti sejenak, Hana hanya mendengarkan dengan jantung yang sudah berdetak kencang.


"Aku tau ini terlalu cepat dan seperti tidak mungkin, tapi tolong jawab jujur pertanyaanku ya Han." Ucap Dhito.


"Hmm iya to, kamu mau tanya apa??" tanya Hana dengan suara sedikit bergetar.


"Kamu beneran gak punya pacar?? Atau yang lagi dekat sama kamu gitu??" tanya Dhito.


"Iya aku gak punya pacar, yang lagi dekat ada tapi pacar gak ada." Jawab Hana.


"Syukurlah berarti kita sama." Ucap Dhito.


"Maksud nya??" tanya Hana.


"Sama-sama gak ada hati yang kita jaga." Ucap Dhito.


Hana hanya bergumam sedikit.


"Kalau begitu boleh gak, aku aja yang ada di hatimu.." Ucap Dhito spontan.


"Hah, apa to??" tanya Hana setengah kaget.


"Han,,,, aku menyukaimu." Ucap Dhito.


Deq, jantung Hana berdegup dengan kencang, Hana menelan saliva nya, Hana dirundung kebingungan bagaimana hendak memberi jawaban kepada Dhito, dan Hana bingung apakah perasaannya ini benar suka pada Dhito atau hanya karena penasaran dan sudah lama tidak berbicara dengan lawan jenis.


Hana juga sedikit takut, apakah Dhito bersungguh-sungguh atau hanya ingin bercanda dengan Hana. Karena bagaimana tidak Hana berpikir dengan keras, karena mereka baru tiga hari kenal sudah langsung bicara mengenai hubungan. Hana takut, tapi seperti tidak ingin menolak Dhito.

__ADS_1


Apakah Hana akan juga menyatakan perasaannya atau menahannya sampai mereka lama berkenalan ya??? Ikuti terus ceritanya ya teman-teman.


Bersambung..


__ADS_2