Terbelenggu Asmara

Terbelenggu Asmara
Episode 9


__ADS_3

Hana semakin terpesona setelah mendengar Dhito bernyanyi dengan memetik gitarnya. Terlihat Dhito Sangat mahir memainkan gitar, suaranya yang lembut berhasil membuat Hana jatuh cinta padanya.


Dhito yang sadar Hana terus tersenyum padanya mengakhiri permainan gitarnya, Dhito menatap Hana dan berkata. "Jangan senyum terus dong, aku jadi gak fokus nih. Sekarang gantian kamu yang nyanyi kalau gitu biar aku dengerin dan aku iringi pake gitar."


Hana tertawa, "Maaf ya To, aku gak bisa nyanyi. Kamu aja yang nyanyi, suara kamu kan bagus." Ucap Hana.


"Coba dulu dong, masa gak mau coba. Kamu nyanyi aku yang main gitarnya." Ucap Dhito.


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ikram yang mulai tidak sabar melihat Hana yang tidak sadar akan kedatangannya pun berdeham.


"Hmm, ehem.."


Hana langsung menatap ke depan, menatap Ikram. Karena tidak ingin membuat Dhito sang gebetan salah paham, Hana langsung mengakhiri video call mereka.


"To, aku mau makan dulu ya, kamu emang gak kerja??" tanya Hana.


"Ini mau lanjut kerja, yaudah kamu makan ya. Jangan lupa berdoa ito." Ucap Dhito mengingatkan.


"Iya, makasih ya, syalom." Jawab Hana.


"Syalom ito." Ucap Dhito.


Hana langsung mematikan panggilan itu dan menatap sinis ke arah Ikram. Sembari mengambil makanannya Hana sedikit ngedumel kepada Ikram.


"Apaan sih tadi ehem, ehem, aku tau kamu tadi datang. Tapi pura-pura gak tau aja lagi fokus video call tau." Ucap Hana.


"Siapa itu?? kok kamu gak ada cerita samaku.." Ucap Ikram.


"Kenalan dari Mila, baru kenal semalam namanya Dhito, dia satu suku sama aku tau. Pintar nyanyi lagu batak, jadi aku bisa belajar bahasa batak sama dia." Ucap Hana.


"Sini lihat fotonya." Ucap Ikram sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Hana yang memang gak bisa menolak permintaan Ikram, dengan berat hati memberikan ponselnya kepada Ikram. Ikram langsung melihat profil foto Dhito sedangkan Hana menyantap makanannya yang sudah hampir dingin.


Hana melihat Ikram yang menganggukkan kepalanya dan kemudian memberikan ponsel Hana kembali.


"Gimana, gimana?? manis kan dia??" tanya Hana dengan sangat bersemangat.


"Yah, lumayanlah tapi ingat ya jangan terburu-buru kamu. Jadi dia tinggal dimana??" Ucap Ikram.


Hana pun menceritakan semuanya kepada Ikram, dari tempat tinggal dan pekerjaan Dhito, Hana juga menceritakan awal mula mereka saling kenal.


"Kamu yakin mau kenal dia lebih lanjut?? kalian jarak jauh loh ini. Yakin bisa??" tanya Ikram serius.


"Kan masih kenalan doang Kram, belum tau mau pacaran atau enggak. Kalau pun jarak jauh, aku bisa kok. Aku gak terlalu manja tau jadi perempuan." Ucap Hana.


"Lihat kamu yang sekarang aku udah bisa tebak bakal ngarah ke pacaran. Iya Han, aku tau kamu mandiri anaknya. Tapi beda kalau kamu udah jatuh cinta dan sayang sama seseorang, jauh buat berat dan aku gak yakin kamu tahan." Ucap Ikram menasehati.


"Lihat nanti aja kram, aku masih mau jalani dulu. Kayak air mengalir aja deh kram, gausah main tebak-tebakan." Jawab Hana.


Walaupun Hana terlihat acuh tak acuh dengan ucapan Ikram, namun jauh di lubuk hatinya Hana mulai memikirkan hal tersebut. Namun sayang, rasa sukanya kepada Dhito lebih besar dari pada kekhawatiran yang masih di anggapnya sepele. Dengan yakin Hana meyakinkan diri bahwa dia bisa jarak jauh asalkan tetap komunikasi.


...****************...


Setelah selesai makan, Hana memesan kembali beberapa makanan untuk di bawanya pulang. Hana sangat jarang bawa makanan pulang sehingga Ikram penasaran dan bertanya.


"Tumben bawa pulang makanan." Ucap Ikram sembari memberikan makanan yang sudah di bungkusnya kepada Hana.


"Iya mau traktir Mila dan Ratih, sekalian ucapan terimakasih karena dari Mila aku kenal Dhito." Jawab Hana.


"Hmm jangan terlalu senang pamali, boleh senang sewajarnya saja. Jadi ini kamu mau balik ke kos??" tanya Ikram.


"Iya, iya, papa Ikram. Iya nih aku mau balik ke kos." Ucap Hana.

__ADS_1


"Udah pulang emang Mila sama Ratih??" tanya Ikram.


"Sudah, tadi baru aku chatting." jawab Hana.


"Ya sudah sana pulang, hati-hati di jalan. Ingat ya Han kalau ada apa-apa kasih tau aku. Awas kalau aku tau dari orang lain tentang kamu, aku bakal marah banget sama kamu." Ucap Ikram mengingatkan.


"Iya, iya bawel." Ucap Hana dan langsung pergi keluar dari kafe Ikram.


Yah begitulah memang jika orang sedang jatuh cinta, semua ucapan orang hanya akan jadi musik yang di dengarkan sembari berlalu tanpa menetap sejenak di pikiran.


Setelah Hana pergi, entah mengapa perasaan Ikram tidak enak memikirkan Hana. Ikram duduk dan merenung sejenak, bingung kenapa perasaannya jadi tidak enak begitu.


Dessy dan Nara pun datang, setelah mengganti pakaian dan bertukar shif mereka menghampiri Ikram yang terlihat termenung di kursi kasir.


"Woi Kram kenapa, mikirkan apaan sih??" tanya Dessy.


"Tau nih, siang-siang begini malah bengong begitu." Ucap Nara menambahi.


"Hana, sedang pdkt sama orang. Tapi perasaanku kok jadi gak enak ya." Ucap Ikram spontan.


"Hana, kok gak ada cerita ya ke kita. kenapa perasaan kamu gak enak, kamu khawatir Hana sakit hati.." Ucap Dessy.


"Udahlah Kram jangan terlalu di pikirkan kita cukup jagain Hana dari jauh aja. Kita doakan aja yang terbaik untuk dia, udah saatnya dia kenalan dan jalin hubungan biar dia bisa memilih kedepannya Kram. Kamu tenang aja, aku dan Dessy bakal sering curhat-curhatan sama dia, jadi jangan kita terlalu posesif ke dia biar dia memilih dengan hatinya." Ucap Nara.


Ikram dan Dessy pun setuju dengan kata-kata Nara, sepertinya dia terlalu khawatir karena baru pertama kali melihat Hana sangat bahagia karena orang lain, bukan karena mereka.


Hal ini bisa di maklumi, selain perasaan baru buat Hana namun juga suasana baru untuk sahabat-sahabatnya yang sudah mengenal Hana. Mereka hanya bisa berharap dan beroda untuk kebahagiaan sahabatnya itu.


Bersambung..


Ikuti terus ceritanya ya teman-teman, jangan lupa dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman.

__ADS_1


See you di next episode 🥰.


__ADS_2