
Hana sangat merasa lega akhirnya dia sudah menyelesaikan tugasnya dalam pendidikan. Hana juga sangat lega karena skripsinya tidak terlalu banyak perbaikan. Setelah selesai acara makan bersama Hana ikut mama dan ayahnya pulang. Hana juga berpamitan kepada Ratih dan Mila.
Sesampainya di rumah Hana bebersih dan langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat, begitu juga dengan mama dan ayahnya. Di kamar sambil berbaring Hana langsung menelepon sang kekasih Dhito.
"Maaf ya sayang baru bisa telepon sekarang." Ucap Hana.
"Gakpapa yang, kan dari tadi kita juga chatting terus. Abang pikir kamu bakal sampe malam loh, ternyata jam tujuh udah di rumah." Ucap Dhito.
"Gak ah yang capek, ini aja aku udah capek banget rasanya." Keluh Hana.
"Ceritain dong gimana tadi sidangnya yang, acaranya juga gimana ceritain."
Hana menceritakan bagaimana saat dia sidang, saat Hana mengikuti sidang meja hijaunya tidak ada kesulitan yang terlalu sulit di hadapi oleh Hana. Seperti dugaan semua teman-temannya bahwa Hana bisa melewatinya dengan baik.
Hana juga menceritakan beberapa surprise yang dia terima hari ini dari mama dan ayahnya serta teman-temannya. Di tengah pembicaraan mereka Dhito tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu dengan nada serius kepada Hana.
"Yang, sebenarnya ada yang mau abang katakan pada kamu. Kejadiannya kemarin malam sih sebelum kamu sidang, tadinya abang mau langsung bilang tapi takut kamu jadi kepikiran trus gak fokus." Ucap Dhito.
"Ada apa yang??" tanya Hana serius dan mulai penasaran.
__ADS_1
Dhito mengirimkan beberapa foto hasil screenshot dari handphonenya. "Itu yang, coba lihat deh, abang salah lihat atau gimana tapi kok mirip sama teman kamu yang foto waktu kita videocall." Ucap Dhito.
Hana langsung melihat apa yang dikirimkan Dhito padanya, ternyata Ratih chatting Dhito melalui akun sosmed keduanya. Biasanya akun kedua Ratih tidak mengenakan foto profil, namun yang di kirimkan Dhito ke Hana mengenakan foto Ratih.
"Iya yang itu temanku, dia ada chatting kamu??" tanya Hana.
"Enggak kok yang, cuma follow aku aja kok." Jawab Dhito.
"Beneran??" tanya Hana kembali karena memang dia kurang percaya.
"Iya yang, kalau dia chatting pasti abang udah bilang kamu. Dia follow aja abang bilang kan ke kamu." Jawab Dhito.
"Kamu dan temanmu itu gadak masalah kan yang??" tanya Dhito karena melihat wajah Hana yang berubah di layar handphonenya.
Hana langsung tersenyum, "enggak kok yang, gadak masalah apa-apa lagian dia tau sosial media kamu kan dari aku yang." Ucap Hana berbohong.
"Oh ya, syukurlah kalau begitu yang." Jawab Dhito.
Setelah mereka berbincang, bercanda dan membahas segala hal. Dhito pun menyuruh Hana untuk beristirahat, karena sudah setengah hari beraktivitas di luar. Hana pun langsung menurut, mereka tetap video call sampai Hana tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Namun Hana sebenarnya tidak bisa tidur kalau lampu menyala, Hana punya kebiasaan pura-pura tidur sampai akhirnya panggilan video di matikan oleh Dhito dan Hana pun bangun untuk mematikan lampu kamarnya. Hal ini terus berlangsung selama mereka pacaran.
...****************...
Hana semakin gelisah memikirkan Ratih, Hana sangat ingin bercerita ke Mila tapi Hana takut ceritanya jadi salah paham kepada keduanya karena memang hal seperti ini masih tergolong biasa saja. Namun entah mengapa Hana yakin bahwa Ratih ada ketertarikan kepada Dhito, jika Hana lebih cepat menanyakan langsung ke Ratih dan Mila, Hana takut Ratih jadi berbohong dan malah membuat Hana menjadi tidak enak kepada Ratih.
Hana mencoba bersabar dan mengumpulkan bukti yang lebih akurat sehingga jika kecurigaannya benar maka Ratih tidak akan bisa lagi berbohong. Namun Hana sampai saat ini berharap Ratih mengeluarkan foto yang dia ambil di grup dan menggodanya. Hana sekali lagi berharap bahwa prasangkanya terhadap Ratih adalah kesalahan.
Hari-hari berlalu seperti biasanya, bulan dua belas pun tiba saat yang sangat dinantikan oleh Hana untuk bertemu sang kekasih. Perbaikan skripsi yang sudah dia selesaikan, perawatan dan berbelanja produk kecantikan, dress dan sepatu pun dia lakukan. Hana ingin saat dia bertemu Dhito, Dhito tidak kecewa dengan penampilannya. Hana benar-benar memikirkan banyak hal.
Namun Hana belum memberitahu ke mama dan ayahnya, malam ini Hana berencana meminta izin kepada mama dan ayahnya sebelum mereka pergi lagi ke luar kota untuk bekerja. Ayah Hana bukan tipe ayah yang suka marah atau menghukum anaknya, namun Hana sangat takut untuk menyatakan hal ini kepada ayahnya. Hana berencana hanya permisi ke mamanya saja, namun karena bimbang akhirnya Hana meminta pendapat Ikram sahabat dekatnya sedari kecil.
Hari ini Hana mengambil semua barangnya di kos Mila dan ingin berpamitan dengan kedua sahabat kuliahnya itu. Sejak Hana tau Ratih diam-diam mencari tahu tentang Dhito, Hana menjadi sedikit cuek ke Ratih. Namun sampai saat ini Mila atau pun Ratih belum mengatakan apapun pada Hana. Entah mereka tidak merasakan perubahan Hana atau mereka menunggu saat yang tepat untuk bicara kepada Hana.
Walaupun hubungan mereka sedikit renggang, namun Mila selalu mencoba berkomunikasi di grup mereka atau sekedar menelepon Hana untuk bercerita kesehariannya, setelah sidang Hana memang sama sekali belum ada bertemu lagi dengan sahabat-sahabatnya. Hana lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama mama dan ayahnya, sepertinya teman-temannya juga paham akan hal itu. Karena Hana sangat jarang bisa berkumpul seperti itu dengan keluarganya.
Kira-kira apakah tanggapan Ikram dengan cerita Hana, atau sebenarnya Mila dan Ratih sudah merasakan perubahan Hana dan mencoba memakluminya?? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?? Apakah hubungan pertemanan akan renggang setelah salah satunya memilih untuk fokus ke pasangannya..
Bersambung..
__ADS_1