
Tak terasa sudah satu bulan aku tinggal di rumah paman dan hari ini pun aku akan pergi ke rumah mas Hendra, aku ingin lihat apa selama aku pergi barang-barangku yang ada di rumah mas Hendra masih ada atau sudah di buang oleh mereka.
Memikirkan barang-barang ku di buang saja membuat ku tersenyum kecut. Semoga apa yang aku butuhkan masih ada dan tak ada halangan nanti di sana, sengaja aku memilih waktu di antara makan siang karena waktu itu pas hanya ada ayah mertua ku saja di rumah jadi tak akan sulit aku masuk kedalam rumah itu untuk mengambil semua yang aku punya, aku tak akan mengambil yang bukan punyaku.
Aku mengajak mas Reno menemaniku ke rumah itu agar mas Reno juga bisa menjadi saksi kala nanti aku akan mengajukan gugatan cerai itu.
Sekitar dua jam perjalanan kami pun sampai rumah mas Hendra tepat jam sebelas siang aku sampai rumah yang selama ini terlihat bersih saat aku berada di sini sekarang nampak sedikit berantakan walaupun tak sebersih waktu aku di sini, aku pun mengetok pintu.
Tok.... Tok... Tok....
Terdengar derap langkah yang mendekat ke arah pintu aku berharap ayah mertua ku yang membukakannya karena hanya beliau yang selalu membantuku saat aku masih menjadi menantu nya.
Tetapi siapa yang menyangka orang yang tak kuharapkan lah yang membukakannya ya ibu mertua ku mamah Erna dia menatapku tak berkedip dan mematung seperti melihat hantu.
mamah pun berucap sambil terbata-bata mungkin dia tak menyangka aku akan kembali lagi kesini tetapi tujuanku kemari bukan untuk kembali pada anak nya yang selalu menuruti apapun kemauannya aku pun langsung mengucapkan apa tujuanku kemari dan masuk tanpa permisi menuju ke kamar yang dulu aku tempati dengan mas Hendra.
"Jangan membawa apapun yang bukan hak mu" ucap mamah Erna yang tengah berkacak pinggang di depan pintu kamar.
Aku pun berdecak mendengar ucapan mamah Erna, sekarang aku tak akan memperdulikannya lagi aku terus saja memasukkan baju kedalam koper yang dulu aku bawa kemari sedangkan mamah Erna aku tak melihat nya lagi.
Ah biar lah sekarang tujuanku hanya mencari buku nikah kami agar aku bisa memproses perceraian kami dan segera lepas dari keluarga benalu ini setelah semua nya kurasa sudah masuk ke koper aku pun membawa nya ke ruang tamu sedangkan mas Reno tetap mengawasi ku walau mas Reno tak masuk.
__ADS_1
"Sudah selesai Lis?" ucap mas Reno ketika aku sudah sampai di hadapannya.
"Sudah mas, yuk kita pergi" ucapku sambil melihat ke sekitar rumah ternyata sudah ada beberapa ibu-ibu yang melihat ke arah rumah ini dan aku pun tersenyum sama mereka dan berlalu tanpa sepatah kata pun.
biar lah mereka mau berfikir apa tentang ku toh mas Reno adalah sepupu ku, aku tarik tangan mas Reno agar cepat menyalakan mobil dan pergi dari sini sudah tak enak rasa nya lama-lama berada di rumah mertua eh mantan mertua.
"Kamu sudah membawa persyaratan untuk mengajukan perceraian itu kan Lis? Jangan sampai kamu melupakan hal penting itu" ucap mas Reno sambil menyalakan mobil nya untuk pergi dari sana.
"Sudah mas ini aku bawa semua nya"ucap ku sambil menunjukan dokumennya di dalam tas yang aku bawa.
"Ya sudah yuk kita pergi dari sini" kami pun pergi meninggalkan kediaman mertua ku itu didalam perjalanan menuju rumah paman aku selalu menatap keluar jendela entah mengapa sekarang hati ku merasa tenang dan damai tak merasakan beban yang seperti dulu ketika aku masih tinggal bersama mas Hendra.
"Kamu kenapa Lis? Apa kamu masih berat meninggalkan suami ber*Ng*ek mu itu?" ucap mas Reno sambil melirik ke arahku sesekali dan menatap kembali ke depan jalan.
Setelah sampai di rumah paman mas Reno membantuku mengangkut koper yang berada di dalam bagasi dan membawa nya ke kamar ku.
Aku langsung menuju paman yang tersenyum di depan pintu menyambutku.
"Assalamualaikum paman" ucapku sambil menyalami tangan yang selama ini telah menyayangiku.
"Wallaikumsalam apa semua nya sudah selesai nak?" ucapnya lembut sambil mengelus rambutku yang tertutup hijab, ya ketika aku sudah berpisah dengan mas Hendra aku memantapkan diri untuk lebih dekat lagi kepadanya dengan menutup kepala dan lebih mendekatkan lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah paman semua nya di lancarkan semoga nanti proses di pengadilan juga di lancarkan"
"Tenang saja kalau masalah ke pengadilan biar mas nanti yang akan urus kamu tau beres aja" ucap mas Reno yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku, aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Makasih ya mas atas semua pertolongan nya" ucapku tulus menghadap ke arah nya.
"Hm... Yuk kita masuk,jangan di depan pintu terus. Winda kemana yah?" ucap mas Reno ketika tak melihat istri nya itu.
"Istrimu lagi di kamar kaya nya tadi dia bilang ingin istirahat" ucap paman sambil menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah aku akan ke kamar dulu setelah menyimpan koper kamu" ucap mas Reno sambil berlalu meninggalkan aku dan paman di belakang dan segera menaiki tangga.
"Apa benar tadi kamu tak mendapatkan masalah di sana? Mertua atau suami mu tidak membuat masalah kan?" ucap paman lagi terlihat raut kekhawatiran di wajah tua nya sedangkan aku tersenyum agar paman tak merasa cemas.
"Engga paman tenang saja, aku kesana tidak ada orang kok cuma mamah mertua mungkin dia sedang melakukan aktifitas yang dulu ku lakukan karena sewaktu aku kesana dia tak banyak mengikuti ku" ucapku sambil tersenyum menatap paman dengan lembut.
"Alhamdulillah kalau begitu... Paman khawatir takut nya kamu di sana di bikin sulit, lalu bagaimana dokumen untuk perceraian mu apa sudah kamu ambil?"
"Sudah paman aku tinggal menyerahkan saja sama mas Reno kata nya mas Reno yang akan mengurus semua nya"
"Bagus lah kalau begitu paman jadi lega, jangan lagi kamu tutupi masalah sekecil apapun kepada kamu Lis, kamu itu keluarga paman dan sepupu Reno dengan siapa lagi jika bukan dengan kami, kamu akan berbagi keluh kesah" ucap nya menatap sendu ke arah ku.
__ADS_1
"Makasih paman dan maaf Lisa hanya dapat merepotkan paman dan keluarga"
"Jangan berkata seperti itu sayang" paman pun memelukku dengan hangat.