Terhina di keluarga suami

Terhina di keluarga suami
Bab 34


__ADS_3

P.O.V Hendra


perhiasan yang aku ambil dari mamah sudah aku jual tetapi ada satu set yang disukai Lulu jadi aku tak menjual nya, aku berniat menyimpannya untuk pegangan aku dan Lulu nanti setelah menikah.


Aku pun meminta Lulu untuk tidak memberikan hal ini kepada siapapun termasuk orang tua kami sebab nanti takutnya mereka akan meminta aku untuk menjual perhiasan itu.


(Mas, usaha apa yang modal nya hanya lima puluh jutaan mas?) ucap Lulu mengirimi ku chat.


Ya aku memberitahukan Lulu hasil penjualan mas yang aku ambil dari ibu kemaren itu pun atas desakan ayah sebenarnya aku tak tega mengambil perhiasan ibu tapi mau bagaimana lagi sekarang aku dan Lulu tak bekerja jadi ya ini akan aku jadikan untuk membuka usaha ku bersama Lulu nanti setelah kami menikah nanti.


Ternyata lumayan aku menjual semua perhiasan yang mamah beli salama ini ada dua set perhiasan, empat gelang, satu kalung, dan tiga cincin. lumayan banyak Samapi orang yang ada di toko perhiasan itu menatapku dengan pandangan sinis dan mungkin juga mereka berfikir jika aku ini habis mencuri atau apa lah aku tak hiraukan lagi tatapan orang-orang itu yang terpenting saat ini adalah perhiasan ini aku jual dan aku mendapatkan uang untuk usaha.


(Gini saja sayang mending sekarang kamu cari informasi usaha apa yang bisa kita kerjakan dengan modal yang saat ini kita punya)


(Ya sudah nanti aku cari info usaha atau kerjaan apa yang bisa kita lakukan dengan modal yang kita punya saat ini)


Akhirnya aku pun sampai rumah yang tentu saja di sambut oleh keponakan ku yang lucu dia langsung meraih plastik yang aku bawa dari sebuah restoran siap saji yang cap kakek tua.


Dia begitu senang ketika aku membawakannya makanan kesukaan nya itu.


"Dimakan ya sayang" ucap ku kepada ayu sambil mengelus kepala nya dengan sayang.


"Ini buat ayu om?"


"Iya...." ucap ku sambil berlalu masuk ke dalam dan mencari mamah, aku akan memberikan sedikit uang penjualan perhiasan tadi kepada nya agar mamah juga merasakan walau tak seperti ketika aku gajian.


Aku mencari mamah di hampir seluruh rumah tetapi tak menemukannya, sampai akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar nya saja siapa tau mamah ada di dalam.


Tok.....


Tok.....


Tok.....


Tapi tetap tak ada jawaban dari dalam aku pun mencoba untuk membuka nya dan ternyata kamar tersebut tak di kunci.


"Mah......." kepala ku pun aku masukan ke dalam untuk mengintip apakah mamah ada di dalam atau tidak, ternyata mamah ada di dalam sedang duduk di tepi tempat tidur menghadap ke jendela.


Aku membuka sedikit pintu agak lebar agar aku dapat memasuki kamar mamah dengan mudah.


"Mah...." aku mendekati mamah dan mengeluarkan menyodorkan beberapa lembar uang pecahan berwarna merah ke arahnya.


"Apa ini? Kamu mau menyogok mamah agar tidak marah sama kamu? Setelah kamu ambil semua perhiasan yang mamah punya?!" ucap mamah sinis sambil melirik uang yang aku sodorkan kepada nya.

__ADS_1


"Tapi mah kata ayah itu yang mamah beli untuk perhiasan mamah semua nya uang hendra dan Hendra memerlukan uang ini untuk hidup sama Lulu mamah kan tau Hendra dan Lulu saat ini sudah tak bekerja jadi uang ini untuk modal Hendra kedepannya membina rumah tangga bersama Lulu mah, memang uang yang Hendra kasih ke mamah ini juga hasil penjualan perhiasan yang Hendra ambil dari mamah tapi ini lebih baik bukan dari pada mamah gak mempunyai uang dan perhiasan sama sekali" ucap ku panjang lebar.


"Ini beneran mamah gak mau uang nya? Kalau mamah gak mau ya sudah untuk aku lagi saja" ucap ku sambil menarik tanganku yang menggenggam uang dan akan aku masukan ke dalam kantong ku.


"Kalau mau kasih yang niat dong jangan setengah-setengah begitu" ucap mamah berbalik dan langsung saja mengambil uang yang sebentar lagi akan masuk ke kantong ku, aku pun tersenyum melihat tingkah ibu ku ini


"Kan tadi mamah yang bilang sogokan aku kira mamah gak mau uang nya ini, mah... Ayah kemana? Kok dari tadi aku pulang gak liat ya?" ucapku mencari ayah sedari tadi.


"Kata nya sih ke warung beli rokok mungkin sebentar lagi juga akan pulang" ucap mamah sambil menyimpan uang yang tadi aku berikan kepada nya.


"Ouh... Ya sudah kalau gitu aku mau kedapur dulu ya mah" ucapku berlalu dari hadapan mamah yang masih memajukan bibirnya di pinggir tempat tidur.


Aku pun berlalu dari sana tanpa mendengar jawaban mamah, entah mengapa aku harus sekali dan ingin membuat minuman dingin, dulu ketika ada Lisa aku hanya tinggal bilang kepada nya jika ingin sesuatu yang mengharuskan ku pergi ke dapur sehingga aku tak perlu menginjakan kaki ku ke dapur lagi tetapi sekarang hal yang tak pernah aku lakukan harus aku lakukan sendiri.


Aku yang sedang asik membuat jus orange pun di kejutkan dengan hadir nya mas Rudi yang berada di dapur, seperti nya aku sudah lama sekali tak melihat mas Rudi dan mbak tari walaupun kami satu rumah tapi entah mengapa aku seperti tak pernah melihat mereka berdua.


"Sedang apa hend?" ucap mas Rudi berbasa basi karena kami memang tak pernah bertegur sapa, jangan kan bertegur sapa bertemu saja kami bisa dihitung dengan jari.


"Ini mas sedang buat minum dingin rasa nya hari ini panas sekali cuaca nya"


"Oya kata nya hari ini sidang pertama kamu? Lalu bagaimana hasil nya?"


"Gak tau juga mas aku gak hadir ke pengadilan itu" ucap ku acuh karena memang aku tak menghadiri nya rasa nya percuma karena aku pun sudah mentalak Lisa secara agama.


"Loh kok gitu? Mas kira dari tadi kamu enggak keliatan di rumah itu kamu menghadiri gugatan perceraian kamu"


"Terus bagaimana persiapan pernikahan kamu sama Lulu besok?"


"Belum ada persiapan mas, mungkin nanti aku akan beli mahar nya untuk Lulu toh hanya seperangkat alat solat"


"Owh ya sudah kalau begitu semoga di lancarkan pernikahan kamu yang kedua ini ya"


"Aamiiin makasih mas atas doa nya, mas kalau ada info lowongan kerja boleh dong di infokan sama aku, siapa tau lowongan kerjaannya cocok sama aku" Aku berharap ada info loker itu kan bisa buat tambah modal usaha kalau emang ada.


"Bukannya kamu mau buka usaha sama Lulu hend? Kok tanya loker?"


"Iya mas kan kalau ada lumayan bisa buat sampingan aku dan bisa nambah-nambah pendapatan nanti kalau aku udah nikah sama Lulu" Aku lihat kerjaan mas Rudi itu santai karena kalau kerja hanya sampai sore saja Jumat Sabtu setengah hari hari libur dan Minggu ya ada di rumah bisa quality time dengan keluarga.


Malam hari nya tak seperti biasa kami semua berkumpul di ruang keluarga, mbak tari yang biasa nya cerewet banyak bicara malam ini entah mengapa menjadi pendiam.


Sedangkan ayu sudah terlelap di kamar nya sendiri jadi mas Hendra dan mbak tari duduk bersama dengan kami disini.


"Makasih ya semua nya sudah mau berkumpul disini,bagaimana tadi hend penjualan perhiasan ibu kamu? Kamu dapat berapa semua nya?" tanya ayah menatapku.

__ADS_1


"Dapat lima puluh juta yah" ucapku kembali.


"Gunakan itu untuk modal usaha agar kamu bisa membiayai keluarga kecil kamu kelak" ucap ayah kepadaku dan aku pun hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan ayah kali ini.


"Disini juga Hendra ingin bilang sesuatu yah" ucapku


"Apa itu?"


"Setelah aku menikah dengan Lulu aku akan tinggal di rumah Lulu yah"


"Ya sudah kalau itu keputusanmu silahkan saja ayah tak dapat melarang kamu karena nanti kalau kamu sudah berumah tangga Lulu itu akan menjadi tanggung jawab mu" ucap nya, ya aku mengatakan itu karena Lulu pernah mengatakan tak ingin tinggal bersama keluarga ku alasannya karena dia tak mau meninggalkan rumah yang sudah susah payah di beli dan aku pun menyetujui hal itu.


"Ayah mengumpulkan kalian disini hanya ingin mengatakan jika selama ini yang mengerjakan pekerjaan rumah kan Lisa dan sekarang Lisa gak ada, jadi tari dan ibu sekarang kalian lah yang harus mengurus keperluan rumah ini kalian harus saling bantu satu sama lain" ucap ayah yang membuat tari langsung mengalihkan pandangannya kepada ayah yang tengah berbicara


"Tapi yah.... bukannya selama ini walaupun gak ada Lisa, ibu bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah?" ucap mbak tari seperti nya dia keberatan atas keputusan yang ayah buat saat ini, aku hanya mendengarkan saja.


"Lalu kerjaan kamu apa? Sudah lah ayah gak mau dengar protes lagi. Mulai saat ini siapapun ingat siapapun yang tidak mau mendengar keputusan yang ayah ambil silahkan kemasi barang-barang kalian dan tinggal tempat ini sekarang juga" putus ayah yang tak bisa di ubah seperti nya saat ini ayah mulai tegas mengambil keputusan untuk keluarga nya.


Sedangkan mbak tari seperti nya dia ingin mengatakan sesuatu tetapi ia urungkan sebab mendengar ucapan ayah yang terakhir.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan hari ini adalah hari dimana aku dan Lulu akan mengikat janji untuk setia bersama walau cuma siri tapi entah mengapa hati ini merasa bahagia, apa karena mungkin ini salah satu impian ku sejak lama menjadikan Lulu sebagai ratu di hati ku satu-satu nya.


"Mas nanti kalau nikah secara negara aku ingin ada resepsi yang mewah ya?"


"Iya nanti kita akan mengadakan resepsi yang mewah " ucapku sambil mengelus kepala Lulu dengan sayang.


"Janji ya mas?"


"Iya sayang" ucapku lalu Lulu pun menyandarkan kepala nya di dadaku walaupun kami masih berada di ruang keluarga dan masih menggunakan balutan kebaya sedangkan aku sendiri hanya memakai jas.


Disini memang hanya di hadiri oleh keluarga dekat dan tetangga sekitar saja tak banyak orang, sedangkan sedari tadi aku melihat mamah wajah nya begitu berseri dan ceria mungkin karena sudah memiliki menantu yang selama ini mamah idam-idamkan.


"Jangan pernah sekali-kali kamu menyakiti anakku. Sekarang dia sudah tak bekerja itu juga karena kamu!" ucap Bu Heni ibu nya Lulu yang seperti nya Susana hati beliau tak seperti mamah.


"Sekali saja aku tau kamu membuat anakku menangis kamu akan berhadapan dengan ku" kini giliran ayah nya Lulu yang berbicara.


"Sudah mas jangan di ambil hati ucapan ibu sama bapak aku tau kok aku pasti bahagia hidup dengan kamu" bisik Lulu yang membuat hatiku tenang.


Jujur saja aku takut jika harus berhadapan dengan orang tua Lulu apa lagi dengan bapak nya karena aku telah merasakan bogem mentah yang di layangkan bapak nya Lulu waktu itu.


Baik lah akan aku tunjukan kalau Lulu akan bahagia hidup dengan ku, aku harus semangat membangun usaha dengan modal yang aku punya ini tekat ku dalam hati.


"Mas ini kita akan usaha apa dengan modal segini?" ucap Lulu ketika kami sudah berada di kamar.

__ADS_1


"Disini aku lihat tidak ada warung yang menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari dek? Bagaimana kalau kita buka itu saja kita buka warung sembako?" ucap ku memberikan ide kepada Lulu yang ada di samping ku.


"Hm.... Boleh juga sih mas memang disini itu gak ada warung sembako ada juga jauh, ya sudah kita buka warung sembako saja kalau gitu. Aku setuju dengan ide mas Hendra" ucap Lulu berbinar mendengar ide yang aku usulkan karena memang di sekitar sini tidak ada warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.


__ADS_2