
"Paman jika paman nanti engga sibuk, Lisa mau paman datang ke pembukaan restoran Lisa di sana" ucap Lisa setelah selesai sarapan bersama.
"Waaah yank kaya nya kita gak di anggap ni soal nya cuma ayah yang di undang....." mbak Winda pura-pura memasang wajah sedih nya di hadapan kami semua.
Lisa yang melihat drama yang dibuat oleh istri sepupu nya itu pun hanya mencebikkan mulutnya
"Engga usah drama, kalian juga harus ke sana dong kan aku bilang dulu Ama paman abis itu baru ke kalian, awas aja ya kalau kalian gak dateng terus banyak alasan aku akan datengin tuh rumah kalian"
"Hahahaha tenang aku dan mas mu akan dateng Lis" ucap mbak Winda sambil tertawa mendengar ucapanku tadi.
"Iya ya lah dateng, gimana gak dateng kalau mbak mu ini gak bisa makan kalau bukan masakan kamu Lis" cebik mas Reno sambil minum teh di hadapannya.
Kami pun tertawa bersama, bercerita ini lah yang aku suka ketika aku berkumpul bersama keluarga paman tak ada batas di antara kami, saling terbuka satu sama lain.
"Terus kamu mau berangkat jam berapa kesana nya Lis?" tanya paman di sela-sela canda tawa kami, aku pun melihat paman dan tersenyum.
"Ini aku sedang menunggu Airin paman soalnya semalam dia bilang ingin berangkat bersama ku"
"Ow mungkin paman, Reno dan Winda ke restoran kamu besok pas pembukaannya tak apa kan?"
"Iya paman gak apa-apa yang terpenting kalian hadir di sana"
Tak berselang lama klakson mobil Airin terdengar masuk halaman rumah paman.
"Itu kaya nya Airin" ucap mbak Winda sambil berdiri dan akan melangkah ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang walaupun yakin itu adalah Airin.
"Biar bibi aja non yang membukakan pintu" ucap bi Hany yang langsung berlari kecil untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum Bi.." ucap Airin yang baru akan mengetuk pintu tetapi sudah di bukakan oleh BI Hany.
"Wallaikumsalam non..."
"Bi ada Lisa nya?"
__ADS_1
"Ada non mari masuk biar bibi panggilkan non Lisa"
"Makasih bi" ucap Airin yang masih bisa aku dengar, sebelum bi Hany memanggilku, aku udah melangkah ke ruang tamu terlebih dahulu.
"Eh itu non Lisa nya non" ucap bi Hany ketika melihatku melangkah menyambut sahabatku ini.
"Assalamualaikum Ai" ucapku ketika melihat sahabat serasa saudara ini.
"Wallaikumsalam Lis, udah siap?"
"Udah..." jawabku.
"Kamu udah sarapan Ai" ucap paman yang ternyata mengekor di belakangku di susul mbak Winda dan mas Reno
"Eh paman....." Airin pun menyalami semua keluarga ku.
"Sudah paman tadi di rumah" ucap Airin.
"Makasih paman, mbak dan mas Reno tapi aku sudah makan tadi di rumah"
"Paman nitip keponakan paman ini ya Ai..." ucap paman sambil mengelus kerudungku.
"Insyaallah paman Airin akan jaga keponakan paman ini" ucap nya sambil tersenyum.
"Emang nya aku anak kecil yang masih harus di titipin" aku pun memanyunkan bibir ku mendengar ucapan paman yang menitipkan aku pada sahabatku ini.
"Eeeh emang kamu itu masih kecil dan butuh pengawasan tau" ucap mas Reno yang senang sekali membuatku kesal tapi itu yang aku rindukan dari mas Reno sepupu ku ini.
"Lis.... Ingat pesan paman kalau kamu ada masalah apapun seberat apapun itu kamu harus cerita sama kami, kami ini keluarga kamu kalau bukan kami siapa lagi yang akan membantumu" ucap paman di sampingku.
"Insyaallah paman mulai sekarang aku akan lebih terbuka lagi dengan kalian"
"Eeeh sampai lupa duduk dulu yuk Airin kok jadi berdiri terus kaya gini kan gak enak ngobrol nya" ucap mbak Winda mengingatkan kami karena Sedari tadi ternyata kami berdiri padahal tempat duduk tak jauh dari kami.
__ADS_1
"Eh iya maaf ya Ai aku sampai lupa mempersilahkan kamu buat duduk" ucapku tak enak.
"Gak apa-apa kok Lis, lagian kan kita tak akan lama, kita langsung berangkat aja takut sampai nya kemalaman nanti besok kan kita harus cek perlengkapan dan kelengkapan restoran yang akan kita resmikan" ucap Airin mengingatkan ku.
"Baik lah kalau begitu, paman, mas Reno dan mbak Winda aku pamit ya jangan lupa lusa kalian semua harus hadir di peresmian restoran aku sama Airin" ucapku sambil menatap satu persatu keluargaku ini.
"Iya insyaallah doakan kami agar kami selalu sehat" ucap paman sambil tersenyum.
"Aamiiin" kami pun serempak mengaminkan ucapan paman, mas Reno membantu ku untuk membawa koper yang sudah aku persiapkan dan meletakkannya di bagasi mobil Airin.
"Paman aku pamit dulu" aku pun menyalami satu persatu dari mereka untuk berpamitan.
"Hati-hati nak di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari kami"
"Insyaallah paman nanti Lisa kalau susah sampai Lisa akan kabari kalian" aku dan Airin pun masuk mobil dan pergi dari rumah paman menuju restoran yang akan kami buka
"Gimana kabar nya hubungan kamu sama si Hendra itu Lis?" ucap Airin membuka obrolan kami didalam mobil mungkin Airin agar tak bosan di perjalanan.
"Ya gak gimana-gimana Ai... Tinggal nunggu ketuk palu aja. Aku udah menyerahkan semua nya sama mas Reno juga"
"Jangan banyak merenung begitu Lis.... Kamu masih ada aku, kamu bisa berbagi apapun sama aku"
"Aku bukannya merenung masalahnya Ai, aku masih enggak percaya aja aku dan mas Hendra akan berpisah secepat ini sebelum mempunyai anak eh malah bercerai" aku pun tersenyum kecut sambil memandangi pemandangan yang kami lewati selama perjalanan ini.
"Semua pertemuan pasti akan ada perpisahan Lis, entah itu perpisahan oleh maut atau pun oleh manusianya sendiri tinggal takdir aja yang menentukan" ujar Airin bijak, tak terasa air mataku jatuh tanpa ada ijin dariku.
Ucapan Airin seolah menyadarkan aku untuk tidak harus berlarut-larut dalam kesedihan karena memang benar apa kata Airin kalau perpisahan itu pasti akan terjadi entah cepat atau lambat, entah indah atau pun sakit semua akan terjadi.
Aku pun menarik nafas dalam-dalam untuk lebih memantapkan hati ku lagi agar tak terlalu bersedih karena ini lah keinginanku jauh dari keluarga mas Hendra yang toxic itu dan melangkah maju.
"Makasih ya Ai kamu selalu ada kala aku sedih dan senang" aku menatap sahabatku itu yang sedang menyetir mobil sambil tersenyum ke arah ku
"Itu tugas nya sahabat kita harus saling mengingatkan dan melindungi satu sama lain, bukan begitu?" Airin Menaik turunkan alis nya sambil tersenyum jail.
__ADS_1