Terhina di keluarga suami

Terhina di keluarga suami
Bab 28


__ADS_3

P.O.V Pak Chandra


Namaku Chandra dan istriku bernama Erna kami menikah sudah hampir 35 tahun.


Banyak yang berkata kalau aku ini suami takut istri, yang selalu menurut apa kata istriku yang watak nya sangat luar biasa dan tak mau kalah dengan tetangga atau yang lainnya.


Ya memang aku akui Erna memiliki watak keras kepala dan tak mau mengalah belum lagi gengsi nya yang sangat tinggi, itu juga yang Erna turunkan kepada anak-anak kami.


Rudi anak kedua ku yang kini sudah berkeluarga dan sebagai pegawai biasa dan gaji nya juga hanya cukup untuk kebutuhan dia dan keluarga nya serta anak nya bersekolah karena sekolah nya berbasis swasta jadi cukup untuk bayar SPP anaknya walau Rudi baru punya satu anak.


Sedangkan Hendra anak sulungku dia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan swasta yang memiliki gaji lumayan besar.


Menurut ku sosok Lisa adalah istri yang sangat sempurna untuk anak sulungku itu karena dia tak banyak menuntut walaupun keluarga kecil nya sering sekali di recokin oleh istri ku yang tak lain mamah mertua nya.


Tetapi Lisa tak pernah mengeluh dan terus menjadi istri yang berbakti kepada keluarga dan suami nya walau mungkin hari kecil nya lelah menghadapi sikap keras kepala dan seenak nya dari istriku Erna.


Bahkan ketika Erna istri ku mengatur keuangan Hendra dan Lisa di berikan hanya untuk mencukupi kebutuhan dapur terkadang uang yang istriku kasih itu kurang dan tak jarang pula Lisa lah yang menutupi kekurangannya.


"Seharusnya kamu lebih tegas lagi kepada istri mu itu Chan, jangan mau kamu selalu menuruti kemauannya terus" ujar Tono tetangga ku, kami dekat karena dia pun memiliki kebun dan rumah kami juga bersebelahan, tak jarang kami bertemu ketika dia mengunjungi kebunnya.


"Ya bagaimana ton istri ku itu keras kepala sekali dan mau nya sendiri walaupun aku sudah menasehatinya tetapi dia tak mau mendengarkan aku"


"Ya seharusnya kamu tau cara menaklukkan istri kamu itu karena kalian menikah kan sudah lama juga dan anak-anak kalian juga sudah pada dewasa, bahkan sudah memiliki keluarga mereka sendiri. Seharusnya kalian biarkan mereka mengurus masalah dalam keluarga nya masing-masing bukannya ikut campur terus" ucap Tono panjang lebar menasehati ku.

__ADS_1


Ucapan Tono terngiang-ngiang terus di telinga ku karena memang harus nya kami tak mencampuri urusan mereka dalam kehidupan keluarga mereka.


Aku tau ini memang salahku sejak awal, aku menyerahkan urusan anak-anakku sepenuhnya kepada Erna karena aku sibuk bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan Erna jika aku mengandalkan gaji ku saja sebagai PNS itu tak akan cukup bagi nya.


Dia ingin terlihat lebih di bandingkan yang lain sehingga aku pun harus terus memutar otak agar mendapatkan uang tambahan agar bisa memenuhi keinginan istriku itu.


Aku tak pernah berfikir jika itu akan menambah sifat keras kepala nya dan seenak nya sendiri dan itu justru dia turunkan pada anak-anak kami, aku menyesal tetapi apa kah sekarang penyesalan itu berguna?.


Hingga saat ini aku di telepon oleh nya agar segera pulang dan pergi ke alamat yang menurutku asing dan tak pernah kami ke alamat tersebut.


"Ini alamat siapa mah?" ucapku menatap alamat yang Erna kasih kepadaku.


"Sudah lah yah kita kesana dulu nanti kamu juga akan tau itu alamat siapa" ucap Erna


Kami pun sampai ke alamat yang Erna berikan tadi, aku tertegun karena di rumah itu sudah banyak warga yang berkerumun di rumah itu.


"Yah apa ayah gak salah alamat nya?" tanya istri ku yang duduk di sebelah, aku pun melirik ke arah nya.


"Kan ini alamat yang kamu berikan tadi, mah" jawab ku


"Ya sudah kita turun saja, biar kamu jangan bertanya terus" ucapku, kami pun turun bersamaan menuju rumah yang sudah penuh dengan warga.


Aku pun berdiri di ambang pintu melihat ke arah tempat duduk yang mana di sana sudah ada Hendra anakku.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap ku sebelum melangkah ke dalam rumah ini sebelum nya aku tak memperhatikan wajah Hendra tetapi setelah aku dan istriku mengucap salam betapa kaget nya aku melihat wajah Hendra yang babak belur sedangkan wanita di sebelah Hendra dengan penampilan yang sangat acak-acakan.


Aku kira Hendra masih bekerja, tetapi kenyataannya anakku ini di sini bersama dengan wanita yang entah itu siapa, aku mengedarkan pandanganku melihat sekeliling ada dua pasangan suami istri yang tengah berbincang di sana bersama seorang laki-laki.


Sedangkan perempuan yang di samping Hendra menunduk dan terisak menahan tangis nya, aku semakin tak enak perasaan melihat ini semua, Erna yang berada di sampingku ini pun sudah mengomel tak karuan.


"Wallaikumsalam" ucap serempak warga yang berada di sana.


"Silahkan duduk pak, Bu. Apa ini orang tua nya mas Hendra?" ucap laki-laki yang aku perkirakan itu adalah pak RT atau pak RW di sana.


"Benar pak, ini istri saya Erna dan saya sendiri Chandra, kalau boleh tau ini ada apa ya pak?" ucap ku mulai tak enak rasa melihat semua ini terutama keadaan Hendra yang sudah sangat membuat pikiranku tak karuan.


"Sebelum nya perkenalkan juga saya ketua RT disini maaf malam-malam sudah mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu tetapi ini juga harus saya lakukan agar bisa bermusyawarah dengan orang tua nak Hendra dan mbak Lulu dengan cepat" bertambahlah kekacauan hati dan pikiranku dan meyakini bahwa ini hal yang sangat tak pantas lagi.


"Kalau mau musyawarah, ya musyawarah aja dong tapi jangan memukul wajah anak saya sampai seperti ini juga pak" ucap Erna yang selalu ingin menang sendiri, aku yang mendengarnya pun hanya melirik tajam ke arah istriku ini yang berada di sampingku.


"Begini bapak, ibu sekalian kami di sini para warga memergoki mbak Lulu dan mas Hendra sedang melakukan hal yang tidak senonoh di rumah ini. Dan kami disini ingin bermusyawarah tentang hubungan mereka agar tak menjadi gunjingan warga" ucap pak RT.


Duaaar....


Bagaikan di sambar petir, dadaku pun seketika sesak, oksigen di sekitarku terasa menipis karena terlalu emosi atas kelakuan Hendra saat ini, sedangkan Erna yang berada di sampingku pun terdiam seperti nya dia pun sama kagetnya seperti aku saat ini.


Sedangkan Hendra dan perempuan di samping nya hanya dapat menunduk dan terisak entah karena malu atau apa aku tak mengerti.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi aku yang sudah di kuasai amarah pun menghampiri Hendra dan menarik kerah baju Hendra, melayangkan dua tamparan di kedua pipi anak itu dengan geram.


__ADS_2