Terhina di keluarga suami

Terhina di keluarga suami
Bab 31


__ADS_3

Hendra yang hendak ke ruangan pak Wahyu pun pergi ke toilet sebentar untuk merapihkan dan melihat penampilannya agar tak berantakan karena bos nya itu adalah seorang yang perfeksionis dalam masalah pakaian.


Ketika Hendra menuju ruangan pak Wahyu dia disuguhkan dengan pemandangan kota yang luas bahkan dia juga bisa melihat tempat di mana pertama kali dia dan Lisa bertemu.


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Hendra pun sampai di ruangan bos nya itu.


Tok....


Tok.....


Tok.....


"Masuk" terdengar suara dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk kedalam, dengan perlahan dan jantung yang berdetak tak karuan Hendra pun membuka pintu tersebut.


"Masuk hend, silahkan duduk" ucap pak Wahyu ketika sekilas menatap Hendra yang masih di ambang pintu dan melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


Hendra yang merasa di diamkan oleh atasannya pun hanya dapat memandangi sekeliling ruangan itu yang nampak elegan di buat nya sesekali Hendra melihat kearah atasannya yang masih fokus menatap komputer di depannya.


Tak lama kemudian helaan nafas panjang terdengar dari pak Wahyu dan menatap Hendra yang berada di depannya.


"Bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Wendy tadi, hen?" tanya pak Wahyu kemudian.


Hendra pun menceritakan kejadian yang barusan terjadi tentu nya dengan bumbu-bumbu yang dia lebihkan sedikit agar dia terlihat sebagai korbannya.


"Jadi Wendy yang terlebih dahulu memprovokasi kamu agar terjadi perkelahian tadi? Begitu?" tanya pak Wahyu lagi.


"Iya pak, saya mengaku salah karena telah terpancing emosi" jawab Hendra dengan mantap tanpa keraguan di sana.


"Ok, kita kesampingkan dulu masalah kamu dengan Wendy ya. Ini saya mau bertanya masalah yang lebih serius dari itu" ucap pak Wahyu dengan wajah yang tegas dan serius membuat jantung Hendra pun berdegup dengan kencang dan gugup.


Pak Wahyu mengangkat map yang lumayan tebal di hadapan Hendra yang membuat Hendra mengerutkan dahi nya lalu menatap pak Wahyu kembali.


"Buka lah, itu semua laporan kinerja pak Hendra selama beberapa bulan ini." ucap pak Wahyu mampu membuat keringat dingin Hendra bercucuran padahal di ruang itu sudah dingin, wajah Hendra pucat Pasih.


Hendra mulai membuka map tersebut dan membulatkan mata nya ketika melihat semua absensi dan kinerja nya selama beberapa bulan ini terpampang nyata di sana.


"Disitu ada absensi pak Hendra yang tak sesuai dengan jam kerja kantor serta pekerjaan pak Hendra yang terbilang asal-asalan di kerjakan oleh pak Hendra sendiri, saya mau kejelasan semua nya langsung dari pak Hendra" ucap tegas pak Wahyu yang semakin membuat Hendra bergetar, keringat di dahi nya tak mau berhenti keluar.


"Sialan siapa yang melaporkan ini semua kepada pak wahyu" pikir Hendra sambil membuka satu persatu laporan yang ada di map tersebut.


"Maaf pak.... Memang beberapa bulan ini saya sedang mengalami masalah keluarga, jadi terbawa ke kantor" ucap Hendra menundukan kepala nya.


Sedangkan pak Wahyu yang mendengar alasan Hendra mengerutkan alisnya.


"kalau masalah keluarga pak Hendra seharusnya dapat menempatkan nya dengan baik, jangan di bawa ke kantor"


"Maaf kan saya pak.... Saya akan_" belum sempat Hendra melanjutkan ucapannya pak Wahyu kini membuka laptop nya dan menghadapkan ke arah Hendra di mana disana sudah terdapat vidio tak senonoh diri nya dan lulu, Hendra yang melihat hal itu pun hanya dapat tertegun dan menelan Saliva nya dengan susah payah.

__ADS_1


"Apa yang pak Hendra maksud kan masalah seperti ini?" ucap pak Wahyu dengan mata yang memerah dan bangkit dari duduk nya.


"Pa..... Pak.... Pak Wahyu bisa saya jelaskan_" ucap Hendra dengan terbata melihat wajah pak Wahyu yang telah di kuasai amarah itu.


Pak Wahyu berdiri lalu menggebrak meja nya dengan kencang.


Braak....


"Jika anda mau selingkuh tolong main yang cantik pak, kalau seperti ini bukan anda saja yang malu dan nama anda tercoreng tetapi perusahaan pun akan terseret di dalam nya!" ucap pak Wahyu dengan menggebu-gebu.


"Ta....Tapi pak" ucap Hendra masih terbata-bata karena kemarahan pak Wahyu yang tak pernah dia lihat sebelum nya.


"Apa lagi yang akan menjadi alasan anda pak Hendra? Sekarang saya minta anda mengemasi semua barang-barang anda dan fokus lah ke permasalahan keluarga anda itu. Sedangkan untuk pesangon anda dapat meminta nya ke bagian keuangan dan gaji anda seperti biasa akan di kirim melalui rekening sesuai dengan absensi dan kinerja anda bulan ini" ucap tegas pak Wahyu.


"Tapi kan pak, ini masalah pribadi saya, bapak gak bisa seenak nya memecat saya seperti ini dong pak? Kan gak ada hubungannya sama kerjaan pak" entah dari mana Hendra berani melawan atasannya itu.


"Anda tau? Gara-gara vidio viral anda itu saya hampir kehilangan kontrak yang sangat penting untuk perusahaan ini dan perlu anda ingat saya di sini sebagai pimpinan anda jika anda lupa! Oya jangan anda lupa pula jika pekerjaan anda itu di kerjakan oleh orang lain jadi bagaimana apa itu tidak menyangkut dengan kinerja anda pak Hendra?"


"Tapi.... Pak" belum sempat Hendra melanjutkan ucapannya pak Wahyu sudah memotong nya.


"Begini saja pak Hendra saya kasih anda pilihan mau anda keluar dengan baik-baik atau saya paksa tanpa sepeserpun pesangon yang akan saya keluarkan, silahkan pilih" ucap pak Wahyu dengan tegas.


"Tapi kan pak kinerja saya menurun itu baru-baru ini lagian bapak mau cari manajer kemana? Kalau bukan saya?" ucap nya dengan percaya diri.


"Iya saya akui memang kinerja pak Hendra menurun baru-baru ini. Tapi bapak jangan lupa pula kalau saya ini sebagai pimpinan perusahaan ini jadi keputusan saya yang wajib di patuhi bagaimana bapak mau pilih yang mana?" Tatapan pak Wahyu tajam dan mengintimidasi terhadap lawan bicara nya.


Ketika Hendra telah keluar ruangan tak sengaja Hendra berpapasan dengan Wendy yang muka nya sudah di obati dan ada beberapa yang sudah di tutup oleh kasa.


Wendy pun menyeringai licik menatap Hendra yang wajah nya penuh kepuasan melihat wajah Wendy yang penuh lebam dimana-mana.


Hendra pun bergegas membereskan barang-barang yang berada di ruang kerja nya untuk dia bawa pulang dengan motor yang selama ini selalu menemaninya, kini tujuan utama Hendra adalah pulang ke rumah nya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran yang sejak tadi kacau.


Di tas Hendra membawa uang pesangon sekitar empat puluh juta belum gaji yang akan dia terima nanti di rekening tabungannya.


Ketika sedang mengendarai motor nya Hendra merasakan getaran yang ada di saku celana nya, dia pun menepikan motor dan merogoh saku celana yang terdapat handphone ternyata benar handphone nya berbunyi dan tertera nama Lulu disana.


"Tumben Lulu telepon jam segini? Biasanya dia hanya mengirimiku chat saja?" batin Hendra setelah tau kalau Lulu menelpon diri nya.


Hendra pun menepikan motor nya untuk mengangkat telpon dari kekasih hati nya tersebut yang kebetulan didekat Hendra berhenti adalah rumah makan jadi Hendra berfikir untuk beristirahat sejenak sambil makan siang karena memang perutnya sudah minta diisi.


Hendra pun menepikan motor nya dan masuk ke rumah makan itu untuk memesan makanan yang dia mau sambil menelpon Lulu kembali.


Setelah masuk dan memesan makanan baru Hendra mengangkat telpon dari Lulu.


'Hallo sayang, tumben telpon biasa nya kamu chat aku?' ucap Hendra langsung bertanya kepada Lulu,


terdengar suara isak tangis Lulu di sebrang sana yang membuat Hendra mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


'Sayang kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?' tanya Hendra kembali karena tak mendapat jawaban dari Lulu yang semakin membuat Hendra penasaran.


'Mas.... Ak-aku.... Aku... Di pecat mas' akhirnya terdengar juga suara Lulu yang masih terisak di sebrang sana.


Hendra yang mendengar suara Lulu yang bergetar dan menahan tangis nya pun kini hanya dapat menghela nafas panjang, kini Hendra dan Lulu tak lagi bekerja.


' Kamu sekarang dimana?' Tanya Hendra kembali


'Ak-aku ada di dekat kantor mas'


'Ya udah kamu bisa ke tempat aku sekarang? Aku sedang ada di rumah makan yang tak jauh dari kantor kamu'


'Tapi aku gak mau ketemu di rumah kamu mas'


'Engga, aku lagi di rumah makan yang tak jauh dari kantor kamu' kok kamu bisa ke sini pake taxi nanti aku share alamat nya' ucap Hendra


'Baik lah mas aku akan ke sana tunggu aku' akhirnya Lulu pun memesan taxi online setelah Hendra memberikan lokasi dimana Hendra berada,tak lama taxi yang Lulu pesan pun sampai tempat dimana Hendra berada.


Hendra yang melihat Lulu memasuki rumah makan itu pun melambaikan tangan agar Lulu dapat melihat ke arah nya. Ketika Lulu dan Hendra sudah dekat Lulu pun segera berhambur memeluk erat tubuh Hendra dan menangis di dada Hendra.


"Sudah-sudah yuk duduk dulu, kamu sudah makan?" ucap Hendra sambil menghapus air mata Lulu.


Lulu hanya bisa menggelengkan kepala karena dia masih sesenggukan menetralisir sesak di dada nya.


"Ya sudah pesan makanan dulu ya, baru nanti kita berbicara" ucap Hendra sambil mengangkat tangannya memanggil pramusaji disana dan memesan untuk Lulu.


Tak berselang lama pramusaji tadi pun kembali sambil membawa makanan yang Lulu dan Hendra pesan, mereka berdua pun makan dalam diam tapi saat Hendra sedang asik makan handphone nya berdering beberapa kali menandakan ada pesan masuk.


Hendra pun merogoh handphone nya yang berada di saku celana nya dan berapa terkejutnya Hendra ketika melihat siapa yang mengirimi nya pesan.


(Mau aku lapor polisi atau kirimu kau uang dua puluh lima juta) isi pesan itu beserta hasil visum dari rumah sakit, kini Hendra paham dengan senyum yang Wendy berikan tadi ketika dia baru saja keluar dari ruang pak Wahyu.


(Mana nomer rekening kamu) ucap Hendra yang tak mau berbasa-basi lagi karena pikir Hendra dia masih mempunyai lima belas juta dari uang pesangon di tambah uang gaji nya jadi kira-kira Hendra masih mempunyai uang dua puluh lima juta lagi dan juga tabungan yang ibu nya simpan karena kan selama ini gaji Hendra mamah Erna yang kelola dan kata nya disimpannya entah dapat berapa yang pasti akan cukup untuk dia kalau ingin membuka usaha.


---


Setelah selesai makan baru lah Lulu berbicara kepada Hendra dengan mata yang sendu.


"Mas.... Bagaimana ini aku di pecat dari pekerjaan ku mas" Ucap Lulu sambil bersandar di bahu Hendra, Hendra yang mendapatkan perlakuan Lulu yang manja pun mengelus kepala sang kekasih dengan sayang.


"Sudah kamu tak perlu khawatir kalau kamu di pecat dari pekerjaan mu kamu bisa menjadi ibu rumah tangga saja, lagi pula sebentar lagi kan kita akan menikah jadi kamu hanya perlu jadi ibu rumah tangga saja. Biarkan aku yang mencari nafkah" ucap Hendra menenangkan Lulu yang masih betah bersandar di bahu nya.


"Tapi nanti kalau aku bosan gimana mas?" ucap Lulu kini dia menatap wajah Hendra sedikit mendongakkan kepala nya.


"Kalau kamu bosan ya kamu boleh kok cari kesibukan atau kamu mau kerja lagi juga gak apa-apa aku gak akan melarang kamu" ucap Hendra yang mampu menerbitkan senyum di wajah Lulu yang semula sendu.


"Bener mas?" Hendra hanya menganggukkan kepala nya sambil mengelus kepala Lulu, sebenarnya Hendra gemas melihat wajah itu yang seperti kucing yang menggemaskan jika bukan di tempat umum mungkin Hendra akan menerkam Lulu seperti di rumah Lulu waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2