Terhina di keluarga suami

Terhina di keluarga suami
Bab 36


__ADS_3

"Heh bocah jangan asal bicara kamu ya, anak saya bukan artis p*rn* ya!" ucap Bu Erna semakin menggebu-gebu menghadapi Reno yang seperti mengolok-olok dirinya dan juga anak nya Hendra di depan umum.


"Tapi saya bersyukur keponakan saya sudah lepas dari anak ibu, coba kalau belum keponakan saya pasti akan malu juga akan tindakan yang di buat mantan suami nya itu ya" akhirnya paman pun mengeluarkan suara nya yang sedari tadi hanya diam dan mengelus lembut punggung Lisa dengan sayang.


"Iya pasti lah yah, Lisa sangat beruntung karena sudah lepas dari artis p*rn* itu, ups bukan artis p*rn* ya sebab kalau artis pasti di bayar ya sedangkan anak ibu ini kan cuma dapat malu dari perbuatannya itu ya" ucap mbak Winda menimpali ucapan paman.


Para undangan yang hadir pun hanya berbisik tanpa ada yang ingin melerai kami yang tengah beradu sengit dalam bicara, mereka hanya berbisik satu sama lain.


Aku pun heran melihat paman dan mbak Winda yang selalu menghindari keributan dan lebih banyak mengalah tapi kali ini mereka menjadi garda terdepan dalam membela ku di depan umum seperti ini. Ada rasa haru yang aku rasakan ketika melihat mereka membelaku sedemikian rupa.


"Kalian ini-" ucapan Bu Erna terhenti tatkala melihat Aini beserta manager restoran yang baru datang ke arah kami dan Bu Erna pun langsung melipat tangannya ke depan dan tersenyum, senyum kemenangan yang tercekat di bibirnya.


"Mohon maaf ada apa ya? Kok ribut-ribut disini? Tolong ya jaga ketertiban di restoran ini jika ada masalah bisa di selesaikan di luar restoran saja" ucap Aini sambil melihat kearah Lisa yang cuek seolah-olah tak terjadi sesuatu disana.


"Maaf mbak ini salah satu karyawan mbak tidak ramah sama sekali dengan tamu disini, dia kan yang hanya karyawan seharusnya menghormati tamu yang datang kesini dong" ucap Bu Erna tanpa di tanya lagi.


"Maaf Bu, apakah ibu ini salah satu tamu undangan restoran ini? Soal nya hari ini adalah hari dimana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke restoran dan kalaupun anda ini costumer anda harus berada di wilayah sekitar restoran ini saja, tapi saya lihat anda ini seperti nya bukan orang sekitar sini" ucap Aini yang membuat Bu Erna tak bisa berkata-kata lagi hanya tatapan mata nya mengarah ke Bu melati yang sedari tadi diam menyaksikan perdebatan antara Lisa dan Bu Erna.


"Maaf Bu Aini, Bu Erna ini saya yang mengajak nya" ucap Bu melati maju satu langkah mendekati Aini yang kini tengah melihat kearah Lisa.


"Dan seperti nya ini hanya salah paham Bu Erna dan mbak Lisa saja Bu Aini" ucap Bu melati kembali.


"Apa nya yang salah paham jeng jelas-jelas si Lisa ini yang bikin keributan disini kok jadi salah paham sih jeng dan lagi ya jeng aku ini loh yang mereka pojokin jeng juga lihat sendiri kan" ucap Bu Erna seperti nya masih tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh keluarga Lisa tadi.


"Sudah sudah jeng jangan bikin malu diri sendiri, udah jangan di terusin" Bu melati pun menarik tangan Bu Erna agar menjauh dari Lisa dan keluarga nya.


"Eh jeng jeng kenapa saya di tarik seharusnya yang malu itu mereka dong jeng bukan kita yang memang diundang ke restoran ini, lagian mereka cuma numpang makan enak juga kan ke restoran ini malah sekarang mereka menjelek-jelekan anak saya di depan semua orang. Kamu ini baru jadi janda aja belagu ya seharusnya kamu kerja disini yang benar kalau sampai kamu kerja ga bener kamu bisa di pecat terus mau kerja apa kamu selain ini hah" ucap Bu Erna masih meracau kemana-mana.


"Maaf Bu, ibu lagi ngomongin apa? Dan siapa yang ibu maksud?" Aini merasa bingung dengan ucapan Bu Erna kali ini.


"Loh mbak ini yang punya restoran ini kan? Seharusnya kalau milih karyawan itu yang bener-bener pengen kerja mbak, jangan janda yang baru kaya gini. Jadi kan tu bukan ngelayanin tamu dengan benar ini malah jadi kegatelan kan. Tuh liat mbak baru jadi karyawan saja dia udah bawa keluarga nya semua bahkan ke restoran ini apa tidak malu itu hanya untuk makan gratis dan enak dia jadi membawa semua keluarga nya tanpa terkecuali" ucap Bu Erna berapi-api mengungkapkan semua unek-unek nya kepada Aini yang sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf ibu sekali lagi ada beberapa hal yang mesti ibu tau kalau ibu itu sudah melanggar ketertiban dan kenyamanan undangan disini pertama ibu kesini tidak di undang oleh panitia restoran ini yaitu saya sendiri kedua ibu kan tau kalau sekarang itu konsepnya prasmanan yang mana para undangan atau kolega yang hadir disini bebas memilih dan mengambil apa yang sudah kami sediakan kenapa ibu minta karyawan kami melayani ibu?"mendengar penuturan Aini wajah Bu Erna menjadi pias kembali seperti tak di aliri d*rah yang semula merah padam mendadak putih pucat.


"Tapi mbak-" belum sempat Bu Erna melanjutkan ucapannya Aini sudah menatap Bu Erna tajam yang mengakibatkan Bu Erna menghentikan ucapan yang akan keluar dari mulutnya.


"Dan ya yang paling terpenting adalah ibu sudah berlaku tidak sopan terhadap tuan rumah yang menyelenggarakan acara ini, kalau ibu hanya tamu seharusnya ibu tau tuan rumah atau pemilik restoran ini siapa dong" Bu Erna yang mendengar ucapan Aini pun kini mulai menatap Lisa secara bergantian dengan tatapan yang seperti orang linglung.


"Bu... Bukannya restoran ini milik mbak Laras sendiri?" ucap Bu Erna masih belum menyadari atau bahkan menolak sadar akan barangkali.


"Hm.... Ibu salah saya hanya panitia penyelenggara pembukaan restoran ini, dan memastikan semua yang hadir disini tidak.kekurangan dalam hal makanan dan nyaman disini. Apa ibu tadi tidak menyimak siapa orang yang telah memberikan kata sambutan untuk pembukaan restoran ini? Kalau memang ibu menyimak nya pasti ibu tau siapa pemilik nya dan juga di undangan yang kami sebar disana juga ada nama pemilik restoran ini" ucapan Aini mengucapkan itu dengan mata yang sangat tajam menatap Bu Erna.


Lisa yang mendengar ucapan Aini pun kini mulai berfikir memang apa yang di ucapkan Aini saat ini benar ada nya kalau memang Bu Erna datang sebagai tamu pasti dia tau kalau Lisa lah yang memberikan kata sambutan tadi.


"Haduh mbak Aini...... Maksudnya gimana sih? Kalau mbak Aini ini ketua panitia ya otomatis mbak Aini dong yang pemilik restoran ini benar kan?" sedangkan Lisa, paman, mbak Winda dan mas Reno yang mendengar ucapan Bu Erna pun tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar ucapan Bu Erna barusan.


"Begini Bu Erna yang sangat saya hargai dan hormati memang saya ini ketua penyelenggara tapi bukan berarti saya ini pemilik restoran ini, perlu saya garis bawahi bahwa pemilik restoran ini adalah nona lisa dan selaku tuan rumah dia berhak mengundang dan mengajak siapapun ke acara pembukaan restoran milik nya. Jadi sampai sini Bu Erna paham apa maksud saya?!" ucap Aini dengan tegas nya, sedangkan Bu Erna hanya dapat melongo mendengar penjelasan yang Aini berikan barusan.


"Ja... Jadi Mak... Maksud mbak Aini? Li... Lisa ini?"


"Ya Bu Erna Lisa ini pemilik resmi restoran yang sekarang sedang pembukaan, dan keluarga beliau adalah tamu kehormatan yang sengaja kami undang untuk mengikuti acara di restoran milik mbak Lisa"


Bu Erna pun terjatuh ke belakang dengan mata yang melotot dan tangan yang memegangi dada nya sedangkan nafas nya masih tersengal-sengal tak beraturan, beruntung nya Bu Erna masih ada orang yang mau menangkap tubuh gembal nya yang terjatuh kebelakang agar tak terkena benturan langsung ke lantai.


"Bu melati tolong kabari keluarga nya biar nanti karyawan saya membawa Bu Erna ini ke klinik terdekat agar bisa di periksa lebih lanjut"ucap Lisa melihat ke arah Bu melati yang sedari tadi bengong melihat tingkah Bu Erna.


Aini yang melihat Bu melati bengong pun menepuk pundak nya agar ibu itu tersadar dari keterkejutanyan.


"Bu.... Bu melati dengar kan apa yang di bicarakan mbak Lisa barusan"


"Eh iya mbak saya akan kabari keluarga nya" cepat-cepat Bu melati mencari handphone yang di simpannya di dalam tas dan langsung mencari nama kontak keluarga Bu Erna yang dia punya.


("Hallo mbak tari") ucap Bu melati ketika telponnya di angkat setelah beberapa kali Bu melati menelpon keluarga Bu Erna yang tak pernah diangkat.

__ADS_1


(".....")


("Ini loh mbak tari Bu Erna pingsan, bisa gak mbak kesini buat jaga Bu Erna nya") ucap Bu melati namun seperti nya mbak tari tak percaya dengan ucapan Bu melati sabab Bu melati langsung menutup telponnya dan menggerutu setelah itu.


Bu melati juga langsung memfotokan keadaan terkini Bu Erna dan mengirimkannya ke mbak tari.


"Aneh di bilangin ibu mertua nya lagi masuk rumah sakit kok gak percayaan banget lagian buat apa sih aku membohongi dia gak ada untung nya juga buat aku" gerutu Bu melati setelah mengirim foto Bu Erna.


 


Tak berselang lama Aini dan Lisa pun datang ke klinik yang didatangi oleh Bu Erna tadi dan perawat pun langsung ke ruang administrasi dan melengkapi data-data pasien.


Lisa yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan para undangannya pun kini berjalan menuju ruang admin dan melengkapi semua data pasien beserta uang pengobatan Bu Erna di bayar lunas di muka.


Setelah selesai Aini dan Lisa kini menuju ruang dimana Bu Erna tengah di tangani oleh dokter baru beberapa langkah Lisa sudah mendengar kegaduhan yang terjadi.


Lisa pun langsung berlari menuju sumber keributan yang ternyata mbak tari ada disana sedang marah-marah dan menunjuk-nunjuk wajah paman yang menatap nya dengan tajam sedangkan mbak Winda tangannya masih di tahan oleh mas Reno.


"Jaga sikap kamu mbak, ini klinik banyak orang sakit disini dan rendahkan suara kamu yang bikin orang sakit tambah sakit" ucap Lisa sambil memegangi tangan tari yang sedari tadi menunjuk wajah paman Lisa.


"Oh ini orang yang bikin ibu mertua ku masuk klinik ini dan jadi sakit, apa kamu ingin menarik perhatian suamiku HAH!! Apa sekarang kamu menyesal sudah berpisah dari mas Hendra?! Sehingga kamu membuat ini biar mas Hendra bisa perhatian lagi sama kamu" ucap Lulu yang sedari tadi berdiri di samping mbak tari


"Maaf mbak mbak yang perlu kalian tau Bu Erna itu pingsan sendiri gak ada kaitannya dengan saya dan harus nya kalian itu bersyukur karena saya masih mau membawa ibu mertua kalian ke klinik ini. Satu lagi apa saya gak salah dengar kalau saya mencari perhatian suami anda? Perlu anda ingat sekarang apa yang bisa di banggakan oleh suami anda itu? Pekerjaan? Hah?! Saya tau suami anda itu sekarang seorang pengangguran yang tidak bisa di banggakan lagi, dan perlu anda ingat kalau yang menggugat cerai itu saya sendiri jadi buat apa saya mencari perhatian dia." Lulu pun kaget mendengar ucapan Lisa yang menurut nya sangat berani apa lagi mbak tari yang tak menyangka kalau Lisa bisa menjawab Lulu seperti itu.


pak Chandra, Hendra dan Rudi pun kini menghampiri Lulu dan tari yang sedang berdebat bersama Lisa di sana.


"Lis....." ucap pak Chandra ketika melihat Lisa berada di sana. Lisa yang merasa nama nya di sebut pun menoleh dan tersenyum ke arah mantan ayah mertua nya itu.


"Makasih udah menolong ibu dan membawa nya kemari" ucap nya tulus menatap ke arah Lisa.


"Iya yah sama-sama" ucap Lisa ramah pula menjawab ucapan mantan ayah mertua nya itu.

__ADS_1


"Hah ayah ini untuk apa sih berterimakasih segala sama dia, emang itu tanggung jawabnya yah soal nya kan dia yang bikin mamah kaya gini" ucap Lulu emosi sedangkan mas Hendra mengusap-usap lengan Lulu dengan sayang mungkin agar emosi wanita itu turun.


"Apa sih kamu mas, kondisikan itu mata mu jangan jelalatan tak jelas" ucap Lulu ketika tak sengaja mata nya melihat wajah Hendra yang sedari tadi memandang Lisa, tangannya memang mengelus Lulu tetapi mata nya terus saja menatap kagum ke arah Lisa yang menurut nya sangat lah berbeda.


__ADS_2