
"Jadi sudah sampai mana proses perceraian kamu Lis?" ucap paman Yuda ketika kami sedang duduk di teras belakang menikmati udara pagi.
Ya sudah hampir satu Minggu setelah aku mengambil akte nikah ku di rumah mas Hendra waktu itu dan mas Reno juga membantu untuk memproses semua nya.
"Sudah paman ini tinggal menunggu panggilan aja dari pengadilan dan aku rencananya engga mau dateng ke pengadilan kata nya kalau gak dateng akan lebih di percepat lagi proses nya semoga saja mas Hendra tak mempersulit persidangan nanti" Ucapku sambil menatap ke depan memandangi pepohonan dan tumbuhan yang paman dulu alm bibi rawat, ya bunga dan tumbuhan itu selalu di rawat oleh paman Yuda setiap pagi dan siang kata nya sebagai pengobat rindu kepada mendiang istri nya itu.
"Coba saja jika Hendra dan keluarga nya macam-macam denganmu Lis paman yang akan bertindak" ucap nya sambil menyesap teh yang telah terhidang di meja.
"Insyaallah paman doakan saja semoga berjalan dengan lancar dan mereka tak berbuat yang macam-macam" ucapku lagi membuat hati pamanku agar lebih baik lagi.
"Apa kamu tak berencana melaporkan mantan suami mu itu ke polisi? Atas perselingkuhan dan perzinahan yang dia lakukan selama ini di belakang kamu?"
"Enggak paman aku hanya mau terlepas dari keluarga nya saja karena secara agama mas Hendra sudah menceraikan ku dan sekarang tinggal proses negara saja, aku gak mau berurusan lagi" ucapku kemudian kami pun menikmati cemilan yang berada di meja.
"Kalau itu keputusan mu paman akan mendukung, tetapi jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk bilang kepada paman atau Reno" ucap paman kembali.
"Iya paman nanti kalau aku membutuhkan pertolongan paman akan aku bilang" akhirnya paman pun beranjak dari tempat duduk nya dan masuk ke dalam sambil mengelus kepalaku dengan sayang.
"Paman masuk dulu, kamu juga jangan lama-lama di luar ini sudah sore" ucap nya lagi dan berlalu dari halaman belakang masuk kedalam rumah, aku hanya dapat tersenyum dan menganggukkan kepala ketika mendengar ucapan paman.
Sekarang tak ada lagi pekerjaan yang membebani ku, tak ada mertua,adik ipar atau suami yang menuntut ku untuk di layani. Rasa nya hari ini merasa lega atas pengajuan perceraianku.
Ketika aku sedang sendiri tiba-tiba mbak Winda datang dan duduk di sampingku dengan senyum yang menghiasi wajah nya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Lis?" tanya nya ketika duduk di tempat paman tadi.
"Lebih lega dan lebih bebas rasa nya mbak" ucapku kemudian.
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan?" tanya nya kembali.
"Mungkin aku akan fokus ke resto dan menulis saja dulu mbak, aku juga ingin mengembangkan resto milikku itu, ingin membuka cabang di kota lain agar lebih berkembang lagi" ucapku kembali tiba-tiba paman pun datang kembali bergabung dengan kami ya aku dan mbak Winda.
"Bi......" ucap mbak Winda memanggil bi Hany dan paman pun duduk kembali di antara aku dan mbak Winda.
"Ya non"
"Bi aku mau minta teh ya" ucap nya kembali kepada bi Hany.
__ADS_1
"Ya non sebentar bibi bikinkan"Bi Hany pun berlalu dari hadapan kami.
"Lis jangan lupa kamu juga harus mengurus warisan yang orang tua mu tinggalkan, paman sudah tua Lis..... Sampai kapan kamu akan membiarkan itu semua paman yang urus?" ucap paman kembali.
"Iya paman nanti aku juga akan mengurus nya" ucapku
"Yah jangan banyak-banyak kasih Lisa pekerjaan dong yah" ucap mbak Winda setelah tadi hanya menyimak ucapan paman.
"Loh kenapa nak? Itu kan warisan orang tua nya, seharusnya Lisa yang sejak dulu mengurus semua itu"
"Ayah ini.... Kasian dong nanti dia gak bisa cari pengganti nya si ber*Ng*ek itu" ucap mbak Winda yang membuatku tersenyum.
"Hm.... Mbak.., aku belum memikirkan ke arah sana..... Aku ingin fokus menata hidupku dulu" ucapku sambil menyesap teh yang ada di hadapanku ini.
"Ya..... Tapi setidak nya kamu juga harus fokus ke kehidupanmu kan" ucap nya kembali tak lama setelah mbak Winda berbicara seperti itu bi Hany pun datang membawakan teh yang mbak Winda pesan tadi.
"Non.... Ini teh nya" ucap bi Hany sambil meletakkan cangkir teh di depan meja mbak Winda
"Makasih bi maaf merepotkan" ucap nya.
"Enggak bi makasih" ucap ku.
"Kalau begitu bibi permisi masuk kedalam" ucap bi Hany masuk ke dalam.
____
Malam ini aku akan menghubungi Airin untuk menanyakan bagaimana persiapannya untuk membuka cabang di kota lain.
(Hallo Airin bagaimana persiapan pembukaan cabang di kota A?) Tanya ku ketika di sebrang sana sudah terdengar suara.
(Iya.... Lis ini persiapannya udah hampir 95% kok, kita tinggal menyiapkan dan membereskan perlengkapan saja, sedangkan untuk karyawan kayanya udah cukup dulu deh Lis, kita bisa nambah karyawan nanti sambil berjalan bagaimana?) ucap Aira yang berada di sebrang sana.
(Aku gak nyangka Ai kita bisa sampai sejauh ini?) ucapku sambil rebahan di kamar.
(Iya kamu benar Lis... Aku pun sama seperti mu tak menyangka kalau kita bakal membuka cabang batu di kota lain) ucap Airin
(Lantas kapan kamu mau kesini? sedangkan persiapan sudah 95% tinggal peresmian saja ini) ucap Airin kemudian.
__ADS_1
(Ya mungkin besok aku akan kesana, sekalian meresmikan restoran itu Ai)
(Oke kalau begitu besok aku tunggu kamu di sini) ya Airin sudah berada di sana sejak seminggu yang lalu untuk memastikan persiapan dan merekrut karyawan bekerja.
(Ok, see you ) ucapku kemudian menutup telpon dan merebahkan tubuhku untuk beristirahat.
____
Pagi seperti biasa nya aku menyiapkan sarapan untuk keluarga paman dan aku pun sudah menyiapkan barang-barang ku yang akan aku bawa nanti untuk pergi ke tempat resto yang baru, aku berniat beberapa hari ini akan berada di sana sekalian memantau jalannya restoran baru ku itu.
"Pagi paman" ucapku ketika melihat paman yang sedang menuruni anak tangga dan kini mendekati meja makan.
"Pagi Lis.... Kamu bikin sarapan lagi hari ini?"
"Iya paman, mungkin besok aku enggak bisa bikin sarapan lagi untuk paman"
"Loh kenapa?"
"Aku akan beberapa hari pergi memantau restoran yang baru aku buka bersama Airin paman" ucapku sambil menata makanan di atas meja
"Kamu akan pergi hari ini?"
"Iya paman, semoga gak ada halangan"
"Tapi hari ini kaya nya surat pengadilan akan datang Lis" ucap mbak Winda yang entah sejak kapan sudah ada di ruang makan.
"kalau itu aku serahkan sama mas Reno saja mbak, aku mau beres masalah itu" ucapku sambil nyengir ke arah mas Reno
"Huh aku lagiiii" ucap mas Reno cemberut.
"Jadi mas Reno gak mau niiiii bantuin aku" ucapku memelas dan menatap mas Reno.
Mas Reno yang melihat ke arahku pun akhirnya mendekat ke arahku dan memelukku.
"Hah kalau kaya gini bagaimana aku bisa menolak nya" ucap mas Reno sambil memelukku dan mengacak kerudungku.
Paman dan mbak Winda hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kami
__ADS_1