
Jika di tanyakan kepada Bu Erna apa kurang nya lisa, Bu Erna pasti akan menjawab Lisa hanya beban keluarga karena tak bekerja, hanya bisa menghabiskan gaji suami nya saja.
Dan jika bertanya kenapa Bu Erna mendukung perselingkuhan Hendra dan Lulu, sudah barang pasti dia akan menjawab karena Lulu adalah wanita karir yang bisa membantu.
perekonomian keluarga nya, belum lagi Lulu yang berpenampilan modis jauh sekali di bandingkan penampilan Lisa yang seperti pembantu dan kucel tak terawat.
"Hend nanti kamu beri mahar sama Lulu jangan bikin malu ya, kasih dia mahar yang besar" ucap Bu Erna kepada Hendra yang kini tengah duduk di meja makan rumah nya.
Karena menurut Bu Erna Lulu pantas mendapatkan mahar yang sepadan, dia seorang wanita karir dan mempunyai gaji yang bisa Erna banggakan, tubuh ramping penampilan modis pokoknya kriteria mantu idaman Bu Erna banget deh.
"Gak kepikiran apa kamu Bu setelah mereka menikah kita akan malu sampai tak bisa mengangkat muka kita lagi?" ucap pak Chandra ketika mereka berdua sedang istirahat di kamar mereka.
"Maksud kamu bagaimana mas?"
"Hm..... Anak kamu itu sudah berzina sebelum menghalalkan perempuan itu bu, terus kalau warga atau orang lain tau kelakuan mereka coba ibu bayangin bagaimana reaksi mereka kepada keluarga kita" ucap Chandra sambil bersandar di sandaran tempat tidur mereka.
"Yah.... Mereka berdua itu kan saling mencintai gak ada salah nya dong kita sebagai orang tua memberikan ruang sama sepasang sejoli itu lagian nih ya yah... Kejadian itu tu terjadi di rumah Lulu jadi siapa yang akan tau" ucap Erna yang mengelak semua yang di ucapkan oleh suami nya.
"Apa ibu gak berfikir jaman sekarang teknologi itu semakin berkembang? Apa ibu bisa jamin tadi di rumah Lulu itu tak ada yang merekam dan menyebarkan lewat internet? Memang ibu saja yang mau anak-anak kita itu bahagia? ayah juga mau Bu tapi bukan dengan cara seperti ini, ini sama saja sudah melemparkan kotoran ke muka kita" tegas pak Chandra lagi kepada istri nya.
"Alah ayah ini banyak alasan sekali, bilang aja ayah tak mau restuin pernikahan anak kita kan?" elah Bu Erna lagi.
"Lagian nih ya yah waktu kita kesana kan gak warga lain hanya warga sana saja dan itu juga pasti sudah di urus sama pak RT pak RW di sana, sudah lah ayah gak perlu berfikir yang engga engga" ucap Bu Erna masih ngeyel kekeh dengan pendapatnya sendiri.
"Kamu ini loh Bu di bilanginnya selalu saja ngeyel, aku sudah tanya tadi sama bapak nya Lulu kalau memang ada di antara para warga itu yang merekam kejadian memalukan anak kita, mending mereka merekam dengan keadaan masih memakai pakaian lah kalau mereka sedang tak berpakaian bagaimana toh" ucap Chandra lagi
Bu Erna pun terdiam memikirkan apa yang di ucapkan suami nya barusan, bagaimana jika teman sosialita nya tau para warga sini yang suka bergosip dengan diri nya tau. mau di taruh dimana muka nya nanti, bisa-bisa dia tak bisa keluar rumah lagi.
****
Sepeninggal nya Lisa Bu Erna kini hampir tiap hari membereskan rumah, kalau masak sesekali kebanyakan beli di luar karena banyak dari penghuni rumah ini yang tak cocok dengan masakan Bu Erna.
Walaupun lelah tapi karena sudah beberapa bulan ini dia mengerjakan sendiri jadi tubuh nya sudah mulai terbiasa dengan kegiatan beres-beres rumah sedangkan Tari jangan di tanyakan dia sudah seperti ratu di rumah ini.
Bangun siang makan tinggal makan, baju sudah bersih, anak nya tak ia hiraukan lagi. Pergi sekolah uang jajan Bu Erna yang memberikannya jajan, sebenarnya Bu Erna jengah melihat mantu satu nya itu bertingkah seperti itu tapi dia hanya dapat menarik panjang nafas nya mencoba bersabar.
__ADS_1
"Loh ini baju-baju aku, mas Rudi dan ayu kok masih disini Bu? Gak di cuci sekalian sama yang lain?" ucap tari yang baru saja bangun dan langsung duduk di meja makan untuk sarapan.
"Ibu gak kuat kalau harus mencuci nya juga, jadi baju keluarga kamu. Kamu saja ya yang mencuci ibu gak sanggup kalau semua ibu yang tangani" ucap Bu Erna ketika tari menunjuk ember pakaian kotor milik keluarga nya.
"Loh kok gitu Bu?"
"Gak ada bantahan tari, mulai sekarang baju kotor keluarga kamu, kamu yang urus dari mulai cuci, jemur, setrika. Toh ada mesin cuci juga kan, ibu sekarang mau nyuci punya mamah sama ayah saja sedangkan mas mu itu juga sekarang baju nya kebanyakan di loundri, kamu juga nyuci gak pake tangan kok Tar kan ada mesin cuci tinggal masukin aja terus nanti kamu jemur" ucap mamah Erna panjang lebar kepada tari yang duduk di meja makan.
"Tapi kan mah baju anak-anak kalau cuma masuk mesin cuci itu masih gak bersih mah"
"Ya tinggal kamu sikat dulu terus baru kamu masukin mesin cuci Tar"
"Kalau aku yang sikat nanti kuku ku pada patah dan rusak semua mah" Tari masih berdebat dengan ibu mertua nya tak ingin mencuci baju-baju anak nya.
Bu Erna terlihat gemas melihat wajah tari yang cemberut seperti ingin ******* saja wajah mantu nya itu.
"Sudah lah lakukan saja Tar gak usah protes lagi, kalau gak mau mamah bilangin sama keluarga kamu" ucap Bu Erna mengancam tari, karena memang tari takut jika Bu Erna mengadukan kelakuan nya yang pemalas itu kepada keluarga besar nya, sejak menikah dengan Rudi Tari selalu sesumbar kalau dia lah yang mengerjakan pekerjaan rumah. Walau awalnya tari dan Bu Erna selalu bergotong royong dalam mengerjakan pekerjaan rumah akan tetapi ketika Lisa datang ke rumah ini maka semua pekerjaan rumah di limpahkan kepada Lisa semua tanpa terkecuali.
Seperti biasa setiap pagi Bu Erna pasti akan menanti tukang sayur yang lewat depan rumah nya, Bu Erna sendiri yang akan belanja karena kalau tari yang belanja pasti hasil nya tak sesuai dengan keinginannya.
Ketika melihat tukang sayur entah mengapa perasaan Bu Erna menjadi tak enak, mungkin karena di sana sudah ada beberapa ibu-ibu yang senang sekali bergosip.
Mereka melirikku dengan sinis dan berbisik satu sama lain tetapi ketika aku mendekat mereka semua terdiam, sedangkan tukang sayur mang makmur melirikku dan tertawa kecil.
"Kenapa mang? Kok liatin terus tertawa gitu waktu liat saya?" ucap mamah Erna yang sudah tak enak hati ketika melihat para ibu-ibu yang membeli sayur.
"Eh.... Gak apa-apa kok Bu, cuma ya heran aja tumben ibu beli sayuran di saya" ucap mang makmur.
Bu Erna yang masih keheranan pun menggedikkan bahu nya mendengar ucapan mamang sayur itu dan tiba-tiba mbak Yuli besti nya Bu Erna datang dan menyeret nya menjauh dari ibu-ibu yang sedang memilih sayuran itu.
"Eeh.... Jeng Yul..... Kenapa ini kok nyeret-nyeret aku kaya gini" ucap mamah Erna dengan kaget.
"Sudah-sudah ikut aku dulu.... Jeng Erna kenapa di sana? Kalau mau beli mending titip ke aku aja nanti aku yang belikan dari pada jeng Erna beli sendiri" ucap mbak Yuli yang agak sedikit panik dan membuat mamah Erna mengerutkan alis nya.
__ADS_1
"memang kenapa toh jeng..... Kan saya cuma mau belanja sayur aja di mang makmur... Biasa nya juga kan belanja sendiri sekarang" ucap mamah Erna yang tak tau apa-apa
"Haduh.... Jeng Erna ini bagaimana memang jeng Erna belum lihat sosmed pagi ini kah?" ucap jeng Yuli sambil merogoh handphone nya yang dia kantongi sejak tadi.
"Memang ada apa sih jeng, aku boro-boro mau lihat sosmed kerjaan aku di rumah saja sudah banyak" ucap mamah Erna sambil menerima uluran handphone yang mbak Yuli ulurkan ke hadapan mamah Erna dan mamah Erna pun melihat handphone yang mbak Yuli sodorkan kepada nya.
Betapa kaget nya mamah Erna ketika melihat vidio Hendra dan Lulu yang sedang tak berpakaian disana terpampang nyata, itu mampu membuat Bu Erna hampir saja pingsan.
"Wah Bu Erna sekarang anak nya sudah jadi artis nya terkenal dimana-mana" ucap salah satu ibu-ibu sambil memilih sayuran yang ada di mang makmur.
"Iya jadi bakat terpendam anak Bu Erna tersalurkan ya eh tapi gak salah ya film nya itu" cekikikan ibu-ibu disana terdengar oleh Bu Erna.
Bu Erna yang mendengar ucapan para ibu-ibu komplek itu pun wajah nya seketika menjadi merah padam menahan emosi.
"Eh ada Bu Erna disini" datang lah Bu RW yang menjadi dedengkotnya pergosipan di komplek ini.
"Iya Bu saya mau belanja nih" ucap Bu Erna sambil memilih sayuran sebenarnya sudah tak mood lagi Bu Erna memilihnya tapi mau bagaimana lagi.
"Sebaiknya kalau sudah Nemu sayuran yang Bu Erna mau, cepet-cepet deh Bu Erna bayar terus masuk lagi ke rumah" ucap Bu RW yang tak menghiraukan raut wajah Bu Erna saat ini.
"Saya cuma menyarankan ya Bu Erna mending sekarang Bu Erna pingit tuh burung anak nya biar gak kabur kemana-mana. Enak nya sebentar malu nya gak ketulungan" ucap Bu RW yang mulut nya tanpa rem itu.
Dengan menahan emosi yang menggebu di hati Bu Erna pun segera menyelesaikan belanjaan dan membayar nya ke mang makmur secepat yang dia bisa lalu meninggalkan ibu-ibu julid yang berada di sana.
Bu Erna langsung masuk ke rumah dia ingin segera mengecek grup sosialisasi yang dia punya, karena dia takut kalau di keluarkan dari grup sosialita nya itu.
"Bagaimana sudah puas kamu mah mendengar gunjingan warga?" ucap pak Chandra ketika melihat Bu Erna yang melangkah tergesa-gesa kedalam rumah. Seketika langkah Bu Erna pun terhenti karena mendengar suara suami nya itu.
"Ayah sudah tau?" ucap Bu Erna menatap pak Chandra yang tengah santai meminum teh dan kue basah yang berada di depannya.
"Bukankah semalam sudah aku beritahukan hal semacam ini akan terjadi? Ucap nya Santai.
"Tap... Tapi.... Yah..." ucap Bu Erna terbata-bata mendengar ucapan suami nya itu.
Braak
__ADS_1
Tiba-tiba pak Chandra memukul meja yang berada di depannya dengan majalah yang sedang ia pegang dan itu membuat tari dan anak nya ayu terlonjak kaget, mereka memilih pergi dari tempat itu menjauh karena tak ingin mendapatkan amukan sang bapak mertua dan kakek dari anak nya.
"Sudah cukup selama ini aku bersabar dengan kelakuanmu mah, jika saat ini kamu tak menuruti kata-kata ku. Aku persilahkan kamu meninggalkan rumah beserta isi nya" ucap pak Chandra tegas.