
Sudah beberapa bulan ini Lisa menyandang status Baru yaitu status janda tak ayal para tetangga yang senang bergosip pasti akan membicarakan status baru nya, akan tetapi Lisa tak akan memperdulikan gunjingan atau omongan para netizen yang maha benar itu.
Lisa menganggap angin lalu tetapi bagaimana dengan pamannya Lisa takut akan kesehatan sang paman akan terganggu karena omongan tetangga yang maha benar itu.
"Paman tolong kalau paman dengar omongan yang tidak enak tentang aku, aku minta paman jangan sampai terpengaruh ya, aku janji aku akan menjaga diri dengan baik" ucap Lisa agar pamannya itu tidak terpengaruh dengan omongan tetangga yang mungkin saja nanti pamannya dengar.
"Iya... Kamu tenang saja Lis, paman bukan anak kecil yang selalu kamu ingatkan, paman percaya sama kamu kok kamu tenang saja ya" ucap paman sambil tersenyum ke arah Lisa.
"Kalau Lisa gak ingetin nanti pasti paman dengar omongan yang gak bener paman akan kepikiran dan itu akan berdampak sama kesehatan paman sendiri. Lisa gak mau paman sampai sakit gara-gara Lisa" Lisa memeluk pamannya dengan sayang.
"Kamu pikir paman ini masih anak-anak apa, yang selalu harus kamu khawatirkan" ucap paman yang seolah-olah merajuk.
"Uluh uluh paman ku cemberut....." paman dan Lisa pun tertawa karena kelakuan mereka sendiri.
"Heh kalian malah asik ketawa-ketawa berdua disini ya kami nunggu di depan sampe jamuran, udah telat nih" ucap Reno yang datang dengan berkacak pinggang seolah-olah dia marah kepada Lisa dan paman
"Ngapain cepet-cepet si ren, yang punya resto di sini juga jadi santai aja kali, acara gak akan mulai kalau pemilik restonya aja belum datang" ucap paman sambil mengambil secangkir susu yang tadi Lisa persiapkan untuk sang paman.
Ya setelah beberapa bulan lalu aku mempersiapkan pembukaan restoran di wilayah yang berbeda hari ini lah tiba saat nya aku membuka sepenuh nya restoran ini dengan memboyong seluruh keluarga paman.
Ketika aku dan keluarga paman sampai restoran ternyata suasana di sana sudah cukup ramai dengan para pembeli, karena memang kemaren kemarin aku mengadakan soft opening dan sekarang grand opening nya dengan menghadirkan beberapa undangan yang aku undang jauh hari sebelum nya.
Aku dan Aini pun memakai pakaian yang unik sama seperti karyawan kami yang lain selain sebagai bentuk promosi seragam grand opening ini juga menarik perhatian orang yang lewat di resto kami.
"Wah akhirnya paduka raja dan sang putri datang juga" ucap Aini melihat aku paman mas Reno dan mbak Winda beriringan melangkah mendekat ke arah nya.
"Wah bagaimana nih dayang-dayang apa semua nya sudah lengkap dan siap untuk grand opening restoran kita dayang" ucap ku sambil melirik ke sekitar restoran itu untuk memastikan tak ada sesuatu hal yang kurang.
"Lis paman ke sana dulu ya" ucap paman ketika melihat teman-temannya datang ke pembukaan restoran kami. Aku pun mempersilahkan paman untuk bergabung dengan teman-temannya sedangkan mbak Winda dan mas Reno sudah tak tau kemana tinggal lah aku dan Aini berdua disini.
"Sudah lah Lis kita seperti nya gak di takdirkan untuk jadi wanita anggun ini gak cocok sama sekali kalau harus elegan seperti itu, spek pelayan kita...." ucap Aini di iringi gelak tawa oleh kami berdua.
"Kamu benar Ni.... Kayanya emang kita di takdirkan buat jadi pelayan ya.... Jadi susah ya mau anggun seperti apapun gak akan cocok" ucapku kembali.
__ADS_1
Tak lama berselang mbak Winda datang sendiri menghampiri aku dan Aini yang sedang asik tertawa.
"Seru banget sih kaya nya kalian"
"Eh mbak Winda mana mas Reno mbak?" ucap Aini menghentikan tawa nya
"Tuh lagi berbincang sama temen-temennya" ucap mbak Winda sambil menunjuk mas Reno dengan dagu nya.
"Ngomong-ngomong ini dekor kamu sendiri Lis?"
"Ya mbak, kenapa? Jelek ya?" ucap ku ketika melihat mbak Winda menelisik setiap dekorasi yang aku buat.
"Bagus kok, cocok untuk para remaja masa kini yang suka sekali ber swafoto" ucap mbak Winda.
"Ya siapa dulu dong yang membantu juga berpengaruh mbak" ucap Aini pongah di sela-sela perbincangan aku dan mbak Winda, seketika itu pula gelak tawa di antara kami pecah.
Setelah acara inti selesai ini saat nya acara bebas, aku pun ikut berbaur dengan orang-orang yang berada di restoran itu berbincang apapun mengenai bisnis.
Sedangkan paman, mas Reno dan mbak Winda terlihat sangat senang bisa bercengkrama dengan teman-teman mereka di sini.
"Makasih Tante atas pujiannya" ucap ku sambil tersenyum ramah sama Tante melati.
"Ya.... Gimana gak harus pinter kelola keuangan Bu kan sekarang dia itu janda, jadi ya harus pinter lah kelola keuangan nya biar bisa makan enak kaya waktu dia masih sama anak saya dulu. Kalau dulu sih ya enak dia tinggal minta sama anak saya sebulan sekali untuk kebutuhannya lah kalau sekarang dia mau minta sama siapa? Yang ada dia cari mangsa baru kali" ucap seseorang perempuan yang sangat Lisa kenal suara nya, tetapi kok Bu Erna bisa sampai sini? Sedangkan jarak rumah ibu mertua nya cukup jauh dari restoran baru yang di miliki oleh Lisa saat ini.
"Maaf ibu ini apa ada undangan menghadiri acara di restoran ini? Setahu saya kalau orang yang jauh dari restoran harus memiliki undangan yang di berikan si pemilik restoran ini" ucap Lisa menatap Bu Erna yang tadi secara vokal menyuarakan pemikirannya yang membuat semua orang menatap ke arah mereka.
"Apa urusan kamu? Kamu disini kan cuma karyawan biasa yang undang itu pemilik restoran ini bukan kamu" ucap sinis Bu Erna kepada Lisa
"Loh karena saya karyawan di sini maka nya saya berhak atas ke nyamanan para undangan yang ada di sini semua, jika ibu tak bisa memperlihatkan undangan yang saya tanyakan, saya bisa saat ini juga memanggil sekuriti untuk membawa ibu keluar dari restoran ini" ucap Lisa tegas yang membuat Bu Erna menjadi pias wajah nya
"Heh jangan kurang ajar ya saya kesini juga di ajak Sama Bu melati ya jadi kamu gak bisa sembarangan memanggil sekuriti"
"Ada apa ini Lis?" ucap paman yang ternyata menghampiri Lisa karena kegaduhan yang Bu Erna ciptakan.
__ADS_1
Tak lama kemudian mas Reno dan mbak Winda pun datang menghampiri aku dan paman yang berada di sana.
"Wah.... Begini nih kalau keluarga kurang m*mpu semua keluarga nya di bawa ke restoran biar bisa makan enak ya kalian? Jadi bisa ngirit uang belanja?" ucap Bu Erna yang tak pernah bisa di saring.
"Atau jangan-jangan kamu ikut acara ini juga untuk menjaring laki-laki yang kaya ya biar bisa numpang hidup Ama mereka" ucap Bu Erna lagi.
"Hm... Bu Erna bagaimana sih aku kan baru saja ketok palu masa udah mau cari lagi, nanti aku di kira janda gatel lagi ah, kalau anak situ mungkin aja bu. Baru cerai langsung cocok tanam dan bahkan sampai viral di gerebek warga, apa karena gak bisa bayar sewa hotel ya sampai bisa di gerebek kaya gitu" ucap Lisa di akhir ucapannya Lisa menutup mulut seperti sedang tak sengaja mengatakan hal tersebut.
"Diam kamu Lis, perempuan benalu kaya kamu gak cocok untuk dipertahankan untung anakku pisah sama kamu, kalau terus-terusan anakku bisa ketiban apes terus karena punya istri macam kamu" Lisa yang mendengar ucapan Bu Erna Bun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mantan mertua nya itu.
"Apa aku tak salah dengar Bu? Kaya nya ibu ini cocok nya jadi komedian deh, sekarang saya mau tanya sama ibu. Memang selama ini anak ibu sudah memberikan saya apa? Setiap bulannya cuma ngasih saya satu juta lima ratus saja bangga, uang segitu dapat apa Bu dalam sebulan sedangkan keluarga kalian itu minta makanan yang enak-enak terus juga bergizi, jadi yang jadi benalu di sini siapa Bu?" ucap Lisa men skak mat Bu Erna yang semakin pucat mendengar penuturan Lisa barusan.
"Heh masih untung anak saya kasih uang segitu ya jadi kamu masih bisa makan enak" ucap Bu Erna makin emosi.
Paman yang sedari tadi di samping Lisa pun nampak geram melihat tingkah mantan ibu mertua Lisa itu yang memandang rendah keponakannya.
Sedangkan mbak Winda jangan di tanya lagi wajah nya sudah merah padam menahan amarah yang siap kapan saja akan dia keluarkan, paman mengelus punggung Lisa dengan sayang agar keponakannya itu lebih sabar lagi dalam menahan emosi.
"Maaf kalau saya gak salah ya Bu Erna kami ini gak pernah ganggu keluarga Bu erna tapi kenapa setelah jadi mantan Bu Erna jadi terus ngerecokin hidup sepupu saya" ucap mbak Winda yang seperti nya dari tadi sudah menahan emosi nya.
"Oh ya.... Saya gak berniat tuh ngerecokin si lisa tapi yang saya katakan itu kan bener nak winda, masa setelah cerai jadi mantu saya dia sekarang cuma jadi pegawai restoran" ucap Bu Erna sambil melihat ke arah Lisa dan menatap nya dari atas sampai bawah.
"Memang kenapa Bu Erna kalau sepupu saya ini cuma jadi karyawan restoran? Kan tidak mengganggu keluarga Bu Erna dan anak Bu Erna juga, Oya kan sekarang Bu Erna udah punya mantu baru ya? Kok gak di bawa? Apa kabar nya? Apa masih jadi PNS setelah kejadian penggerebekan itu?" ucap mbak Winda menohok sedangkan mas Reno yang berada di samping mbak Winda menyenggol lengan sang istri agar berhenti dengan ucapannya.
"Apa sih mas? Sepupu nya di hina masa aku diam aja sih?" ucap mbak Winda sinis kepada mas Reno.
"Hm... Gak gitu juga kali bunda jangan langsung di ultimatum gitu, gak liat itu muka nya udah kaya orang gak punya darah? Nanti kalau dia pingsan di sini kan berabeh bun, aku gak mau repot loh ya" ucap mas Reno yang membuat Bu Erna emosi seketika mendengar nya.
"Abis gimana ya mas, dia sombong sekali dikira sepupu aku ini gak bisa hidup tanpa anak nya itu kali ya" mbak Winda pun kini telah tersulut emosi.
"Sudah lah Bun orang juga bisa menilai kok Lisa itu lebih bahagia lepas dari anak dan selingkuhannya itu yang sekarang jadi artis dadakan itu kan, memang sekarang anak nya itu masih ada masa depannya kah?" ucap mas Reno menohok. Ya walaupun suara mas Reno itu tak sekeras suara Bu Erna tapi masih mampu di dengar orang sekitar.
"Heh nak Reno kalau ngomong jangan asal ya, anak saya masa depannya itu cerah gak kaya si Lisa yang cuma jadi pelayan restoran doang" ucap Bu Erna tak terima dengan ucapan mas Reno barusan.
__ADS_1
"Loh bukanya bener ya? Emang ada perusahaan yang mau Nerima bekas artis p*rn* kaya anak situ? lagian ya setau saya kalau ada PNS yang memiliki sekandal juga akan langsung di non aktifkan tu" ucap mas Reno acuh, ya walaupun mas Reno terlihat cuek tapi jangan lupa kalau dia juga pengacara yang banyak wawasannya di luaran.
Bu Erna yang wajah nya tadi pucat pun kini berganti merah padam menahan amarah nya karena mendengar ucapan mas Reno barusan.