
"Mas... Aku belum mau pulang dulu untuk sekarang" ucap Lulu menatap Hendra.
"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kamu ikut aku pulang ke rumah saja dulu baru nanti sore kamu pulang seperti biasa nya kamu bekerja" ucap Hendra memberikan solusi agar Lulu lebih tenang.
Lulu yang mendapatkan usulan itu pun menatap bahagia wajah Hendra yang ada di depannya.
"Boleh?" Tanya Lulu dengan mata yang berbinar.
"Tentu boleh, ini makan kamu sudah selesai bukan? Kalau sudah yuk kita pulang ke rumah aku saja dulu" ucap Hendra sambil berdiri menuju tempat pembayaran.
Akhirnya mereka berdua pun menuju rumah Hendra karena tak tau lagi akan kemana.
Setibanya mereka di rumah, Hendra langsung masuk dan menuju ke ruang tamu yang tak jauh dari pintu masuk, Lulu pun langsung duduk di samping Hendra.
"Loh kamu sudah pulang hend di jam segini?" ucap pak Chandra sambil melihat arah jam di dinding rumah nya.
Tak lama Bu Erna dan Tari pun muncul dari dalam sedangkan pak Candra baru masuk sama seperti Hendra dan Lulu.
"Loh iya mas tumben kamu pulang jam segini?" Kini Tari pun bertanya sama seperti pak Chandra sedangkan ibu Erna hanya dapat menganggukkan tanda setuju dengan mantu dan suami nya itu.
Sebelum Hendra menjawab dia menghela nafas panjang dan menatap seluruh keluarga nya yang ada disitu.
"Hendra baru saja di pecat yah, mah" ucapan Hendra yang mampu membuat Lulu, pak Candra,Bu Erna dan Tari tak percaya akan hal itu.
"Kamu serius mas? Kamu baru di pecat?" Lulu sedari tadi yang tak tau kalau Hendra di pecat pun menjadi shock mendengar nya.
"Iya dek, mas baru saja di pecat" ucap Hendra kembali.
"Tapi kamu dapat pesangon kan hend?" ucap Bu Erna bukannya menanyakan masalah kenapa Hendra bisa di pecat sang mamah malah menanyakan pesangon.
"Iya Bu dapat ko cuma lima Belas juta pesangon Hendra dapatkan" ucap Hendra kembali.
"Terus gimana mas? Kehidupan kita ke depannya? Apa lagi kamu cuma dapat pesangon cuma lima belas juta aja. Kita berdua jadi pasangan pengangguran dong mas?" ucap Lulu sambil menangis kembali karena baru mengetahui fakta kalau Lulu dan hendra ternyata pengangguran mulai saat ini.
"Tenang lah aku masih punya simpanan sama mamah, kan selama ini gaji aku di simpan sama mamah dan waktu itu mamah bilang gaji aku itu beliau sisihkan untuk di tabung, bukan begitu mah?" ucap Hendra menatap mamah nya dengan senyum yang bahagia karena memang selama ini Bu Erna bilang jika gaji yang Hendra kasih kepada Bu Erna itu di tabung untuk masa depan diri nya.
Bu Erna yang mendapat pertanyaan itu dari Hendra pun menjadi pucat wajah nya seperti tak mendapatkan aliran darah, bukannya menjawab Bu Erna malah meninggalkan orang-orang yang sedang memperhatikan diri nya.
"Sudah lah biarkan mamah pergi mungkin mamah ingin melihat uang tabungan yang selama ini mamah simpan"Ucap Hendra dan yang lain pun menganggukkan kepala.
"Kita bisa memulai usaha nanti setelah kita menikah, bagaimana?" ucap Hendra menenangkan Lulu yang masih berlinang air mata
Bapak nya Hendra pun duduk di kursi single di ruang keluarga tersebut.
"Tadi juga ayah sudah menemui orang tua kamu Lulu, sudah membicarakan mahar untuk kamu yang akan Hendra berikan"ucap pak Chandra, Hendra dan Lulu kini melihat ke arah pak Chandra.
"Maaf kami hanya dapat memberikan kamu seperangkat alat solat, apa lagi keadaan kalian sekarang seperti ini ayah kira keputusan tadi yang orang tua dan ayah ambil tidak salah" Hendra yang mendengar nya pun seperti ingin menyela tetapi mendengar alasan ayah nya yang terakhir itu membuat Hendra mengurungkan niat nya.
Benar apa yang ayah nya katakan walaupun hati nya bertolak belakang tetapi uang yang di keluarkan bisa dia dan Lulu pergunakan untuk usaha ke depannya.
Perbincangan antara Lulu, Hendra dan pak Chandra pun berakhir ketika lulu melihat jam di tangannya menunjukan jam lima sore dan Lulu pun merasa badannya sudah lelah ingin beristirahat.
__ADS_1
"Mas aku mau pulang" ucap Lulu di sela-sela obrolannya dengan bapak dan Hendra.
"Ok, yuk aku antar" ucap Hendra dan meminta ijin kepada ayah nya untuk mengantarkan Lulu pulang sebentar, ayah Hendra pun mengijinkan Hendra untuk mengantarkannya.
Hendra pun hanya menurunkan Lulu di depan rumah nya karena memang dia pun lelah akan kejadian hari ini dan perlu istirahat.
"Masuk dulu mas?" ucap Lulu menawarkan kepada Hendra.
"Gak usah dek, mas langsung pulang saja seperti nya mas juga harus banyak istirahat banyak kejadian yang membuat mas cape hari ini"
"Ok kalau gitu, makasih udah nganter sampai sini ya mas" ucap Lulu sambil tersenyum dan menunggu Hendra hingga Hendra tak terlihat dari pandangannya.
Sesampai nya Hendra di rumah, ia langsung memasuki rumah dan menuju kamar nya dia merasa hari ini sangat lah berat di tambah video tak senonoh nya bersama Lulu itu tersebar luas dan menjadi viral akan.
Apa lagi besok adalah hari persidangan pertama nya bersama Lisa akan kah Hendra sanggup menampakkan diri di muka umum, seperti nya tidak Hendra terlalu malu untuk menampakkan diri nya keluar rumah.
Hari ini sesuai jadwal persidangan perceraian antara dirinya dan Lisa akan tetapi saat ini pula Hendra masih betah berlama-lama di kamar nya.
Hendra enggan untuk keluar rumah, bahkan keluar kamar pun matahari sudah sangat terik yang menandakan Hendra melewatkan waktu sarapannya bersama keluarga.
"Loh.... Kamu baru bangun hend?" jawab ayah Hendra yang tak sengaja berpapasan di ruang keluarga.
"Iya yah, lagian bangun pagi mau apa? Kan Hendra sudah tak kerja lagi sekarang" ucap Hendra acuh sambil berjalan ke arah ruang makan.
"Bukanya hari ini kamu ada persidangan perceraian kamu yang pertama? Apa kamu enggak mau menghadiri?"
Pak Chandra yang mendengar penjelasan putra nya pun hanya dapat manggut-manggut membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Hendra barusan.
"Memang kamu sudah seyakin itu mau melepas Lisa hend?"
"Iya yakin pak, lagian Hendra juga sudah punya Lulu kan, sangat yakin ko melepas Lisa" Hendra sambil menyendok makanan di meja makan tersebut, merasa aneh dengan pertanyaan ayah nya karena jelas-jelas Lulu di lihat dari segi apapun melebihi Lisa tetapi kenapa ayah nya malah bertanya seperti itu.
"Ya sudah ayah hanya menanyakan itu, takut nya kamu menyesal mau menceraikan Lisa. Tetapi seperti nya ini bukan terakhir sebab setau ayah penyesalan itu datang nya terakhir sedangkan sekarang kamu belum menyesal jadi bukan terakhir nya, apa mungkin ini awal" kekeh ayah Chandra yang semakin membuat Hendra bingung di buat nya.
"Maksud ayah apa sih?"
"Ah sudah lah hend lupakan, lanjutkan saja makan pagi plus makan siang mu itu bapak akan ke kebun sebentar" ucap nya sambil berlalu meninggalkan Hendra yang masih mencoba mencerna ucapan ayah nya tadi.
"Apa sih maksud ayah bukannya Lisa yang akan menyesal karena telah cerai dengan ku ya, sebab kan selama ini dia hanya ibu rumah tangga yang hanya bisa menengadahkan tangannya kepada aku, yang cuma bisa jadi benalu" gumam Hendra sambil menyuapi makanan yang ada di hadapannya.
Sedangkan hari ini pula Hendra merasa ibu nya terlalu sibuk sehingga Hendra tak bisa mengobrol berdua dengan mamah Erna. Ketika Hendra hendak memanggil mamah nya itu, mamah Erna selalu memberikan alasan ada keperluan di luar atau ada kesibukan yang tak bisa beliau tinggal kan.
"Mah boleh aku bicara?" Tanya Hendra karena sedari tadi mamah nya selalu menghindar dan ini saat yang tepat menurut Hendra sebab mamah nya sedang memasak.
"Mau ngomong apa sih kamu, gak liat ini mamah lagi masak untuk makan malam kita, nanti kalau masakan mamah gosong, ke asinan atau gak Mateng apa kamu mau tanggung jawab" ucap Bu Erna agak judes kepada Hendra yang tak biasa nya.
"Ya gak papa lah mah mamah sambil masak kan bisa" ucap Hendra kembali.
"Sudah lah nanti kan bisa setelah masak atau setelah makan malam juga bisa, masih banyak waktu hend" ucap Bu Erna yang menghindari obrolan dengan Hendra.
__ADS_1
"Ada apa ini kenapa kalian berdua berdebat di dapur?" ucap Chandra yang kini berada di antara anak dan istri nya.
"Aku cuma mau ngobrol yah sama mamah, tapi seperti nya sudah sekali sejak tadi aku bangun" ucap Hendra mengadukan ke ayah nya seperti anak kecil.
"Sudah lah mah tinggal dengerin aja toh kamu juga bisa sambil masak kan gak ada masalah" ucap Chandra menengahi keributan antara anak dan istri nya, Hendra yang mendengar ucapan sang ayah pun kini tersenyum senang.
"Tuh mah ayah saja setuju dengan usul ku barusan bagaimana mah?"
"I-iya sudah mau ngomong apa sih ribet banget dari tadi" ucap Erna masih sewot.
"Aku mau tanya uang tabungan yang dulu mamah pernah bilang sewaktu aku masih bekerja mah, sebelum dan sampai menikah uang gaji aku kan mamah yang pegang jadi mungkin udah banyak dan bisa aku gunain buat usaha, lagi pula kan sekarang Lulu juga gak kerja jadi itu aku mau gunain buat modal aku sama Lulu nanti" ucap Hendra panjang lebar.
Panci yang sedang di bawa Bu Erna pun seketika terlepas dan membuat kegaduhan di dapur tersebut sehingga mengagetkan Hendra yang sedang duduk dan memperhatikan mamah nya.
'Ada apa sama mamah kok wajah nya tiba-tiba pucat dan gugup kaya gitu?' gumam Hendra yang sedari tadi memperhatikan Erna.
"Kenapa mah? Kok sampai jatuh?" ucap Chandra yang duduk tak jauh dari Hendra.
"Em....m... Gak papa ko yah cuma tadi seperti nya panci ini ibu nyuci kurang bersih jadi masih ada minyak-minyak nya" ucap Bu Erna yang sedang gugup.
"Lah gimana nya kan mamah yang nyuci lagian masak sampe segitu nya mah udah di cuci ada minyak nya licin Ampe jatoh?" ucap Chandra kembali.
Hendra hanya menganggukkan kepala nya tanda setuju dengan ucapan sang ayah, lagi pula Hendra merasa mamah nya terlihat aneh semenjak kemarin setalah Hendra membahas tabungan diri nya yang di pegang oleh mamah Erna.
"Em.... I... Itu....." ucap Bu Erna terbata-bata karena tak tau mau alasan apa lagi.
"Sudah sudah jangan bahas panci itu lagi, bahas yang tadi Hendra bicarakan saja bagaimana?" ucap Hendra menghentikan perdebatan sang ayah dan mamah nya.
"Ya menurut ayah gak ada salah nya kalau kamu mau mengambil uang tabungan kamu sama mamah kamu hend, toh itu uang tabungan kamu kan dan jika uang tabungan kamu buat modal usaha itu juga bisa buat pemasukan keluarga kamu nanti nya" ucap Chandra membenarkan ucapan Hendra.
"Ta... Tapi.... Yah i... Itu.... Sebenarnya....." ucap Bu Erna sambil tertunduk dan memainkan ujung baju nya seperti salah tingkah.
"Kenapa sih mah... Dari tadi itu em ham Hem terus ngomong nya yang bener" ucap pak Chandra yang mulai tak sabar mendengar ucapan sang istri.
"Sebenar nya uang gaji Hendra selama ini mamah pakai, gak mamah tabungin yah" ucap mamah Erna sebenarnya bukan ucapan tapi seperti bergumam karena hampir tak terdengar oleh Hendra atau pun Chandra.
"Mah... Kalau bicara itu jangan kaya orang kumur-kumur mah ayah sama Hendra gak denger" ucap Hendra dan melirik ayah nya.
"Nah ayah kira ayah saja yang gak denger ucapan mamah barusan " ucap Chandra membenarkan Hendra.
"UANG GAJI HENDRA UDAH MAMAH PAKE" ucap Erna kini wajah nya di angkat dan menatap ayah dan anak itu bergantian sedangkan Chandra hanya dapat melototi ucapan sang istri yang menurut dia sudah sangat keterlaluan itu.
Braaak
Suara gebrakan meja makan dari Chandra mampu mengagetkan Erna sedangkan Hendra mematung mendengar ucapan sang mamah tersebut.
"Untuk apa kamu memakai uang anak mu HAH!" ucap Chandra sambil menatap marah ke arah Erna yang kini tertunduk kembali.
"Apa selama ini pensiunan, uang dari berjualan sayuran kebun kurang untuk kamu Erna!!"Teriak Chandra yang sudah mulai emosi mendengar ucapan istri nya tadi.
"Memang mamah pakai untuk apa uang aku itu" akhir nya Hendra pun mengeluarkan suara nya setelah beberapa saat terdiam mendengar ucapan mamah nya yang membuat dia shock beberapa saat.
__ADS_1