Terhina di keluarga suami

Terhina di keluarga suami
Bab 24


__ADS_3

P.O.V Hendra


Entah sejak Lisa meninggalkan rumah ini aku merasa seperti ada yang hilang dan rumah pun tak terurus berbeda ketika di rumah ini ada Lisa semua nya tertata rapih, dari mulai baju, rumah tak berdebu dan tak ada sampah daun di halaman rumah ini.


Sedangkan ayu keponakan ku ketika ada Lisa dia tak pernah rewel, ketika belajar pun dia selalu ceria, sedangkan ibu dulu tak pernah membuat ke gaduhan di rumah ini tetapi setelah Lisa pergi dan aku Talah rumah dan seisi nya seperti berada di Medan perang.


Mamah selalu berteriak di setiap pagi nya, ayu selalu menangis ketika belajar atau pergi sekolah, halaman depan rumah penuh dengan sampah daun sedangkan baju kami sekarang kusut tak tersentuh setrikaan untung lah aku selalu me loundri baju kerjaku jadi ketika aku berangkat kerja baju ku setidaknya rapih dan wangi walau harus mengeluarkan uang lebih.


Setiap hari meja makan selalu tersaji sarapan yang enak ketika ada Lisa tetapi sekarang? Jangan sarapan piring saja tak nampak di meja itu kata mamah, mamah sedang malas masak lah, uang belanja tak cukup lah.


Berbeda ketika ada Lisa di sini, sarapan, makan siang dan makan malam selalu tersedia dan enak-enak semua.


Hm.... Aku jadi merindukan Lisa, mengapa aku harus langsung mengalah Lisa dan mengusir nya aku menyesal dengan apa yang terjadi kepadaku.


Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku ingin semua nya tak terjadi dan aku masih bersama dengan Lisa hingga saat ini agar semua nya masih sama ketika aku bersama Lisa.


Aku pun seperti biasa pergi ke kantor pagi tapi beda nya sekarang perutku yang biasa terisi tak kelaparan, sekarang harus merasakan pergi dengan perut keroncongan.


Terkadang aku berfikir kenapa kepergian satu orang saja bisa berakibat besar sekali di kehidupan keluarga ku ini tapi ya sekarang mau bagaimana lagi penyesalan memang datang selalu terakhir.


Waktu pun tak terasa kini waktu nya aku pulang ke rumah dan membereskan pekerjaanku, aku pun sampai rumah ketika Lisa masih ada di sini aku selalu di sambut dengan senyum ramah, Lisa selalu membawakan tas kerja ku dan merapihkan sepatuku di tempat sepatu, aku duduk di ruang tamu tak lama kemudian Lisa datang dengan segelas teh hangat san cemilan di tangannya.

__ADS_1


Hah Lisa aku rindu dengan semua perlakuan mu itu, ketika aku sedang mengendurkan dasi ku tiba-tiba mamah datang dan menyerahkan amplop coklat berlogokan pengadilan agama.


"Apa ini mah?" Tanya ku sambil menerima amplop coklat yang berlogokan pengadilan agama itu.


"Ya lihat saja sendiri tuh, mamah belum sempat buka jadi mamah gak tau isi nya apa" jawab mamah ku sambil menyodorkan amplop itu.


Aku pun meraihnya dan membuka paksa amplop tersebut dengan sedikit pemikiran kacau saat itu, Ternyata sesuai dengan pemikiran ku ini adalah surat gugatan perceraian yang Lisa layangkan untuk ku.


Entah mengapa ketika aku baca surat pengadilan gugatan perceraian yang Lisa layangkan itu hati ku hancur dan tak terima kenapa Lisa semudah ini menggugatku padahal aku ingin sekali memperbaiki keadaan rumah tanggaku dengannya, aku menyesal telah termakan hasutan mamah waktu itu terlebih aku melihat sendiri Lisa di antar oleh pria asing yang belum pernah aku lihat sebelum nya.


Sebab itu lah tanpa sadar aku pun menjatuhkan talak kepada lisa tapi sekarang waktu Lisa melayangkan gugatan perceraian ini malah membuat aku semakin sakit hati di buatnya.


Aku kira kemarin saat Lisa tak kembali ke rumah orang tua ku selama satu bulan itu Lisa hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya setelah dia tenang dia akan kembali lagi padaku tetapi apa ini bukannya Lisa yang kembali kepadaku malah surat pengadilan agama yang aku dapatkan, kenapa juga Lisa tak berusaha menjelaskan duduk permasalahannya kemarin, aku pun mengacak rambutku dengan frustasi sambil terus memegangi surat dari pengadilan tersebut.


"Surat dari pengadilan" ucap mamah cuek sambil berlalu membawa bungkusan kresek yang tadi tari dan keponakanku bawa.


"Pengadilan? Laaah kok bisa kamu di kasih surat dari pengadilan mas? Memang kamu berbuat salah sampai di kasih surat sama pengadilan itu?" Tanya Tari yang tanpa jeda.


Sebelum menjawab aku tarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati dan pikiranku karena kalau tidak di jawab tari akan bertanya terus.


"Siapa yang kena masalah si Tar? Ini surat pengadilan agama, Lisa menggugat cerai aku" ucapku sambil menunduk dan meremas surat itu.

__ADS_1


"Baru juga segitu udah menggugat cerai, bukannya menjelaskan semua nya. Kaya nya ngebet banget jadi janda" ucap Tari pedas, tanpa tari sadari aku menatap tajam ke arah nya karena ucap dia yang begitu tajam tersebut.


"Mungkin dia udah punya yang baru jadi dia ngebet pengen cepet-cepet cerai dari Hendra, Tar. Inget hend kalau mantan istri kamu itu minta harta Gono gini jangan mau. lagian nih ya dia kasih apa sih? Cuma ibu rumah tangga aja, pengangguran pula enak aja minta Gono gini. Kamu yang kerja dia yang enak. Ibu gak setuju" ucap ibu menggebu-gebu ketika mengutarakan isi pikirannya kepadaku.


"Emang mas Hendra sama mbak Lisa punya harta apa mah? Kan selama ini mbak Lisa cuma di kasih jatah bulanan yang pas-pasan terus juga gaji mas Hendra mamah yang pegang?" Tanya Tari yang mendapatkan pukulan di kepala nya oleh mamah.


Plaak


Tari mengusap belakang kepala nya karena sakit di pukul oleh mamah, sedangkan mamah mendengar ucapan sekaligus pertanyaan mantunya itu sudah merah padam wajah nya menahan emosi.


Sedangkan tari yang melihat wajah mamah nya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup pun hanya bisa menelan salifah nya mungkin karena menyadari pertanyaannya tadi yang salah.


"Kamu ini yah kalau ngomong atau bertanya ya di pikirkan dulu. Mamah itu mengatur keuangan mas mu juga buat kebaikan mas mu soal nya selama ini Lisa kan gak bisa mengatur keuangan. Kamu tau sendiri Lisa itu boros jadi buat kebaikan mas mu ibu yang pegang, entah lah kalau yang pegang Lisa bagaimana keuangan mas mu itu" ucap mamah panjang lebar


Aku yang sudah malas mendengar perdebatan mamah dan tari pun beranjak meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarku untuk menenangkan pikiran dan hati yang sedang kacau ini.


Aku pun duduk di tepi tempat tidur lalu aku merai handphone ku ingin menghubungi Lisa karena masih tak percaya kalau Lisa menggugat cerai.


(Ini maksudnya apa Lis? Kamu menggugat cerai mas? Kamu marah sama mas karena telah menuduh mu selingkuh? Tolong maafkan mas Lis, mas khilaf dengan semua ucapan mas waktu itu, di tambah lagi mas terhasut dengan ucapan mamah. mas mohon cabut kembali gugatan kamu Lis, mari kita mulai dari awal kembali Lis)


Aku berharap bisa merubah kembali keputusan Lisa, aku terus saja menatap handphone ku dan berharap Lisa membalas pesan ku barusan, apa Lisa sedang sibuk hingga beberapa menit setelah aku mengirim pesan itu tak ada balasan apapun dari Lisa.

__ADS_1


Apa sesibuk itu kah kamu sekarang Lis, sehingga tak ada waktu untuk memegang handphone dan membalas pesanku.


__ADS_2