
Halo readers, aku datang dengan novel baru 🥰. Semoga suka ya. Ini dia blurbnya.
Adelaide adalah tempat dia dilahirkan. Seorang pewaris sah kerajaan Svaveti kuno yang melarikan diri. Hidupnya selalu di bawah ketakutan akan ancaman pemusnahan keturunan Raja Romanov, oleh para pendukung demokrasi. Adel pun tidak tahu siapa dirinya, sampai satu saat di Umperstone sinkhole dia bertemu seorang pria yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Sir Lucas, seorang duda yang pernah kehilangan istri dan putra pertamanya adalah orang yang sangat dingin. Dia penyuka seni dan arsitektur klasik. Selama sepuluh tahun hidupnya, dihabiskan dalam kesendirian dan kebekuan. Sampai satu hari Adel masuk ke properti pribadinya tanpa izin.
🥰🥰🥰
Adelaide Lorraine Watson, 18 tahun, cantik, berambut merah.
Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menurut sepenuhnya pada Uncle John. Jika saja aku masih punya kekuatan dan keberanian, pasti aku sudah lama kabur. Sayangnya, itu tidak mudah dilakukan. Maklum status sosial dan pengawalan ketat yang ada di sekitar, membuatku sudah bergerak.
"Miss, kita sudah sampai," kata pengawal sembari membuka.pintu kereta.
"Oh, iya. Terima kasih," ucapku setengah kaget. Maklum, selama perjalanan ke rumah guru seni, aku melamun sedari tadi.
__ADS_1
Dengan bantuan tangan pengawal aku turun, lantas bergegas menuju sanggar. Seperti biasa, para pengawal akan membawakan barangku ke dalam. Jadi aku tidak perlu susah-susah menunggu.
Suasana di dalam masih lengang. Seperti biasa, aku segera menuju sudut ruangan. Namun, langkah kaki di belakang membuatku berhenti. Ternyata Tatiana.
"Adel! Aku dapat," bisiknya sembari menyeretku ke pojok.
Khusus untuk pelajaran melukis, Uncle John mengirimku ke rumah seorang guru lukis yang terkenal. Sementara untuk pelajaran lainnya, paman mendatangkan guru ke rumah. Jadi bisa dikatakan, hanya pada pelajaran melukis, aku bisa keluar dari mansion.
"Serius? Kamu yang terbaik," ucapku dengan penuh kegirangan, sembari meletakkan peralatan melukis di dekat kanvas. Selalu mengambil tempat paling belakang di sanggar, bukan karena kami tidak suka melukis, tapi agar tidak mengganggu yang lain saat mendiskusikan banyak hal.
"Iya, saya tahu. Dan saya pasti akan memberikan Anda imbalan setimpal, Miss Leverton." Aku mengerlingkan mata padanya. Sebuah buku asli karya Shakespeare yang terkenal itu sudah kusimpan baik-baik--mencurinya--dari perpustakaan Uncle John.
"I love you Adel," katanya sambil menyapukan kuas ke mukaku.
Dalam setiap tingkah laku, seharusnya kami wajib menjaga etiket. Walau kurasa itu cukup menggelikan. Namun, Tatiana memang lebih 'Lady like' dibanding aku. Meski memiliki perbedaan cukup mencolok, tapi kami sama-sama cocok saat membicarakan buku. Terutama buku tentang tempat-tempat jauh.
__ADS_1
"Dasar usil!" elakku.
Tidak lama kemudian Mr. Leverton masuk sanggar dan kami kembali bersikap sesuai aturan. Seperti biasa, beliau merapikan bajunya yang selalu ketinggalan zaman. Yah, dia pecinta mode gaya renaisance-franch, dengan celana ketat dan kemeja putih berumbai di dada. Topi baret yang dipakainya miring, menutupi rambut keriting blonde sebahu. Sebuah bulu disematkan pada bagian depan baret itu. Kumisnya yang melengkung di ujung, selalu menjadi pembicaraan para murid di kelas kami. Mereka menjulukinya 'Modern Picasso', walau tentu saja, pelukis terkenal itu akan sangat keberatan jika dia dibandingkan dengan Mr. Leverton.
"Good morning My Ladies," sapanya dengan formal melepas topi dan menundukkan badan.
"Good morning, Sir," jawab kami sembari membalas hormat dengan sedikit menekuk lutut dan memegang sisi gaun.
"Well, untuk hari cerah dan panas kali ini. Sebaiknya kita melukis di luar saja." Beliau tersenyum dengan bangga.
Hanya gumaman yang keluar dari mulut mungil nan cantik milik teman-teman sekelas, termasuk Tatiana. Sementara itu, aku sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bersorak sekaligus meloncat kegirangan. Hanya senyuman lebar yang kuberikan pada Tatiana.
🥰🥰🥰🥰
bersambung ....
__ADS_1
semoga suka ya 😁