
....
Rambut yang basah di balik wig, membuatku sangat tidak nyaman. Apalagi, keringat terus mengalir sebagai konsekuensi setelah berlarian tadi. Kakiku juga sedikit gatal. Belum lagi, gaun ini membatasi gerakku. Walau modelnya simple, tapi tetap saja kainnya yang menjuntai, tersangkut di sana sini.
Duuhh, tersiksa rasanya!
Rombongan kelas menggambarku ke mana ya? Sudah sampai di pelataran atas pun, mereka belum juga kelihatan. Sepertinya, aku harus berjalan lagi ke arah jalan utama, karena mengenakan pakaian seperti ini, tidak memungkinkan untuk menggunakan jalan setapak.
Tidak lama berjalan, mataku menangkap deretan kereta kuda yang sedang terparkir. Ah, akhirnya mereka bisa kutemukan.
"Miss Watson? Apa yang kau lakukan di sini?" sapa Paman Kusir, yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Eh, anu. Tadi aku ingin melihat daerah sana ... dan ... aku ... tersesat."
"Ya, Tuhan! Bagaimana itu bisa terjadi? Mr. Avindale bisa membunuhku kalau sampai tahu. Ayo, ke mari!" ajaknya menuju kereta kuda yang tadi kutumpangi bersama Tatiana. "Benahi dulu penampilanmu di dalam. Baru kemudian, kau bisa muncul ke hadapan Mr. Avindale. Tolonglah, ini demi kebaikan kita."
Paman Kusir membukakan pintu kereta untukku.
__ADS_1
"Baik, Paman. Terima kasih, banyak," ujarku sembari masuk. Setelah menutup.kelambu kereta, aku membenahi pakaian. Untung saja isi ransel masih menyisakan satu perangkat alat mandi. Buru-buru melepas wih, kukeringkan rambut dengan handuk.
Setelah melilitnya dengan handuk di atas kepala, kuoleskan pelembab dan sebagainya untuk memperbaiki penampilan. Saat mengoleskan lipstik, mendadak aku teringat saat bibir pria tadi mendarat di sana.
Aku menggeleng cepat-cepat. Ini tidak mungkin terjadi. Baru saja aku meletakkan peralatan make up dan mengemas kembali semua barang, mendadak pintu kereta diketuk.
"Miss Watson, are you alright?" Suara Paman Kusir terdengar
"Iya, aku baik-baik saja masih perlu mengeringkan rambut," jawabku setengah berteriak.
"Iya, biarkan dia masuk."
Setelah mengatakan itu, aku kembali membuka lilitan rambut dan menggosoknya dengan cepat. Sekarang sudah setengah kering, tapi lumayanlah daripada tadi—cukup basah dan terasa gatal. Sesampainya di rumah nanti aku harus keramas ulang.
Ketukan di pintu kereta cukup membuatku kaget.
"Adel? Kata paman kamu di dalam?" teriak Tatiana.
__ADS_1
"Iya, sebentar!" Kubuka kunci pintu.
Sedetik kemudian, si Tatiana merangsek masuk. "Tell me the whole stories, Miss Watson! Kenapa kau kembali? Bukanya kau bilang ingin melarikan diri?" cerocosnya menginterogasi.
"Tenanglah Miss Leverton. Aku hanya sedikit tidak beruntung. Tempat pertama yang kunjungi, ternyata sudah jadi.properti orang. Padahal aku sangat yakin, waktu kami ke sana, Mama bilang kalau tanah itu miliknya." Aku menghentikan gerakan mengeringkan rambut, lantas mengambil sisir. "Sepertinya hal milik tanah itu berpindah dengan cepat."
Tatiana mengangkat bahu. "By the way, bagaimana kau bisa tahu jika hak milik tanah itu sudah berpindah? Apa kau bertemu seseorang?"
"Yah, itulah, Dear. Orang itu sedikit mengintimidasi pula. Jenis-jenis Tuan Tanah yang arogan dan sok kuasa." Mendadak bayangan pria tadi kembali melintas.
"Hemm, kelihatannya ada yang belum kau ceritakan padaku, Adel?" tanya Tatiana dengan nada menyelidik.
"Satu kesialan tidak harus merusak harimu bukan?" tanyaku beretorika. "Sudahlah, tidak penting."
....bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, like, komen dan vote ya. Tengkyu 🥰
__ADS_1