
Sir Lucas Kingston, Duda 32 tahun, rambut coklat, mata biru 190 cm.
.....
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara seorang laki-laki membuatku menoleh. Serta merta kusembunyikan batu sebesar ujung jempol itu dalam genggaman.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah berdiri di bibir danau. Apakah dia makhluk penunggu danau atau manusia? Logikaku bicara, menganalisisa siapa orang itu, mungkin aku terlalu terhanyut dengan alam, sehingga tidak mendengarnya datang?
Laki-laki yang hanya mengenakan jeans belel itu memandangku tanpa berkedip. Usianya mungkin sama dengan Uncle John. Rambutnya yang coklat tampak berkilau, serasi dengan warna kulitnya yang agak gelap. Dari tatapannya, terlihat jelas kehadiranku tidak disukainya.
"Sekali lagi. Apa yang kamu lakukan di sini, Miss? Ini adalah properti pribadi."
Aku terkejut mendengar kalimatnya. Kukira tempat ini sangat tersembunyi, hingga hanya aku dan Mama yang tahu. Apakah benar properti pribadi? Mungkin aku belum paham waktu itu.
"Eh, aku ... aku hanya ingin minum air, Sir."
"Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanyanya lagi.
"Emmm, lewat lorong dari Umpherston Sinkhole," jawabku kikuk.
__ADS_1
Laki-laki itu sedikit terkejut, tapi kemudian berjalan mendekat."Oh, ya?"
Aku mengangguk takut-takut. Tanganku yang menggenggam batu merah, terasa mulai berkeringat. Segera saja kuselipkan batu itu ke saku celana.
Ia berhenti saat jarak kami tinggal selangkah lagi. Bayangan tubuhnya jatuh menutupiku, ia sangat tinggi. Aku harus mendongak melihat matanya yang biru.
"Wajahmu sepertinya tidak asing," ujarnya.
Oh, tidak! Wig rambut hitamku.
"Mungkin Anda salah orang." Buru-buru aku menunduk.
"Maaf, kalau saya telah memasuki wilayah ini tanpa izin. Saya akan kembali ke Umpherston Sinkhole," lanjutku.
Tanpa menunggu persetujuannya, kulangkahkan kaki hendak pergi. Namun ....
"Tunggu, Miss!" Tangannya mencekal lenganku dengan tiba-tiba.
Langkah kaki yang belum menapak sempurna pada tanah berkerikil di tepi danau, membuat keseimbanganku hilang. Sisi tubuhku yang ditarik, ambruk ke dada bidangnya.
__ADS_1
Mungkin karena tidak siap menerima momentum tumbukan yang tiba-tiba, tubuh laki-laki itu ikut terdorong ke belakang. Lalu tanpa bisa dicegah, kami berdua jatuh ke air. Dia mendarat dengan punggung, sementara punggungku berada di atas dadanya.
Tubuh kami terbenam sesaat dalam air, seolah berdansa dalam gerakan lambat. Satu lengannya melingkari tubuhku dan tangan yang lain berkait di atas perutku. Aku berada dalam kondisi setengah sadar, saat dia berusaha bangkit dan mendorong tubuhnya untuk naik ke atas.
Kini kami berdua sudah keluar dari air yang hanya sebatas dada. Masih dalam kondisi terengah-engah mengatur napas, kurasakan dadanya yang keras menempel pada punggungku yang basah. Sementara itu aku terduduk di antara kedua kakinya. Dia masih belum melaporkan pelukannya dari belakang.
"Perfect!" umpatku kesal.
"Ya, posisi ini sangat sempurna?" Embusan napasnya terasa hangat di telingaku saat mengatakannya.
"Lepas!" Aku meronta, berusaha melepaskan lilitan lengannya yang terasa semakin erat.
Namun tanpa kuduga, dia melepasku juga.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku segera berdiri. Merutuki nasib pakaianku yang kini basah kuyup, tiba-tiba saja emosiku seperti tersulut. Sambil berkacak pinggang, aku segera berbalik menghadap pria itu.
Eh, ternyata dia masih saja duduk santai berendam.
"Kamu sengaja, kan?" bentakku.
__ADS_1
...bersambung....