
Jangan lupa like, komen, dan kasih vote ya
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.....
Dia mendengkus. "Yah, yah, outdoor selalu membuatmu menggila, Adel."
"Kau tahu kan, seandainya aku boleh memilih lahir di mana?" tanyaku beretorika.
"Yayaya, di sebuah keluarga petani, atau pemburu. Yang setiap hari keluar rumah untuk mencari makan," dia menghela napas,"kenapa kau tidak jadi manusia hutan saja?"
"Oh, itu terlalu ekstrim, Tatiana. Dan kau tahu?"
Dia mengangkat bahu.
"Aku sudah tidak sabar untuk melarikan diri dari acara debut yang sudah diatur paman. Aku tidak perlu menikahi seorang bangsawan. Aku ingin menjadi petualang."Â Sebuah tas ransel yang berisi perlengkapan baju secukupnya serta uang tabungan yang tidak seberapa sudah kupersiapkan jauh-jauh hari.
__ADS_1
"Jangan berpikir begitu, Adel. Setiap gadis tentu ingin bertemu seseorang, jatuh cinta, dan menikah. Memang kita bukan lagi tinggal di London, tapi tidak pula bisa mengubah tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Hanya itu cara terhormat untuk mendapatkan suami." Tatiana mengatakan itu sambil menerawang jauh. Sangat jelas terlihat di wajahnya, jika young lady di sebelahku ini sangat berpikiran kolot.
"Maaf mengecewakanmu Tatiana, tapi aku bukan berasal dari London," terangku, mengingatkannya. Mencari suami bukanlah prioritasku saat ini.
"Yaya, aku tahu. Tapi setidaknya pamanmu adalah seorang bangsawan dari Inggris." Tatapannya saat mengatakan itu sungguh menjengkelkan.
"Tapi aku bukan!" sanggahku. Lagi pula, siapa yang ingin hidup terkungkung bertahun-tahun di sebuah rumah, dengan pria bangsawan membosankan, dan membesarkan anak-anaknya? Huh!
"Ehem! Young Lady Watson dan Young Lady Leverton, ada yang bisa saya bantu?" sapa Mr. Avindale yang tiba-tiba sudah berjalan ke arah kami.
"Oh, tentu tidak, terima kasih. Kami sedang berkemas," jawabku santai.
Setelah memberikan anggukan sopan, guru lukisku itu undur diri. Kini hanya ada aku dan Tatiana di sanggar. Segera saja aku mengeluarkan buku puisi dan meletakkannya di tangan Tatiana.
"Aku mencintaimu, Adelaide," ucap Tatiana sembari memeluk buku itu. Rambut hitamnya yang ikal gantung bergerak-gerak ketika dia menggoyangkan buku itu seolah benda paling berharga.
"Berikan padaku surat itu," ujarku.
__ADS_1
Dengan tersenyum lebar, dia mengeluarkan sebuah gulungan perkamen. Yah, sebuah identitas baru, yang menyatakan namaku adalah Rachel Black Leverton, sepupu jauh dari Tatiana.
"Gunakan itu sebaik-baiknya Adel! Maksudku, jangan mencoreng nama keluarga kita," ujarnya seraya memberikan surat keterangan itu.
"Jangan khawatir, sepupu. Aku hanya ingin bebas dari acara seremonial itu saja. Setelah musim perjodohan itu usai, aku akan kembali ke rumah paman." Aku membuka perkamen itu dan melihat cap keluarga Leverton tersemat pada lilin segel berwarna merah.
"Thank you Tatiana, kamu memang saudari yang tidak pernah aku punya.
"By the way, jaga dirimu Adel. Jangan percaya siapa pun di luar sana," ujarnya memperingatkan aku.
"Tentu saja, my Lady," jawabku seraya memberi penghormatan dengan sopan.
"Oke, sekarang mari kita bersenang-senang di luar sana!"
"Berangkaaatt!" ucapku sangat bersemangat. Kami pun memakai topi brokade yang sesuai dengan gaun harian masing-masing, lantas berjalan dengan anggun ke luar kelas.
Aku dan Tatiana sedang menjalankan satu misi rahasia. Sedangkan pamanku sama sekali tidak tahu hal ini. Aku sudah meninggalkan surat di meja rias, yang mengatakan padanya bahwa aku menginap di rumah peristirahatan Tatiana selama musim panas.
__ADS_1
....Bersambung ....