
Langsung aku menyeret Tatiana ke meja yang terdekat dengan kami. Sementara yang lain berebutan semeja dengan meja Mr. Avindale dan Sir Kingston.
Dua gadis berhasil, sisanya mengambil meja di dekat mereka. Namun, justru posisi dudukku berseberangan langsung dengan pria itu. Saat hendak pindah tempat, Alea dan Freya mengambil dua kursi kosong. Jadi, aku terjebak di tempat yang sangat tidak strategis ini.
"Yah, mereka sangat beruntung," kata Freya, memandang iri pada Samantha dan Dorothy yang semeja dengan tuan rumah.
"Tuan rumah yang sangat tampan," celetuk Freya.
"Kuharap dia masih single," tambah Tatiana.
Lalu mereka bertiga cekikikan sembari mencuri pandang ke arah Lucas. Ah, kenapa nama depannya sangat nyaman diucapkan?
Aku sudah berusaha menahan diri untuk tidak memandang lurus ke depan. Namun, sangat sulit untuk tidak melakukannya. Perlahan aku menatap dengan gerakan sewajar mungkin. Sepasang mata elang di seberang mengunci pandanganku. Iris birunya bagai lautan dalam yang menyembunyikan semua emosi, penuh misteri. Walau begitu, dalam jarak yang begitu dekat, justru membuatku terhanyut dan lupa di mana aku berpijak.
"Di melihat kemari!" pekik Freya, membuyarkan konsentrasi. Segera aku membuang pandang ke tempat lain. Mengamati para pelayan yang sedang membawa nampan untuk menyuguhkan hidangan.
__ADS_1
"Oh, tidak. Dia ke mari!" tambah Alea histeris.
Aku menoleh. Benar saja, pria itu menatap lurus padaku sembari melangkahkan kaki.
Tidak! Dia tidak mungkin mengenaliku. Dia tidak boleh mengenaliku.
"Eh, aku ingin ke toilet," ujarku buru-buru berdiri.
"Di sebelah sana, Miss. Mari saya antarkan," kata seorang pelayan perempuan yang telah selesai meletakkan hidangan.
"Terima kasih," ujarku, lantas berjalan mengikutinya.
Gawat! Ini benar-benar gawat.
"Di sebelah sini, My Lady," kata pelayan itu, menunjuk dinding partisi yang menutupi sebagian pintu toilet. Kami tadi melewati satu koridor terbuka dan berakhir di sebuah ruangan tertutup.
__ADS_1
"Terima kasih, kau boleh kembali bertugas," jawabku sopan.
Aku menghempaskan diri di balik pintu kamar mandi. Berusaha mengatur napas dan memikirkan siasat agar bisa menghindar dari Sir Kingston. Namun, tidak mungkin aku bersembunyi di toilet sampai jamuan makan siang berakhir. Apalagi, perut sudah mulai protes. Energi untuk petualangan yang gagal pagi tadi, cukup besar.
Segera aku menuju wastafel, menatap pantulan wajah di cermin sembari memutar otak. Aku membasahi tangan, lantas menepuk-nepuk pipi. Sensasi dinginnya kuharap bisa menenangkan pikiran.
Oke, baiklah! Aku menarik napas seraya memberi afirmasi. Bersikap biasa saja di hadapannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tetap menyangkal jika dia sampai melakukan konfrontasi. Yes, aku pasti bisa!
Setelah kepercayaan diri terkumpul, aku keluar dari toilet. Namun saat melewati dinding partisi, tiba-tiba terdengar seseorang berdeham. Aku spontan menoleh.
Lucas, maksudku Sir Kingston sudah berdiri di sebelah pintu keluar "Sengaja menghindar?"
"Pardon me? Maaf, jika saya lancang ke toilet saat Anda menghampiri meja, Sir. Saya sangat menghormati Anda seperti menghormati guru saya, Mr. Avindale," ucapku formal.
"Hemm, jika aku tidak salah, kita sudah pernah bertemu sebelumnya .... ." Ucapannya jelas menggantung, mencoba memancingku.
__ADS_1
...bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote. Semoga suka 🥰🥰🥰