
.....
"Kamu sengaja, kan?" bentakku.
Matanya memicing, seolah mengulitiku dari atas ke bawah dengan sengaja. Tanpa kuduga, satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Lalu beberapa saat kemudian ia bergegas bangkit dan berdiri. Lagi-lagi jarak kami terlalu dekat, sampai-sampai aku harus mendongak untuk menatap wajahnya.
"Kalau iya kenapa?" Dia bersedekap, lalu matanya kembali menjelajah turun.
"Dasar, tidak sopan!" umpatku sambil menyilangkan tangan di depan dada. Sedari tadi aku tidak menyadari kondisiku yang basah kuyup, membuat lekuk tubuhku tercetak sempurna.
Mendadak dia meraih tubuhku dengan kedua lengannya. "Tidakkah kau tahu posisimu, Miss?" Matanya masih menatapku tajam.
Seketika nyaliku menciut. Seluruh situasi ini kembali menampar kesadaranku. Kami hanya berdua di tempat tersembunyi--properti pribadinya. Walau dia melakukan sesuatu padaku, tetap saja aku menjadi pihak yang salah.
"Lepaskan aku!" Sekali lagi kutatap dia lurus-lurus dengan nada mengancam.
"Kalau tidak?"
"Aku akan teriak!" semburku.
__ADS_1
"Coba saja, Miss. Aku ingin mendengar seberapa kencang teriakanmu," katanya sambil mencondongkan wajahnya.
Aku mencoba menambah jarak kami, dengan meletakkan tangan di dadanya. Namun, sia-sia. Dia kini meraih leher belakangku, dan membuatku menengadahkan muka.
"Apa maumu! Lepaass! Lep--"
Teriakanku langsung teredam begitu dia membenamkan bibirnya dengan kasar. Aku tertegun.
Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Ini hanya mimpi buruk! Dicium oleh pria asing di sebuah tempat antah berantah. Itu hanya terjadi di dalam mimpi bukan?
Namun, sentuhannya yang menuntut bibirku untuk membuka, membuatku sadar jika ini nyata. Aku masih bisa melihat alis matanya yang tebal, dan mata birunya yang tetap terbuka.
"Awwww!" Dia mengerang kesakitan dan otomatis pegangannya padaku terlepas.
Tidak membuang kesempatan, aku pun menjauh dari jangkauannya. Lalu secepat kilat menyambar sepatu dan berlari menuju arah aku datang tadi, tanpa menoleh. Napasku masih terengah-engah saat berhenti tepat di atas tebing. Dari kejauhan, kulihat pria itu hanya berdiri memandangku. Dia tidak mengejar rupanya.
Namun begitu, bayangan kejadian di danau tadi memenuhi isi kepalaku. Ingatanku yang terlalu tajam, sangat menyebalkan dalam keadaan seperti ini. Gambaran detil wajahnya, senyumnya, juga perlakuannya masih tercetak jelas di ingatan. Segera saja kubersihkan mulut dengan lengan baju, untuk menghapus bayangan tadi. Sia-sia saja!
Akhirnya aku segera memakai ransel dan sepatu, walau kakiku terasa perih. Sebelum dia menangkap dan memperkarakan aku karena masuk properti orang tanpa izin, aku harus segera pergi dari tempat ini. Tergesa-gesa aku menyusuri lorong, dan segera keluar dari gua itu. Meski napasku masih memburu, segera saja aku mencari satu tempat tersembunyi untuk menukar pakaian. Baju basah kuyup ini, akan menimbulkan banyak masalah.
__ADS_1
Batu merah dari danau, rupanya masih tersimpan aman di saku. Segera saja kusimpan batunya dan meninggalkan pakaian basah di sana. Tidak mungkin aku membawa pakaian basah itu. Kelihatannya, aku harus kembali ke rombongan Mr. Avindale.
Rencana untuk melarikan diri kali ini, benar-benar gagal total!
Dengan kesal aku segera memakai kembali wig rambut hitam, lalu bergegas mencari tempat rombongan kereta kuda untuk bergabung dengan peserta lainnya.
... bersambung ...
🥰🥰🥰🥰🥰
Nah, sampai di sini bagai mana menurut kalian?
menarik tidak?
kalau menarik, akan kulanjutkan ceritanya.
ditunggu yaaa, saran kritik, komen dan jangan lupa tap like dan juga vote
tengkyuu....
__ADS_1