Terjebak Cinta Sang Tuan Tanah

Terjebak Cinta Sang Tuan Tanah
12


__ADS_3

....


"Hemm, jika aku tidak salah, kita sudah pernah bertemu sebelumnya .... ." Ucapannya jelas menggantung, mencoba memancingku.


"Maaf, ini pertama kalinya saya kemari," jawabku tanpa menatap matanya.


"Oh, ya? Tapi Nona, aku merasa pernah melihatmu sebelumnya."


"Mungkin Anda salah orang, Sir."


Dia tidak menjawab, tapi langkah kakinya mendekat. Aku bergeming, menatap ke luar pintu. Sekuat tenaga berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kehadirannya. "Saya bukan tipe yang mudah melupakan seseorang, Miss," katanya setelah jarak kami cukup dekat.


"Dan saya juga bukan tipe yang terlalu memikirkan hal-hal sepele, Sir," bantahku


"Hmmm, menarik. Namun, melewati batas properti pribadi seseorang adalah bukan hal yang sepele. Apalagi jika bisa sampai masuk penjara."


Aku terbelalak mendengar ancamannya. Namun tetap berusaha untuk biasa saja. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan."


Mendadak dia mendorongku ke dinding partisi, serta memerangkapku dengan kedua lengannya. Seketika itu penciumanku diselimuti oleh aroma mint dan kopi. "Aku bicara tentang seorang gadis berambut merah yang menyusup ke daerah pribadiku," kata-katanya lirih, tapi tegas.


"Maaf, Anda salah orang." Aku mendongak, menantangnya.


"Well, well, well. Rupanya masih tidak mau mengaku." Tangannya meraih pipiku, lantas mengambil sejumput rambut.

__ADS_1


Oh, tidak! Ada sebagian rambut asliku yang tidak tertutup wig.


"Sudah kubilang, aku tidak mudah melupakan seseorang, Nona," ucapannya mengirimkan getaran yang membuat seluruh buku kudukku berdiri.


"Ma-maaf, Tuan. A-aku sudah ditunggu teman-teman," kataku setelah berhasil mengumpulkan keberanian.


"Kau tidak akan ke mana-mana sebelum mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu, Nona."


Pandangan matanya menghujam, hingga detak jantungku semakin berlompatan.


"Tapi, a-ku, aku ... ."


"Anda ingin masuk penjara?"


Mataku terbelalak seketika. "Pe-penjara?"


Aku menelan ludah dengan susah payah.


"Dan ... kau pernah ke penjara?" tanyanya, dengan nada rendah yang mengintimidasi.


Entah karena menggeleng cepat-cepat, atau karena pengaruh ancaman pria ini, membuatku sedikit pusing.


"Percayalah, penjara itu bukan tempat yang cocok untuk seorang gadis. Di sana hanya ada sekumpulan pelaku kriminal. Aku tahu itu, karena pernah di sana."

__ADS_1


Mati aku! Ya, kali ini aku tamat.


"Jadi, apakah kau mengakui kesalahanmu Nona?"


"Baik-baik, aku mengaku!" jawabku putus asa.


Bibirnya membentuk garis lurus. Bukan sebuah senyuman, tapi lebih seperti sikap meremehkan.


"Jelaskan padaku, kenapa kau masuk tanpa izin! Apakah kau sengaja ingin memata-mataiku? Siapa yang mengirimmu?"


Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh Lucas.


"Apa maksudmu? Aku bukan mata-mata! Aku hanya ... hanya ... ."


"Hanya apa? Teruskan!"


Aku tidak mungkin mengatakan padanya jika dulu aku tinggal di sini. Uncle John sudah mewanti-wanti agar aku tidak pernah menyebutkan identitas lamaku. Terutama pada orang asing. Jika tidak, para tentara merah akan membawaku pergi.


"Nona, bisa kau jelaskan apa urusanmu melewati batas tanah milikku?" Lucas makin mencondongkan tubuh. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku. Embusan napasnya yang memburu, semakin membuatku susah konsentrasi.


..... bersambung .....


Gimana, seru bukan?

__ADS_1


**Jangan lupa tinggalkan jejak komen, like, juga vote ya 🥰


Semoga suka 🙏🥰**


__ADS_2