
#ADEL#
"Bagaimana, Lady Watson?" tanya Mr. Avindale lagi.
"Ba-baiklah, aku ikut," jawabku akhirnya.
"Excellent. Satu poin tambahan untuk laporan hasil belajarmu, Nona," ucapnya penuh arti.
"Terima kasih, Mr. Avindale," jawabku dengan senang hati. Ya, laporan kepada Uncle John tentang perkembangan belajarku. Jika Mr. Avindale memberikan penilaian positif, tentu akan sangat membantu.
Aku tidak begitu memperhatikan Mr. Avindale yang menanyai tiga gadis lainnya. Sepertinya mereka sudah punya acara sendiri dengan keluarga, sehingga tidak bisa ikut berpartisipasi.
__ADS_1
Perhatianku sedikit teralihkan, saat mendapati sosok Sir Lucas yang mengamati dari lantai dua. Jelas-jelas dia menatapku. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang terlihat jelas dari sini. Kedua tangannya memegangi teralis di balkon. Setelah mendapat perhatianku, tangannya bersedekap. Aku tidak bisa mengartikan maksudnya, tapi aku tahu dia sedang merencanakan sesuatu.
Apalagi urusan pelanggaran wilayah tadi belum selesai. Kuharap, pada akhir kunjungan ini dia mau melupakan semuanya. Semoga saja.
"Baiklah, Ladies. Mari sekarang kita menuju galeri pribadi Sir Lucas di lantai dua." Mr. Avindale berbalik. Lantas mendongak. "Nah, itu dia. Sir Lucas sudah menunggu kita. Mari, ikuti saya," ujar guru seniku itu sembari bejalan lebih dulu.
"Waah, dia sangat tampan," celetuk Samantha.
"Tenanglah, Adel, pelan-pelan jalannya. Kita tidak sedang lomba lari," protes Tatiana begitu hanya kami berdua yang berada di belakang Mr. Avindale. Para gadis yang lain tertinggal karena langkah mereka terlalu lambat. Sementara guru seniku itu memang bukan orang yang suka santai. Dia kerap kali terburu-buru jika berjalan. Bahkan sering tersandung.
"Aku hanya ingin semuanya segera selesai My Dear. Aku ingin menghabiskan liburan dengan bermalas-malasan di tempatmu," jawabku jujur.
"Yah, kau memang terlalu bersemangat Nona ... untuk hal-hal yang tidak penting."
__ADS_1
Aku tergelak, tapi buru-buru menutup mulut. Walau begitu, Tatiana akhirnya mengakui semangatku juga. "Sangat mudah membuatku bahagia bukan?"
Tatiana hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, memaklumi.
Aku terpesona begitu masuk ke dalam ruang utama. Selain sangat luas dekorasinya cukup memikat. Vintage, sepertinya ini interior asli victorian yang sama sekali tidak mengalami perubahan atau renovasi. semua barangnya antik mulai dari kursi karpet meja serta beberapa lukisan yang ditata secara estetik. Langit-langitnya berbentuk kubah dan juga diberi lukisan. Satu set lampu kristal gantung menghiasi tengah ruangan yang biasanya digunakan sebagai ballroom saat pesta dansa. Tirai-tirai tebal berwarna marun dengan tatanan dan rumah yang sangat cantik menutup tiap jendela yang besar dan tinggi.
Di ujung ruangan terdapat ruangan lain yang lebih kecil kemudian Mr. Avindale berbelok ke kanan menuju tangga melingkar. Aku dan Tatiana menapaki tangga itu satu persatu yang berujung pada balkon lantai atas. Masih mengikuti guru seni itu, kami berbelok ke kanan menuju satu ruangan. Kedua daun pintunya terbuka lebar menampakan satu ruangan yang cukup terang. Seluruh dinding-dindingnya dipenuhi dengan lukisan. Selain itu terdapat juga partisi yang ditata berjajar dan pada partisi tersebut digantung juga beberapa lukisan.
"Selamat datang kembal," sapa Sir Lucas pada Mr. Avindale.
"Terima kasih, sahabatku. Jadi manakah lukisan yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Mr. Avindale.
---bersambung---
__ADS_1