Terjebak Cinta Sang Tuan Tanah

Terjebak Cinta Sang Tuan Tanah
9


__ADS_3

....


"Satu kesialan tidak harus merusak harimu bukan?" tanyaku beretorika. "Sudahlah, tidak penting."


Dua ketukan di jendela, terdengar tiba-tiba. Sebagai tanda jika kereta akan segera berangkat.


"Kita mau kemana?" tanyaku, seraya membuka lilitan handuk di kepala.


"Mr. Avindale dapat undangan jamuan makan siang dari temannya. Tempatnya tak jauh dari sini. Jadi kita semua akan dapat makan siang gratis," jelas Tatiana.


"Bagus! Aku sudah lapar," timpalku.


Setelah rambutku hampir kering, segera kusisir dan mengikatnya. Kemudian, kupasang kembali Wig rambut hitam. Tatiana cukup lihai melakukan hairdo, sehingga wig rambut hitamku tidak terlalu berantakan.


"Nah, beres. Gadis hutan," kata Tatiana jenaka.


"Thank you milady," balasku.


"Wow, wow." Aku segera berpegangan. Mendadak kami berdua sedikit oleng, saat kereta berbelok. Spontan aku melihat keluar jendela. Rupanya kami sudah memasuki gerbang Manor.


"Sepertinya kita sudah sampai," kata Tatiana.

__ADS_1


Empat kereta kuda di depan sudah terparkir di halaman yang sangat luas. Ada beberapa pohon besar, yang memiliki daun rimbun, sehingga terkesan asri dan teduh. Kereta kami adalah urutan ke lima yang sampai. Di belakang masih ada satu kereta lagi. Jadi total enam kereta, termasuk milik guru lukisku, Mr. Avindale.


"Ayok, turun," kata Tatiana penuh antusias.


Aku hanya mengangguk mengiyakan, masih berusaha untuk mengingat. Benar saja, saat sudah berada di luar kereta, sepertinya aku yakin pernah tinggal di sini. Maksudku ini bukan seperti deja vu, tapi benar-benar ke sini secara fisik.


"Nice place," celetuk Tatiana.


Kami berdua berjalan ke arah teman-teman lain berkumpul. Sepuluh orang siswa dan satu orang guru lukis, terpesona oleh keindahan halaman depan Manor.


"Oke, Ladies. Kita hadir hari ini adalah untuk memenuhi undangan dari seorang sahabatku. Beliau adalah pemilik tanah di sekitar sini, termasuk juga di dekat kita melukis tadi. Selain itu, dia juga suka melukis dan memiliki galery khusus di rumahnya. Mungkin nanti jika beruntung, kita diperkenankan untuk melihat-lihat beberapa koleksinya," jelas Mr. Avindale.


"Pasti Tuan Tanah itu sudah tua dan bungkuk," celetuk Tatiana, sedikit lirih.


"Lady Watson, Lady Leverton, adakah sesuatu yang lucu?" tanya Mr. Avindale.


"No, Sir!" jawab kami sembari menahan tawa.


"Oke, jaga attitude kalian," ujarnya memperingatkan.


"Baik, Mr. Leverton," jawab Tatiana seraya menekuk lutut memberi hormat. Ah, iya, aku buru-buru mengikuti gerakannya. Sungguh, Tatiana adalah Lady sejati.

__ADS_1


Saat aku kembali pada posisi tegak, terlihat seorang pria yang tidak asing. Dia sedang berjalan mendekat. Serta Merta aku mendelik melihat orang itu.


Menyadari kedatangan pria tersebut, Mr. Avindale segera menyambut.


"Sir Lucas!" panggilnya.


"Mr. Avindale," balas pria itu.


Mereka bersalaman lantas berpelukan singkat. Khas seperti pertemuan teman lama.


Aku beringsut ke belakang Tatiana, berusaha menyembunyikan diri. Gawat ini, gawat!


"Gorgeous," puji Tatiana, sebelum menyadari aku sudah tidak berada di sampingnya, "kamu lihat dia, Adel?"


"Iya, aku lihat," jawabku dari belakang.


Tatiana berbalik, lantas memandangku dengan tatapan aneh,"Sedang apa kamu di belakangku?"


"Nothing, mengagumi patung taman," jawabku asal, menunjuk dua patung bangau yang berada di tengah kolam. Pose leher mereka membentuk formasi love.


"Dasar aneh! Ada pria tampan di depan, dan kau malah mengagumi patung taman?" Tatiana kembali berbalik.

__ADS_1


....bersambung ....


__ADS_2