
#ADEL#
Kami semua cukup terkejut dengan pengumuman yang dibuat oleh Mister Avindale. Namun belum sempat menanggapi tiba-tiba terjadi peristiwa yang lebih mengejutkan. Aku tidak menyangka Sir Lucas sekasar itu. Di depan orang banyak dia menyeret Guru kami seolah tidak ada penghormatan sedikit pun.
Jika di benar-benar seorang bangsawan, tidak selayaknya bersikap demikian. Atau, jangan-jangan dia memang tipe tuan tanah yang otoriter? Sepertinya kesimpulan keduaku yang benar. Mengingat sikap dia tadi pagi saat di Secret Garden, juga penghadangan di toilet. Bisa dipastikan dia memang tidak memiliki attitude yang baik.
"Mengerikan," ucap Tatiana. Dia pasti sepemikiran denganku.
"Kasar," sahut Freya.
"No manner," imbuh Samantha.
"Nah, sudah jelas kan? Dia memang bar-bar!" geramku.
__ADS_1
Tanpa terduga tiga gadis tadi serempak menghadapku. "Apa?" tanyaku bingung.
Pandangan mata mereka penuh selidik. Hanya Tatiana yang memberi kode kalau aku kelepasan omong.
"Memangnya, kau diapakan olehnya?" tanya Freya.
Waduh! "Ng-tidak. Aku hanya berkomentar berdasarkan peristiwa barusan," elakku. "Memang bar-bar, kan?"
Untunglah perhatian kami kembali terpecah saat Mr. Avindale kembali. "Maaf atas interupsinya tadi. Ada sebuah kesepakatan yang perlu ditegaskan antara aku dan Sir Lucas. Oke, sampai mana pengumumanku tadi?"
"Aku sangat ingin, Mr. Avindale. Tapi—" sahut Samantha.
"Tunggu sebentar nona-nona. Anda-anda tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti penawaran ini. Hanya saja saya memang benar-benar menginginkan kandidat yang serius. Oleh karena itu sisa siang ini kita gunakan untuk melakukan kompetisi. Jadi siapa pun yang lolos nanti dia berhak mendapatkan liburan selama musim panas di Manor Sir Lucas," jelasnya lagi.
"Kompetisi?" Riuh rendah para gadis saling bersahutan.
__ADS_1
"Oke jadi kompetisinya sederhana. Tolong dengarkan baik-baik," kata Mr. Avindale menenangkan kami semua. Setelah suara gaduh itu terhenti dia melanjutkan berbicara, "Saya sengaja diundang Sir Lucas untuk menaksir dan meneliti tentang sebuah lukisan kuno. Jadi, barang siapa yang bisa memberi penjelasan lebih baik atau mendekati dengan taksiran saya, maka dialah yang menang. Juri kompetisi kali ini adalah saya dan tentu saja. Sir Lukas sebagai pemberi hadiah."
Mr Avindale melihat kami satu persatu, lantas entah kenapa tatapannya tertuju padaku. Seolah-olah dia mengatakan bahwa aku harus siap untuk menghadapi kompetisi ini. Padahal aku sama sekali tidak berminat.
"Oke Ladies, silakan siapa saja yang berminat boleh tunjuk jari," katanya lagi.
Beberapa Lady yang mengangkat tangan adalah Tatiana, Freya, Samantha, Elia, Dolores, juga Carmen.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, bagaimana dengan sisanya?" tanya Mr. Avindale padaku.
"Maaf, Mr Avindale. Aku tidak terlalu pandai dalam urusan ini," jawabku jujur.
"Oh, tidak mengapa. Kau hanya perlu memberi penilaian sebisamu. Kecuali kau ada acara penting selama musim panas."
Mendengar perkataan Mister Avindale, aku langsung teringat pada acara debut yang diatur oleh Uncle John. Sengaja aku ingin menghindari acara itu, mengubah identitas, dan melarikan diri serta bersembunyi dengan bantuan Tatiana. Jikalau memang Tatiana ikut acara ini, maka mau tidak mau aku harus ada di sini juga sebagai alibi. Jika tidak, tentu saja Uncle John pasti menjemputku pulang dan memaksa untuk hadir dalam acara debut tersebut.
__ADS_1
---bersambung----