
SIR LUCAS KINGSTONE
...
"Try me," jawabku tegas. "Kau memaksaku memilih. Jadi, tolong beritahukan pada aunty Regina, jika aku sudah punya pilihan. Aku punya hak untuk memilih sesuka hatiku bukan?"
Puas rasanya membalas perlakuan Avindale. Lagi pula aku dan gadis itu punya sedikit masalah yang harus diselesaikan. Win-win solution.
"Okey, if that was your choice. Tapi tolong, jangan mengeluh jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujarnya memberi peringatan.
"Kemungkinan terburuknya adalah dia yang akan menderita, bukan aku," jawabku pelan dan tegas.
"Oke. Let's do the business then," ucap Avindale sambil melangkah pergi. Dia meletakkan gelas di salah satu meja, lantas menghampiri gadis yang kumaksud. Siapa namanya tadi, Rachel, atau ... entahlah.
"Girls! Attention please!" teriak Avindale sembari menepukkan kedua telapak tangan. Sangat tidak elegan. Harusnya dia menghasilkan suara menggunakan gelas dan memukulnya dengan sendok untuk menarik perhatian.
Seluruh perhatian para gadis, kini tertuju pada Avindale, termasuk juga Rachel.
"Baik, terimakasih Ladies. Untuk kunjungan kita kali ini, selain menjamu dengan makan siang, Sir Lucas juga menawarkan sebuah liburan gratis di Manor. Seperti kalian tahu, bahwa musim panas akan sangat menyenangkan jika diisi dengan berbagai kegiatan. Ada banyak tempat bagus di sini untuk membuat karya lukis yang indah. Jadi, bagi siapa pun yang beruntung akan mendapatkan kehormatan untuk tinggal di sini selama musim panas, jika mau."
Hah? Aku tidak pernah menawarkan apa pun!
Tepukan tangan dan suara riuh rendah terdengar seperti sorakan dukacita bagiku. Bagaimana bisa Avindale malah menjerumuskan aku dalam situasi seperti ini. Ini tidak bisa dibiarkan!
__ADS_1
Aku bergegas menghampiri pria eksentrik yang menjadi sepupu gara-gara bibiku menikahi ayahnya.
"Excuse me Ladies." Dengan satu tangan kuraih kerah kemejanya di bagian belakang. Lantas menyeretnya pergi dari kerumunan para gadis.
"Avindale!" geramku. Kulepas cengkeraman begitu kami sudah agak jauh.
"Oke-oke, Lucas. Dengar dulu." Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Kau ingin aku menaksir lukisan, bukan?"
"Iya, tentu saja. Itu tugasmu!"
"Oke, jadi aku tidak akan memungut bayaran. Tapi, digantikan dengan memberi gadis itu fasilitas liburan di sini. Cukup adil bukan? Aku tahu jika kau pelit," cibirnya.
Kupelototi dia.
Aku mendengkus. "Katakan apa lagi yang harus aku bereskan soal Regina. Sampai kapan aku bisa melepaskan diri dari cengkeramannya! Dia selalu menghantuiku!" geramku kesal.
"Tenanglah, Bro. Dia hanya ingin kau punya keturunan. Dia tidak rela darah Kingstone terhenti padamu. Yah, walaupun dia sudah menjadi istri ayahku, tapi sepertinya kehormatan yang diberikan Ratu pada keluarga kalian menjadi obsesinya. Dia ingin pewaris. Dan kau tahu dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginannya." Avindale memberikan tatapan pasrah padaku.
Yah, bibiku itu memang seorang wanita yang ambisius dan sangat manipulatif. Dia selalu punya cara mendapatkan semua keinginannya. Wanita yang berbahaya.
"Oke, fine. Do what do you need to do! Tapi, hanya satu gadis. Ingat itu!"
"Yeah. Si rambut hitam itu kan?"
__ADS_1
"Kau tidak tahu namanya?"
"Aku hanya tahu nama belakangnya Watson. Otakku terlalu berharga untuk mengingat nama orang yang tidak penting bagiku," jawabnya dengan nada meremehkan.
Watson? Bukankah dia sepupu si blonde?" tanyaku meyakinkan.
"Aku juga tidak peduli pada silsilah keluarga mereka," jawabnya, sungguh menyebalkan.
"Jadi maksudmu kau tidak peduli siapa pun yang akan menjadi istriku?"
"That is your problem to handle, Man. Not mine."
"Yah, kamu cuma peduli pada urusan suplai keuangan," cibirku.
'Yeah, kau sangat mengenalku!" Avindale menepuk-nepuk punggungku.
"Oke. Fine. Keluarkan aku dari masalah Regina, maka kau akan mendapatkan beberapakali ratus dolar di rekeningmu."
"Yes, Sir!" Setelah memberi hormat ala tentara, dia kembali ke kerumunan gadis yang mulai gelisah.
Aku pun berbalik meninggalkan tempat ini. Kepalaku berat
---bersambung----
__ADS_1
Jangan lupa tap love, like dan vote ya 🥰🥰🥰🥰 tengkyuu