
*SIR LUCAS KINGSTONE*
Dia! Ya, aku yakin itu dia! Gadis berambut merah yang tiba-tiba saja muncul di danau. Dia benar-benar membuatku sedikit kehilangan kendali diri. Jika saja bukan karena sepupunya datang, mungkin aku akan mengulangi perbuatan pagi tadi.
Aku tidak menyangka ada yang bisa ke sana. Taman rahasia yang tanpa sengaja kutemukan itu, telah menjadi persemayaman terakhir Marriane dan juga putra kami yang belum.sempat dilahirkan. Tempat itu sangat tersembunyi, dan berada di balik bukit baru. Jika dia tidak berniat memata-matai, tidak mungkin seniat itu untuk naik turun tebing hingga sampai di sana. Aku yakin, dia adalah seorang mata-mata yang dikirim untuk melakukan sabotase. Yah, terlepas dari penampilannya yang cukup menarik, gadis seperti itu pasti sangat licik. Aku harus berhati-hati.
"Sir Kingstone?"
"Oh? Pardon, me," jawabku sedikit terkejut. Panggilan tadi membuyarkan semua pikiran yang baru saja tertata di kepala. Seorang gadis menghampiriku, rupanya mereka sudah selesai makan.
"Anda memiliki Manor yang sangat indah. Saya sangat terpesona dengan detail arsitektur dan penataan interiornya," kata seorang gadis murid Avindale.
"Thank you, Miss," jawabku singkat. "Silakan menikmati hidangan penutup, saya permisi." Aku meninggalkannya di sudut kolam, lalu berjalan ke arah taman. Dari sudut yang cukup tertutup rerimbunan ini aku masih bisa mengamati orang-orang di tepi kolam.
Sejujurnya, aku malas berbasa basi dengan mereka. Undangan makan siang untuk Avindale ini, adalah sebuah kesalahan. Sebenarnya aku hanya mengundang Avindale untuk melihat beberapa koleksi lukisan. Penilaiannya sangat kubutuhkan, sebelum melelang lukisan itu dengan harga pantas. Namun dia malah menjebakku.
__ADS_1
Alih-alih mencari istri untuk dirinya sendiri, Avindale malah menyodorkan murid-muridnya. Entah sampai kapan orang-orang di sekeliling akan berhenti menjodohkanku. Walau gadis-gadis ini adalah para Lady yang jelas sangat terhormat dan punya selera tinggi. Sayangnya, hanya ada satu Lady yang akan menempati posisi tertinggi di hatiku, Marriane. Dia tak tergantikan.
"Tertarik yang mana?" bisik Avindale. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sebelah. Satu tangannya memegang gelas sampanye.
"Seharusnya aku sadar dengan jebakanmu dari awal," balasku.
"Pilih saja, Lucas. Jika tidak, bibimu yang akan memilihkan," katanya lagi.
"Kukira kita sahabat. Tidak kusangka kau berkomplot dengan wanita tua itu." Aku geram dibuatnya. Apalagi membawa-bawa adik Almarhum Ayah yang juga ibu tirinya, Aunty Regina.
"Jangan mempersulit posisiku, Lucas. Kau tahu sendiri kan, if my beloved mother has been angry?" tambahnya, lantas mengangkat gelas untuk bersulang.
"Jika aku menikah, maka akan kupilih lukisan sebagai istri. Kau tahu itu kan?"
"Insane!"
"Hahahaha. That's me!" Dia menyeruput gelas dan mengosongkan isinya.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanyaku, menunjuk gadis yang mengenakan wig hitam. Harusnya dia berambut merah, sewarna bibirnya.
"Mana?" tanya Avindale.
"Gadis yang menghadap kemari, di sebelah si blonde."
"Oh, si trouble maker. Lukisannya seburuk attitudenya. Jangan pilih dia, kau akan membuat ibu tiriku sakit jantung."
Aku memandangnya dengan tatapan 'mendapat ide bagus'.
"No, no, no, you wouldn't dare!" Avindale terlihat panik.
"Try me," jawabku tegas.
---bersambung---
Jangan lupa tap like dan tinggalkan jejak komen yaa 🤗🤗🤗, semoga kalian suka.
__ADS_1
🥰🥰🥰