
"Stop! Paman Kusir, tolong berhenti!" teriak Tatiana, mulai bersandiwara.
Aku menahan tawa dibuatnya. Lady Tatiana sepertinya juga punya bakat akting. Akan kuberitahu dia. Nanti saja, jika semua misiku sudah selesai.
"Ada apa My Lady?" tanya kusir yang segera menghentikan laju kereta.
"Aku ingin keluar sebentar, Paman. Ada bunga bagus di semak sana," ujarnya manja. "Bisakah Paman mengambilkannya untukku?"
"Baik My Lady, biar saya saja yang mengambilnya," balas kusir.
Jika tidak sedang dalam keadaan untuk melarikan diri, mungkin aku akan sangat menikmati drama yang dimainkan Tatiana. Namun, sekarang aku berkonsentrasi untuk segera keluar kereta dari arah berlawanan dengan perginya Paman Kusir, begitu saatnya tepat.
Paman Kusir turun dari tempat duduknya, lantas mendekati jendela kami. "Bunga yang mana, My Lady?"
__ADS_1
"Itu! Croissant kuning sama biru. Aku melihatnya dengan jelas tadi. Coba Paman ke sana, lihat!" kata Tatiana sambil menunjuk satu arah rerimbunan.
"Saya tidak melihat apa pun. Hanya semak hijau," jawab Paman Kusir.
"Bukan yang dekat sini, agak ke sana," imbuh Tatiana.
"Baiklah, saya ke sana sekarang."
Akhirnya! Setelah perdebatan singkat itu, Paman Kusir pun pergi ke arah yang ditunjukkan Tatiana.
"Makasih, Dear. See you!" ucapku singkat sebelum melesat ke luar kereta.
Di tikungan ini ada jalan pintas yang menuju taman utama Umpherston Sinkhole. Memang bukan jalan utama, karena harus melewati beberapa tanjakan yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Aku menoleh sebentar sebelum turun ke jalan tikus. Tatiana melambaikan tangannya, dan aku membalasnya sekilas.
Senang sekali rasanya berada di luar sini. Bibirku tersenyum lebar. Mungkin memang benar kata Tatiana, aku lebih cocok jadi orang hutan. Hahahaha.
Langkahku mantap menuju tanjakan berbatu. Seingatku dulu, Mama menambatkan kudanya tepat di sini. Setelah itu kami naik bukit batu di hadapanku ini.
Usai menaiki bukit batu, terpampanglah hamparan indah Umperston Sinkhole. Aku tidak yakin rombongan kelas Mr. Avindale akan berani turun ke bawah. Para Lady akan sangat kesulitan dengan gaun mekarnya masing-masing. Paling-paling mereka melukis di pelataran dekat air terjun. Namun dengan pakaian dan sepatu boot yang kukenakan, pasti bisa mencapai lorong rahasia.
Perlahan kuturuni jalan setapak yang sedikit licin karena berlumut. Seingatku dulu tidak sehijau ini saat Mama mengajakku ke mari. Sekarang tempat ini benar-benar indah, semacam secret garden.
Embusan udara mengibarkan rambutku yang tergerai hingga menutupi mata. Lelehan keringat di pelipis membuat beberapa rambut lengket. Aku mengusapnya dengan segera, tapi sia-sia. Udaranya sangat panas.
Tak menunggu lama, aku bergerak menuju satu spot rahasia--hanya Mama dan aku yang tahu. Sengaja kuikuti arah datangnya embusan udara itu berasal. Ingatanku mengulang kembali setiap detil tempat yang pernah Mama tunjukkan. Kata Uncle John, ingatanku memang sedikit mengerikan. Aku hampir bisa selalu mengingat hal-hal secara detil. Namun anehnya, aku tidak bisa mengingat bagaimana Mama dan Papaku meninggal. Seolah ingatan tentang bagian itu terhapus begitu saja.
__ADS_1
Begitu tiba di dekat dinding basah yang tertutup lumut dan tanaman rambat, aku berhenti. Ransel kulepas dari punggung dan menentengnya dengan satu tangan. Perlahan dan hati-hati kakiku mendekati satu sisi dinding licin yang tertutup tanaman rambat. Tidak akan ada yang tahu, di balik rerimbunan itu ada sebuah celah vertikal seukuran orang dewasa, mirip sebuah gua.
.... bersambung....