
....
Begitu tiba di dekat dinding basah yang tertutup lumut dan tanaman rambat, aku berhenti. Ransel kulepas dari punggung dan menentengnya dengan satu tangan. Perlahan dan hati-hati kakiku mendekati satu sisi dinding licin yang tertutup tanaman rambat. Tidak akan ada yang tahu, di balik rerimbunan itu ada sebuah celah vertikal seukuran orang dewasa, mirip sebuah gua.
Berbekal ingatan yang hanya sepotong-sepotong, aku masuk dalam gua kecil itu. Berjalan menyusuri lorong yang agak lembab ini, tak kuhiraukan sarang laba-laba yang melintang di sini sana dan tersangkut pada rambut. Aku terus melangkah menuju cahaya di depan yang terlihat semakin terang.
Embusan angin semakin kencang tatkala mendekati ujung lorong. Kelopak mataku spontan menutup sebelum tiba di bibir gua. Cahaya matahari terlalu tajam menyorot.
Perubahan intensitas cahaya agak membingungkan, rasanya lebih silau di sini. Setelah pupil mataku mampu beradaptasi, tidak ada yang bisa kulakukan selain mematung. Bahkan, ranselku pun terlepas dari pegangan.
Pemandangan alam di sisi lain
__ADS_1
Umpherston Sinkhole sangat menakjubkan. Persis seperti terakhir Mama mengajakku kemari.
Ujung lorong tempatku berdiri adalah sebuah tebing batu. Di bawah sana terhampar ngarai penuh bunga liar. Tidak jauh dari tempatku berdiri terlihat bebatuan besar kecil yang mengelilingi sebuah danau berair jernih.
Air danau itu berasal dari puncak pegunungan batu yang terjun bebas. Percikannya menyemburkan bias cahaya, membentuk lengkungan warna warni yang indah.
Inilah The Heaven's Secret Garden, kata Mama.
Bunga-bunga liar yang berwarna warni membuatku terpesona. Sambil berjalan aku menghidu beberapa bunga mawar liar yang berwarna magenta dan kuning cerah. Aromanya yang lembut sangat aku suka, hanya saja harus tetap berhati-hati pada duri tersembunyi.
Setelah tiba di depan danau, buru-buru kulepas sepatu dan membiarkan kaki telanjang merasakan sejuknya air. Tidak ketinggalan kedua tangan kucelupkan juga. Setangkup air kubasuhkan pada wajah, sangat segar.
__ADS_1
Berwadah tangkupan kedua telapak tangan, kuminum air segar itu. Kesejukan itu pun membasahi kerongkongan dan menghilangkan dahaga. Airnya terasa sedikit manis, dan sungguh berbeda. Seandainya saja aku bisa tinggal di sini, pasti sangat menyenangkan. Luar biasa, seperti di surga.
Aku menegakkan tubuh, kembali memandangi sekitar. Terlihat jelas tempat ini belum terjamah manusia. Aku membayangkan, jika mereka menemukannya, pasti keindahan ini akan segera musnah.
Saat bersama Mama kemari. Kami bermain cipratan air, juga akhirnya berbasah-basahan. Tidak lupa pula, aku memunguti beberapa batu warna warni yang berserakan di dasar danau. Ada yang warnanya pekat ada juga yang tembus cahaya. Mama bilang aku hanya boleh mengambil beberapa, tidak boleh serakah. Sampai sekarang, batu itu aku simpan dalam kotak perhiasan.
Aku kembali berjongkok dan mengamati dasar danau yang jernih, berharap menemukan batu unik itu lagi. Namun sepertinya hanya ada batu hitam biasa saja. Perlahan kususuri pinggiran danau hingga kedalamaan air setinggi betis, mengabaikan ujung celana berkuda yang mulai basah. Yeay, akhirnya aku menemukan satu batu berwarna merah cerah.
Sembari berdiri kuarahkan batu itu ke langit. Cahaya menembusnya, indah sekali.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara seorang laki-laki membuatku menoleh. Serta merta kusembunyikan batu sebesar ujung jempol itu dalam genggaman.
__ADS_1
.... bersambung .....